Semua Bisa Patah Hati
Entah apa yang harus aku lakukan, mungkin hanya akan berdiam diri di kamar Janis atau mengelilingi setiap sudut ruangan di rumah ini. Janis dan Sasya tidak aku lihat saat aku bangun tadi. Ini memang masih hari Kamis, pasti mereka sudah berangkat pagi-pagi sekali ke kampus. Saat aku bangun tadi, memang hari sudah agak siang sekitar jam 11, dan aku tidak menemukan siapa-siapa di rumah ini, mungkin hanya mbok Sri yang terlihat sibuk di dapur.
“Pada kemana ya mbok, kok sepi amat ?”
“Udah pada berangkat semua neng, kecuali Ujang Wendy tuh, ada di studio lukis sama awewe” Kata Mbok Sri sambil terus memotong-motong bawang, matanya tampak sedikit berair.
“Oh gitu ya mbok” Aku pun berlalu dan meninggalkan Mbok Sri.
“Eh neng udah sarapan belum?” Aku memutar balik badanku dan menggelengkan kepala.
“Ntar mbok bikinin nasi goreng yah?”
“Makasih Mbok” Ucapku lalu meninggalkannya.
Suasana seperti ini tidak membuatku nyaman.
Mungkin bagi sebagian orang jika mengalami suatu masalah patah hati, mereka biasanya ingin menyendiri. Tapi bagiku tidak. Aku ingin ditemani seseorang, jika seperti ini aku malah bingung sendiri, melangkahpun seperti melayang.
Kulangkahkan kaki mengikuti kehendaknya, tiba-tiba dari satu ruangan sayup-sayup aku mendengar suara orang sedang mengobrol,eh tapi tunggu dulu.. tampaknya bukan hanya sekedar mengobrol tapi lebih kepada pertengkaran.
“Lebih baik sekarang kamu pergi !”
“Tapi Wen kamu tuh salah paham. Aku gak mau pergi, aku mau tetep disini” Suara wanita itu makin jelas terdengar seperti memohon.
Aku mendekati ruangan itu, saat ini aku berada di halaman dan aku mengintipnya dari jendela luar. Ternyata itu adalah studio lukis milik Wendy, karena aku melihat banyak sekali lukisan yang terpajang dimana-mana bahkan Wendypun sedang duduk didepan karton dan memegang kanvas lalu mencoret-coret karton itu, entah apa yang sedang dilukisnya.
Seorang wanita yang tadi kudengar suaranya adalah Dira, setahuku dia adalah pacarnya Wendy, bahkan kudengar mereka akan merencanakan untuk menikah.
“Aku udah gak mau denger, pergi sekarang juga !!” Ketus Wendy, namun wajahnya tidak berpaling pada Dira yang saat ini sedang berlutut di sampingnya.
“Tapi Wen aku gak bisa hidup tanpa kamu” Kini Dira menangis dan memeluk tubuh Wendy. Wendy pun menolak dan mendorong Dira sampai jatuh.
Aku kaget melihatnya, baru kali ini aku melihat Wendy meledakan amarahnya bahkan menyakiti seorang wanita.
“PERGI SEKARANG !!!!” Bentak Wendy
Makin deras air mata Dira mengalir, tatapan yang tadinya memohon dan menggambarkan suatu permintaan maaf yang teramat dalam, kini sepertinya menjadi tatapan yang penuh dengan kebencian.
Dira pun bangun dari jatuhnya dan meninggalkan Wendy.
Aku buru-buru pergi takut kalau sampai Dira atau Wendy mengetahui aku yang sedang mengintip tadi.
“Arggggkkhhhh !!!!” Wendy berteriak di barengi dengan suara perabotan yang berjatuhan. Aku kembali mengintipnya di balik jendela. Wendy tampak sangat kacau, dia menjatuhkan semua perabotan dan merusak sebagian lukisannya. Kenapa dia??
JJJJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar