Karya : EL

Selasa, 22 November 2011

Part 7.3

Bukan Akhir Dari Segalanya



Pelan-pelan aku melangkah menaiki setiap anak tangga, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun, walaupun memang sulit. Sampai akhirnya aku tiba di depan kamar yang pintunya selalu tidak tertutup rapat sehingga ada celah untuk aku bisa mengintipnya.
Di depan pintu itu tertempel tulisan ‘Stop !! Ini Kawasan Wendy’ aku tidak menggubrisnya, malah aku melongokan kepalaku ke dalam kamar. Sudah aku duga, dia masih duduk dikursi roda itu masih menatap ke arah luar jendela.
Aku pun membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Aku berjalan menghampirinya pelan-pelan, sambil melihat ke sekeliling kamar. Rupanya lukisan gambar Dira sudah tidak ada. Entah kenapa ada kepuasan dalam batinku, tapi aku segera menepisnya.
Wendy masih belum menyadari keberadaanku.
“Kak?” Sapaku pelan, saat aku sudah berada disampingnya.
Wendy menengok ke arahku “Eh Vio, akhirnya kamu datang juga ya. Kakak udah nungguin kamu dari tadi”
Aku merasa Wendy sangat antusias, mungkin karena aku telah memberikan harapan kepadanya untuk bisa melukis lagi. Oh Tuhan, aku gak mau Wendy kecewa.
“Berkat kamu Vi, sekarang Kakak lebih bersemangat untuk ngejalanin hari-hari Kakak. Sekarang Kakak yakin bisa sembuh.” Ucapnya.
Tanpa sadar aku menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.
“Ehmmm... iya iya Kak, Kakak pasti bisa sembuh”
“Iya Vio, Yaudah mending sekarang kita ke studio lukis yuk. Semenjak kecelakaan itu, Kakak belum pernah masuk ke sana lagi”
“Eh iya iya Kak..” Aku langsung memutar kursi rodanya ke belakang dan membawanya menuju studio lukis milik Wendy.
Setibanya di sana, tampak studio itu kini lebih rapi. Mungkin karena Wendy sudah tidak bisa melukis lagi sehingga studio itu tidak terpakai dan hanya dibersihkan saja ruangannya oleh si Mbok.
“Hmmhh.. ini terlalu rapi” Gumam Wendy.
“Kenapa Kak?”
“Iya seharusnya studio lukis itu nggak serapih ini, jadi gak ada seninya Vi” Ucap Wendy sambil terus memandang ke sekeliling ruangan.
“Kakak mah ada-ada aja. Berarti yang namanya seni itu harus kotor dan berantakan ya?” Tanyaku sedikit tertawa, sambil mendorong kursi rodanya menuju kanvas kosong.
“Ya gak gitu juga Vi hehehee...” Wendy malah tertawa malu. “Beneran nih Vi, Kakak bisa ngelukis lagi?” Tanya Wendy sambil memandangi kanvas kosong tadi dengan penuh harapan.
Aku berjalan dan merunduk di sampingnya.
“Seni itu datangnya dari hati dan fikiran. Tangan, Kaki, dan alat jasmani lainnya, itu hanya sebuah alat” Ucapku sambil memegang lembut tangannya. “Kakak harus yakin !!” Bisiku ditelinganya.
Aku beranjak menyiapkan alat-alat untuk melukis. Aku yakin, aku bisa melakukannya.
Aku memegang koas yang sudah di celupkan kedalam cat warna lalu aku meraih tangan Wendy. Aku berusaha mencengkramkan koas itu di genggaman Wendy dengan tanganku.
“Sekarang Kakak pejamkan mata Kakak. Bayangkan apa yang ada di fikiran Kakak lalu gambarkan”
Wendy memejamkan matanya. Aku menggenggam erat dan menggerak-gerakan kepalan tangan wendy yang sedang mencengkram koas, berusaha seolah-olah dialah yang menggerakan sendiri tangannya.
Aku berusaha masuk ke fikirannya. Aku ingin tau apa yang sedang di fikirkannya. Tapi aku tidak bisa. Aku bingung, harus menggambar apa. Aku malah menggambar garis-garis tidak beraturan.
Aku ingin menangis, saat Wendy membuka matanya pasti dia akan sangat kecewa, pasti !!
“Udah Vi? Kakak boleh buka mata sekarang?” Pertanyaan Wendy sontak membuatku bingung.
Dengan suara parau dan tidak yakin akhirnya aku membolehkannya membuka mata “Iya.. Boleh kak”
Perlahan Wendy membuka matanya.
“.......” Wendy terdiam
“Maafin aku Kak, aku... aku... aku gak bisa buat Kakak seneng. Aku malah ngecewain Kakak” Tangisku meledak.
“Vio...”
Aku hanya menangis sambil bersimpuh di sampingnya.
“Vio, dengerin Kakak. Kakak bisa menyampaikan isi fikiran Kakak lewat kamu Vi. Kakak bisa ngelukis lagi” Suara berat Wendy terdengar seperti takjub.
“Maksud Kakak ??” Tanyaku  masih gak mengerti. Sambil menghapus air mata dengan tanganku.
“Kamu liat, garis-garis yang kamu buat tadi menggambarkan kekalutan hati dengan garis-garis yang saling berbelit kesana kemari tanpa arah”
“Terus?”
“Itu yang memang sedang Kakak fikirkan Vi. Kakak memang lagi kalut, fikiran Kakak gak bisa fokus, yang ada difikiran Kakak hanya ada garis-garis yang tidak beraturan. Makasih ya Vi, cara kamu berhasil.” Wendy tersenyum ke arahku.
Aku sendiri bingung dan kaget. Apa benar semua yang diucapkan oleh Wendy tadi, atau dia hanya tidak ingin membuatku kecewa dan menangis.
“Udah ah jangan nangis lagi, jelek tau hehe... sini biar tangan Kakak yang usap air matanya”
Aku tersenyum malu, lalu meraih tangannya dan mengusapkannya ke wajahku.
“Sini coba liat mukanya, udah gak nangis lagi kan”
Saat aku menyadari, ternyata wajah kami berdekatan, tiba-tiba jantungku memompa lebih kencang dan berdegup lebih cepat.
Tanganku masih menggenggam tangannya, hangat rasanya. Entah kenapa, kami terdiam, mata kami saling bertatapan. Aku gak bisa melepaskan pandangan ini, dan saat ini aku terpaku.
Wajahnya kini mendekat, aku hanya bisa memejamkan mata dan aku merasakan hangat bibirnya berpagutan dengan bibirku. Hembusan nafasnya terasa begitu dekat. Aku gak bisa berhenti, aku ingin terus bersamanya. Aku mulai merasakan getaran perasaan itu.
Tiba-tiba aku tersadar. Ini gak boleh terjadi. Sontak aku melepaskannya dan mendorong Wendy pelan.
“Ini kesalahan Kak, ini gak boleh terjadi” Ucapku masih tak percaya dan hanya menunduk tak berani melihat wajahnya.
Mungkin saat ini muka ku telah merah padam. Aku malu
Lama kami terdiam, tak ada sepatah katapun yang kami ucapkan
“Vio” Suara berat itu memulai percakapan
Aku memberanikan diri melihat wajahnya.
“Maafin Kakak ya Vi, gak seharusnya hal itu terjadi. Kakak udah lancang Vi, maafin Kakak” Ucapnya penuh dengan penyesalan.
Aku hanya diam, entah kenapa aku jadi salah tingkah. Aku bingung harus menanggapinya seperti apa.
“Lupain aja Kak, hehee... jadi kaku gini sih” Aku menguatkan diri lalu berusaha bersikap seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa yang tadi kita lakukan.
“Maafin Kakak Vi”
“Udah lah kak, lupain aja. Ayo sekarang kita ready ke kamar Kakak. Waktunya Kakak istirahat” Ucapku berusaha terlihat ceria sambil berdiri menghampirinya dan mendorong kursi rodanya menuju kamar Wendy.
“Makasih ya Vi” Ucapnya sambil meneloh ke belakang dan tersenyum.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman, berusaha menutupi degupan jantungku yang masih terlalu cepat berdetak. Kejadian tadi akan sangat sulit aku lupakan. Walaupun aku akan terus berusaha mengganggap hal tadi tidak pernah terjadi.

JJJJ

Sabtu, 19 November 2011

part 7.2

Bukan Akhir Dari Segalanya




Do you have the time
To listen tell me why
About nothing and everything
All at once...

Terdengar suara alunan lagu Basket Case nya Greenday dari Handphone ku. Aku yang saat itu sedang duduk di teras kosan sambil melihat anak-anak kecil yang bermain bola di jalanan yang hanya setapak, berebut dengan orang-orang yang lewat dan motor-motor yang berlalu lalang. Dengan terburu-buru aku berlari ke dalam kamar dan mengambil Hp yang terletak di kasur. Terlihat di layar Hp Janis memanggil.
“Halo” Ucapku.
“Vio, ada yang mau ngomong nih”
“Siapa?”
“Ehm.. hai Vi” Terdengar suara berat yang tak asing lagi bagiku.
“Oh iya Kak, gimana kondisi Kakak?” Tanyaku, entah kenapa agak gugup.
“Jauh lebih baik Vi”
“Syukurlah” Senyum mengembang di sudut bibirku.
“Vio, Kakak pengen ngelukis lagi” Suaranya sedikit lebih parau.
“Ehm.. ya Vio tau Kak. Kakak bisa kok ngelukis lagi”
“Caranya?”
“Nanti aku kasih tau besok yah. Besok aku ke rumah Kakak” Ucapku mencoba membuat Wendy bahagia, dan sepertinya berhasil.
“Kakak tunggu ya Vio, makasih buat segalanya. Kakak merasa lebih tenang kalau udah denger suara kamu” Perkataan Wendy membuat hatiku seperti digelitik.
Kana masuk kamar dan menatap heran ke arah ku yang tak sadar senyum-senyum sendiri dan mungkin ada rona merah di pipiku.
“See u Vio”
“See u too Kak” Aku letakan Handphone di atas kasur kembali.
“Ih Vio, kenapa nih? Kok seneng gitu sih, abis di telfon sama siapa?” Goda Kana sambil menempelkan jari telunjuknya di hidungku.
Aku hanya mendelik ke arahnya dan meninggalkannya menuju teras kembali. Kana tampaknya penasaran dan mengikuti dari belakang sambil mengintil dengan pertanyaan-pertanyaannya.
“Ih Vio !!!” Kesalnya karena aku tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan bodohnya.
“Hahaha, kenapa sih Kana sayang?”
“Kok malah nanya balik sih, gue tuh lagi nyium bau-bau cinta dari lo”
“Bau cinta? Masa sih Na?” Aku agak sedikit kaget dengan ucapan Kana.
“Iya Vio, ayo jujur sama gue. Lo suka ya sama Kak Wendy?” Aku diam dan entah kenapa mukaku seakan panas. “Okk gak perlu jawab. Dari rona merah di pipi lo, itu udah ngejawab semuanya hahaa..”
“Ihhh Kana, apaan sih?”
“Hayooo, lo gak bisa boongin gue Vi !!!” Kana duduk disebelahku sambil memainkan dan menggulung kecil-kecil rambutku dengan telunjuknya.
“Gue gak tau Na, tapi gak mungkin lah gue nyimpen perasaan sama Wendy. Dia udah gue anggap seperti kakak gue sendiri Na”
“Hmmhh.. perasaan itu datangnya dari hati Vi, bukan dari pikiran. Jangan boongin hati lo” Kana tersenyum teduh kepadaku. “Sekarang coba lo jujur sama gue, apa yang lo rasain saat berhadapan sama Wendy?”
Aku diam sejenak. Jujur aku gak bisa menyimpulkan perasaan apapun, yang dirasakan saat aku berhadapan dengan Wendy. Semuanya terasa aneh.
Aku menggelengkan kepala.
“Gue gak tau Na, gue gak ngerti. Mungkin hanya empati, simpati atau...... hmhhhh” tak sadar aku mendenguh pelan.
“Ya.. ya... ya.. gue tau mungkin gak secepat itu lu nyimpulin perasaan apapun. Gue cuma seneng aja, akhirnya lo bisa ngelupain Eza, apa mungkin salah satu faktornya karena Wendy?”
“Nggak tau lah Na, gue bingung” Aku menelungkupkan wajah di pundak Kana.
“Hahahaha... dasar lo Vi. Ya apapun yang terbaik buat lo, gue pasti dukung kok. Gue seneng kalau liat lo seneng”
Aku tersenyum ke arahnya. Mudah-mudahan aku bisa menjawab semua perasaan ini, dan segera menceritakan bahkan memastikan pada sahabatku Kana kalau aku sedang jatuh cinta, mungkin.

Senin, 29 Agustus 2011

part 7.1

Bukan Akhir Dari Segalanya






Aku memandanginya dari sudut pintu kamar, melihat dirinya yang sedang terduduk di kursi roda memandang ke arah luar jendela, mungkin di fikirannya semua masalah sedang menari-nari. Tubuh itu kini renta, tak berdaya. Sosok itu kini harus bersahabat dengan kursi roda yang akan menjadi pelengkap agar dia bisa terus menjalani kehidupan.
Aku menghampirinya dan berdiri di sampingnya. Dia menoleh ke arahku dan menyambutku dengan senyuman khas nya, senyuman yang tak pernah hilang walaupun keadaan sudah berbeda saat ini.
“Vio” Suara berat itu menyapaku.
Aku memandanginya, lalu aku merunduk mencoba memperlihatkan senyuman yang sangat tulus.
“Kakak lagi apa? Jangan-jangan lagi mikirin aku yah” Godaku.
“Hmmhh..” Wendy hanya tersenyum.
Sebetulnya aku tau apa yang sedang difikirkannya. 5 hari bukan waktu yang cukup untuk menerima kenyataan kalau dirinya saat ini sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ya, 5 hari yang lalu dia harus menerima kenyataan dan harus mengubur impian-impian yang selama ini dia rajut.
5 hari yang lalu, sepertinya adalah hari yang sangat menakutkan untuk kita semua. Tante Broto menangis tak henti-henti saat dokter menyatakan kalau kedua tangan dan kaki Wendy lumpuh.
Wendy terus mengumpat dan mencaci maki Dira di ranjang tidurnya. Rupanya kecurigaanku sama dengan Wendy. Aku hanya bisa memandangi mereka dengan pilu.
“Kakak pengen ngelukis lagi Vi” Tiba-tiba Wendy menyadarkan lamunanku.
“Bisa kok” Jawabku singkat, sambil melirik nakal ke arahnya.
“Caranya?”
“Hmmhh.. rahasia”
“Hahaha.. kamu ini, pasti cuma ngehibur Kakak doang yah?”
“Aku serius” Jawabku, sebenarnya aku memang hanya ingin menghiburnya. Tapi aku yakin, aku dapat menemukan caranya.
“Terus??”
“Tapi jangan sekarang, nanti aja ya. Supaya Kakak penasaran” Kilahku.
“Vio, Kakak sekarang gak berguna. Mungkin sekarang Kakak hanya sampah atau benalu yang hanya merepotkan kalian aja”
“Kakak ngomong apaan sih? Jangan pesimis kayak gitu dong Kak”
“Tapi emang gitu kenyataannya Vi, liat sekarang. Apa yang bisa Kakak lakuin, Cuma duduk di kursi roda seharian, sampai kapan? Seumur hidup Kakak, Kakak hanya kayak gini. Apa bedanya sama sampah, Kakak gak bisa ngebahagiain semuanya, Kakak hanya jadi penderitaan semua orang”
“Kakak salah besar, ada kok yang bisa Kakak lakuin”
“Apa?”
“Kakak bisa ngebahagiain kita semua dengan ketegaran Kakak, Kakak bisa ngebuat kita tersenyum dengan senyuman Kakak, Kakak akan membuat kita menderita dengan tangisan Kakak, dan Kakak akan membuat kita hancur dengan kehancuran hati Kakak”
Wendy menangis dan terus menangis “ Kakak Janji ini tangisan terakhir Kakak, demi kalian semua”.

   JJJJ

“Komunikasi akan terjadi berawal dari komunikator yang menyampaikan isi pernyataan kepada komunikan, komunikan itu sendiri merespon dengan melakukan atau tidak melakukan feedback” Pak Wahyu terus saja mengulang kata-kata itu di mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK). Ya tapi ini membuat kami para mahasiswa menghafalnya di luar kepala.
Saat ini otakku tampaknya tidak bisa langsung menyerap apa yang sedang pak Wahyu jelaskan. Fikiranku tampaknya sedang berjalan-jalan ke arah Bogor dan mencari-cari sosok Wendy, aku khawatir padanya, semoga dia baik-baik saja.
Aku berusaha memahami semua pelajaran yang masuk, tapi ilmu itu selalu terpental jauh dan tidak masuk ke dalam otakku. Uh, ini membuatku tidak tenang. Sampai pada akhirnya jam kuliah pun telah usai, dengan terburu-buru aku meninggalkan kelas itu.
“Vio” Panggil seseorang dan aku berhenti.
“Kenapa Dy?”
“Temenin gue makan yuk di kantin !” Ajak Ady, aku hanya mengangguk.
Sesampainya di kantin,
“Lo mau mesen apa Vi”
“Gue gak makan, minum aja” Ucapku.
“Ibu, pesen batagor nya satu, sama teh botolnya dua yah” Lalu kami pun duduk di kursi.
“Hmmmhh” Tak sadar aku mendengus.
“Lo kenapa sih Vi? Dari tadi gue liat di kelas, fikiran lo kayak gak fokus. Lagi mikirin apaan sih?”
“Nggak kenapa-kenapa kok Dy”
“Boong, pasti istri Eza atau Eza ganggu lo lagi ya?”
“Bukan, bukan itu Dy, ini tentang Kak Wendy”
“Kak Wendy?” Tanya Ady heran, berbarengan dengan datangnya makanan yang tadi dipesannya. “Makasih bu” Ucap Ady.
“Iya Kak Wendy, dia lumpuh sekarang. Gue khawatir banget ma dia” Ucapku sambil menyeruput minuman.
“Hmmh, emangnya gak ada harapan buat sembuh ya?”
“Dokter sih bilang kemungkinannya kecil. Tapi gue sih yakin Kak Wendy bisa sembuh Dy” Ucapku sambil menyuap batagor mililk Ady ke dalam mulutku.
“Iya lah Vi, semuanya Tuhan yang nentuin bukan Dokter”
“Eh iya gue tuh punya kecurigaan, tapi gue takut ngomongin ke orang soalnya gue gak punya bukti yang kuat”
“Kecurigaan apa?”
“Gue curiga kalau kecelakaan itu emank sengaja di rencanain”
“Maksudnya?”
“Dira ada di belakang semua ini. Kak Wendy pun berfikiran sama ama gue”
“Dira tunangannya Wendy? Kok bisa?”
“Ihh dia bukan tunangannya Kak Wendy lagi tau”Ucapku setengah ngotot.
“Lah kan gue gatau haha... kok lo jadi ngotot. Nah lo, ada something-something nih kayaknya hahahaaa” Ady memandang nakal ke arahku.
Something-something apaan sih.”
“Cieeeee, mukanya merah tuh.. ketauan banget sih, malu yah.” Ady terus saja menggodaku.
Aku dengan malu menutup muka dengan kedua tanganku, sepertinya ada yang salah dengan perasaanku. Kenapa ini?

Jumat, 26 Agustus 2011

Part 6.2


Kembalilah Senyuman Itu...







Aku terbangun dari mimpi itu. Rupanya aku tertidur.
“Vio.. Vio.. !!” Suara berat itu. Suara Wendy.
Aku langsung terlonjak dari tidurku. Aku yang tak sengaja tertidur di samping Wendy sambil menelungkupkan kepala dan tanganku di kasurnya langsung berdiri dan menatap Wendy.
“Kak Wendy !! Kakak udah sadar?” Ucapku dengan suara yang masih agak serak.
Wendy hanya mengangguk lemah.
Aku langsung menghampiri Sasya dan Janis yang tertidur di sofa.
“Janis.. Sasya.. bangun bangun !!” Ucapku sambil menggoyang-goyangkan badan mereka satu persatu.
Sasya hanya menggeliat, tapi Janis tampak mulai membuka matanya.
“Apaan sih Vi?”
“Kak Wendy sadar, cepetan bangun ihhh!!” Kataku agak kesal, dan masih menggoyang-goyangkan tubuh mereka terutama Sasya.
“Apa Kak Wendy sadar?” Janis langsung tersadar dan membangunkan Sasya “Sya bangun Sya.. Kak Wendy udah sadar”.
Sasya langsung terlonjak dari tidurnya dan terduduk. “ Hah Kak Wendy sadar?”
“Cepetan bangun bangun ah..” Ku tarik tangan mereka berdua membawanya ke hadapan Wendy.
“Vio.. Janis.. Sasya... kenapa ini?” Tiba-tiba Wendy cemas.
“Kenapa kak?” Ucapku sambil menghampirinya.
“Iya kenapa kak?” Janis dan Sasya juga menjadi panik.
“Ini Vi, Kakak gak bisa ngerasain kaki sama tangan, dua-duanya gak bisa digerakin”
Aku langsung mendekatinya dan menyentuh tangan Wendy. Wendy menggelengkan kepala.
“Sya, cepetan panggil dokter !” Sasya mengangguk dan setengah berlari dia meninggalkan ruangan.
“Kakak jangan panik ya, Kakak pasti baik-baik aja” Kata Janis.
“Baik gimana Jan, Kakak gak bisa ngegerakin semuanya. Kakak lumpuh !!!”
“Syyyyt kakak jangan ngomong kayak gitu yah !!” Ucapku sambil menutup mulutnya dengan satu jari. “Jan telfon Om sama Tante, kabarin mereka kalau Kak Wendy udah sadar”
Janis langsung mengeluarkan Hp nya dan menghubungi Om Broto.
“Vio, hidup kakak sekarang gak berguna” Ucap Wendy. Nada suaranya masih terdengar sangat lemah.
“Kakak gak boleh ngomong kayak gitu, aku yakin Kakak baik-baik aja”
Aku tau suasana hatinya, aku seakan bisa masuk ke dalam perasaannya. Seorang Wendy bisa menangis, ya ternyata seorang lelaki bisa menangis saat dirinya merasa tidak berguna.
Tak lama seorang lelaki berkacamata lengkap dengan peralatan medisnya membuka pintu kamar, Sasya dan dua orang suster berada di belakangnya. Ya, dia dokter yang akan memeriksa kondisi Wendy.
Wendy memandang ke arahku, dan aku mengangguk ke arahnya seolah-olah berkata Tenang Kak semuanya akan baik-baik aja.
Dokter itu memukul mukul lutut Wendy, namun Wendy menggeleng. Dia masih belum bisa merasakan apa-apa. Beberapa lama dokter itu masih terus memeriksa Wendy, kami ber tiga hanya duduk diam di sofa dan menatap kosong ke arah mereka.
“Hmhh.. kalian keluarganya Wendy?” Dokter itu menghampiri kami.
“Iya, kami adiknya”
“Orang tua kalian mana? Ada yang mau saya bicarakan”
“Lo udah telfon mama sama papa kan Jan?” Tanyaku
Janis hanya mengangguk meng’iya’kan.
“Yaudah, Wendy sudah saya beri obat penenang, nanti kalau orangtua kalian udah datang, saya tunggu di ruangan saya.” Dokter dan kedua perawat itu meninggalkan ruangan.
Wendy tampaknya tertidur setelah di berikan obat penenang oleh dokter tadi.
“Gue khawatir!!” Ucapku sambil menghampiri Wendy yang sedang terbaring
“Sama gue juga Vi” Kata Janis.
“Ya sekarang kita berdoa aja, semoga Kak Wendy gak kenapa-kenapa ya” Sasya menenangkan suasana. Aku tersenyum. Ya mudah-mudahan Wendy gak kenapa-napa. Doa ku dan orang-orang terdekatnya akan selalu menyertainya. 

Minggu, 14 Agustus 2011

Part 6.1


Kembalilah Senyuman Itu...



Suara detak jantungku lebih cepat dari langkah kakiku. Aku susuri setiap lorong rumah sakit ini mencari ruangan dimana Wendy dirawat. Aku khawatir dan sangatlah khawatir... Aku berharap saat aku membuka pintu, Wendy yang sedang terbaring bisa tersenyum kepadaku dan berkata Kakak gak apa-apa Vio dan semua yang hadir disitu juga tersenyum tanpa tangisan.
Ya aku berharap seperti itu...
Aku percepat langkah kakiku. Rasa khawatir ini terus menderaku.
Suara bencana itu terus mengiang di telingaku, Wendy kritis, Wendy tidak bsia diselamatkan. Terus dan terus suara itu tak henti-hentinya berbicara.
Aku berlari ke ujung bangsal, melihat berkeliling dengan kalut.
Dan tibalah aku di depan ruangan tempat Wendy di rawat. Aku terdiam sebentar, ragu-ragu saat aku akan masuk ke dalamnya, mengapa aku agak sedikit ketakutan menghadapi kenyataan, tapi aku harus kuat. Aku percaya Wendypun kuat dan dia gak akan kenapa-kenapa.
Aku buka pintu ruangan itu, ya dan aku melihat Wendy terbaring lemah di depanku dengan kabel infus dan alat bantu pernapasan menempel di badannya dan orang-orang yang dikasihinya berdiri mengelilingi. Senyuman yang kuharapkan itu tidak ada, bahkan sapaan khas dari Wendy juga tidak ada.  Dia terbaring amat diam.
Semua yang berada di ruangan itu, Janis, Tante dan Om Broto, menatapku dengan rasa pilu. Aku masih berdiam di ambang pintu. Ku langkahkan kaki perlahan, sangat berat sekali. Terlihat air mata masih menggenang di pelupuk mata Tante Broto.
“Vio” Ucap Tante Broto lirih.
Aku mendekat dan menghampiri Tante Broto yang berdiri tepat di sebelah Wendy yang sedang terbaring.
Aku menatap Tante Broto dan menyeka air matanya.
“Tante harus kuat, Vio yakin Kak Wendy kuat dan bisa ngelaluin ini semua” Ucapku lalu memandang ke arah Wendy. Ingin sekali aku membelai lembut wajahnya yang kini penuh dengan luka. Hati ini ingin menangis, tapi aku gak mau membuat Tante Broto makin sedih.
“Kak Wendy berhasil lolos dari masa kritisnya Vi” Ucap Janis dan seketika membuat hatiku agak sedikit tenang.
“Syukurlah” Ucapku sambil tersenyum ke arah Tante Broto.
“Ya udah Mah, mending sekarang Mama sama Papa pulang aja. Dari semalam Mama gak tidur kan, sekarang kalian istirahat aja dulu. Biarin Aku sama Vio yang jagain Kak Wendy di sini, lagian sebentar lagi Sasya juga bakal kesini” Ucap Janis.
Tante Broto mengangguk.
“Kamu gak apa-apa kan Vi, kalau di sini dulu jagain Wendy”
“Gak apa-apa Tante. Tante tenang aja ya” Ucapku sambil mengelus lembut pundak Tante Broto.
“Ya udah kalian baik-baik disini ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi Om” Kata Om Broto sambil merangkul istrinya.
“Iya Pah, hati-hati di jalan yah”
Mereka berdua pun meninggalkan kami.
Janis sudah tampak lelah. Dia merebahkan dirinya di sofa yang terdapat di ruangan ini.
Dan aku sendiri, duduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang Wendy.
“Kejadiannya kapan Jan?” Tanyaku sambil terus memandangi Wendy. Tak sadar tanganku mengelus-ngelus rambutnya.
Kini hatiku merasa lebih tenang ketika mengetahui kalau Wendy sudah bisa melalui masa kritisnya.
“Waktu malem, kata orang-orang yang ngeliat kejadiannya langsung. Ada mobil yang sengaja nabrak motor Kakak.”
“Sengaja??” Ucapku kaget.
“Iya, sekarang pun polisi masih nyelidikin kasusnya”
Tiba-tiba fikiranku langsung mengarah kepada Dira. Ada sedikit kecurigaan diriku kepadanya. Siapa lagi orang yang bisa ngelakuin ini kepada Wendy selain Dira.
“Kayaknya....”
“Kayaknya apa Vi?”
“Hmmhh nggak Vi..” Ku urungkan niatku untuk memberitahukan kecurigaan ini. Aku belum punya bukti yang kuat.
“Ah tadi lo mau ngomong apa cepetan?”
“Kayaknya dari tadi gue gak liat Sasya yah?” Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Oh.. tadi pagi-pagi dia balik ke rumah. Nyiapin barang-barang yang dibutuhin buat di sini”
“Ohh..” Jawabku singkat.

JJJJ

Gelap.. Semuanya kosong, hanya kegelapan yang bisa ku lihat.
Namun aku melihat ada setitik cahaya, jauh di sana. Aku berjalan mendekati cahaya itu, tapi kenapa dia menjauh, semakin jauh, bahkan kini sangat jauh.
Aku berlari mengejarnya. Aku gak mau terperangkap dalam kegelapan ini. Kenapa sulit sekali mencapainya. Aku mulai kelelahan, dan aku terduduk. Sepertinya cahaya itu akan menghilang, dan aku menyerah, ya.. aku lelah.
Tapi tunggu dulu, cahaya itu kini mendekatiku. Semakin dekat dan cahaya itu ternyata berasal dari nya. Seorang anak laki-laki sekitar usia dua tahun berlari ke arahku, bahkan dia memelukku.
Aku balas memeluknya, hangat sekali. Dia mencium pipiku lembut, Manis sekali anak ini.
“Mana Mama sama Papa kamu?” Tanyaku sambil mengelus-elus rambutnya.
Aku memandang ke sekeliling, namun yang ada hanya gelap. Apakah dia terjebak sama sepertiku. Terjebak dalam kegelapan ini, sendirian... tidak.. tidak sendirian lagi, tapi berdua, ya kita berdua.
Aku mendekap anak itu. Kini aku tidak sendiri di dalam kegelapan ini. Anak itu begitu manis dan tampan. Dia membelai lembut pipiku dan tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang baru akan tumbuh. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki.
Semakin mendekat membuatku makin mengeratkan dekapan pada anak itu.
“Maaf, dia anakku !!” Aku langsung mencari arah suara itu.
Tepat seorang wanita berambut sebahu, berdiri dibelakangku yang sedang terduduk dan memeluk anaknya.
“Oh ya, dia anakmu. Sangat manis” Ucapku sambil tersenyum. Anak itu melepaskan pelukanku dan menghampiri ibunya.
Aku lalu berdiri.
Tiba-tiba dari kegelapan, seseorang muncul dan berdiri di belakang wanita itu.
Siapa orang itu, sepertinya aku kenal.
“Papa” Anak itu langsung berlari ke arahnya, ya dan sekarang aku mengenalnya. Wajah itu tidak asing buatku.
“Jadi dia anakmu Eza. Dan dia istrimu?” Nada suaraku agak sedikit bergetar.
Eza hanya mengangguk.
“Kita pergi sekarang” ucap wanita itu sambil mendelik ke arahku.
“Eza, aku ingin memeluk anak itu sekali lagi” Ucapku parau.
Tapi wanita itu menarik Eza, dan mereka menjauh makin menjauh.
Kegelapan lagi yang sekarang menyelimutiku. Aku kini sendiri, aku ingin keluar dari tempat ini. Semuanya sungguh menyakitkan.
“Vio.. Vioo...!!” Aku yakin itu hanya suara bencana yang menertawai keadaanku.
Aku kini sendiri tidak ada siapa-siapa di sini, di kegelapan ini.
“Vio... Vi.. Vio..!!” Tidak itu bukan suara bencana. Suara itu sepertinya aku kenal.
Suara berat laki-laki itu aku kenal. Dia makin keras memanggilku. Ya itu suara dia.. suara Wendy.....!!!

JJJJ

Jumat, 12 Agustus 2011

Part 5.2

Cinta Itu Mengapa Menyakitkan?



Semua orang berdesak-desakan.
Bau keringat dimana-mana, anak kecil yang kepanasan menangis meraung-raung membuat suasana makin tidak mengenakan dan pengap.
Hari Senin memang selalu seperti ini, bis tujuan Jakarta sangatlah penuh dan padat penumpang, bahkan aku sendiri tidak mendapat kursi duduk, dan aku harus berdiri berbarengan dengan mereka yang bernasib sama denganku.
Kejadian ini mengingatkanku pada masa setahun yang lalu.
Saat itu hari masih pagi, namun penumpang bis sudah sangat penuh. Aku harus berdiri karena semua tempat duduk telah terisi. Aku hanya berharap ada seseorang yang mau mengalah dan memberikan tempat duduknya untukku.
Hmmh.. tapi tampaknya gak mungkin, sebagian penumpang yang duduk, tertidur karena mungkin hari masih sangat pagi. Jarak Bogor-Jakarta bisa memakan perjalanan waktu selama satu jam, kalaupun tidak macet, tapi itu membuat tulang persendian kakikku lumayan pegal.
Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek pundakku. Aku sedikit terperanjat dan langsung menengok ke belakang Ternyata seorang bapak-bapak yang badannya sangat kekar tampak seperti Ade rai mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya.
“Terima kasih” Ucapku sambil tersenyum. Namun agak ngeri juga melihatnya.
“Sama-sama Dek, kasian kalau anak cewek harus duduk berdiri” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum, lalu duduk di tempatnya tadi.
Ternyata di sebelahku ada seorang cowok berkacamata dengan memakai sweater abu-abu dan celana pendek selutut. Dia seperti tidak menggubris keberadaanku di situ sama sekali, wajahnya tetap memandang ke luar kaca.
Akhirnya aku bisa melemaskan otot kakiku, setidaknya masih ada orang yang baik hati memberikanku tempat duduk.
“Tadinya gue yang mau ngasih lo tempat duduk, tapi keduluan sama Bapak yang baik hati itu” Aku yang sedang melamun agak sedikit kaget dan langsung melihat ke arah cowok disebelahku itu.
“Barusan lo yang ngomong?” Tanyaku bodoh, karena aku melihat wajahnya tetap menghadap ke arah luar.
Dia hanya mengangguk.
“Ohh..” Ucapku singkat dan bingung sambil menggaruk-garuk dahiku.
Tiba-tiba dia menengok ke arahku dan tertawa kecil.
“Eh kenapa ketawa?” Kataku sambil memandang heran ke arahnya.
“Nggak kenapa-kenapa, muka lo lugu amat sih!” Ucapnya kembali.
“Lugu gimana maksudnya mas,eh bang,ehhh kak?”
“Panggil gue Eza, kayaknya kita seumuran”
“Oh iya Eza, gue Vio” Upps sepertinya dia gak bertanya tentang namaku. Tapi ya udahlah...
“Mau kemana Vi?” Pertanyaan basa basi yang sering aku dengar dari orang lain.
“Pergi ke kampus” Jawabku singkat.
Begitulah, selama perjalanan kami berdua mengobrol ke sana kemari, sampai pada akhirnya dia cerita tentang kehidupan pribadinya. Sangat aneh memang, orang yang baru aku kenal langsung mempercayaiku begitu saja untuk menceritakan sesuatu hal yang sebenarnya sangat pribadi.
Entah kenapa aku  sedikit menaruh rasa kagum terhadapnya, kegigihannya untuk membuat orangtuanya bangga sangat aku acungi jempol, dia rela pergi merantau kemana-mana untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pada akhirnya di Jakarta ini dia mendapatkan pekerjaan yang lumayan layak, yaitu menjadi seorang desain grafis di salah satu perusahaan swasta.
“Macetnya parah. Mending dengerin musik aja nih” Ucapnya sambil memberiku sebelah headset ipod nya.
Aku tersenyum dan menerima tawarannya.
Sambil mendengarkan lagu, aku sempat-sempatnya mencuri-curi pandang ke arah Eza, dia tampak sangat manis, matanya yang tajam memang tersembunyi di balik kacamatanya namun saat dia menatapku, ketajamannya itu masih terasa dan membuat hatiku sedikit bergetar.
Terdengar lantunan lagu dari James Blunt yang berjudul Carry your home, Eza juga tampak ikut bernyanyi tanpa suara.


Trouble is her only friend and he’s back again
Makes her body older than it really is
She say’s it’s high time she went away
No one’s got much to say in this town
Trouble is the only way is down
Down.. down..
As Strong as you were, tender you go
I’m watching you breathing for the last time
A song for your heart, but when itis quiet,
I know what it means and i’ll carry yor home
I’ll Carry your home


Tiba-tiba hp ku bergetar sehingga menyadarkanku dari lamunan saat masa perkenalan aku dengan Eza dulu sekitar setahun yang lalu. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku tau ini bukan waktu yang tepat.
Masih sambil berdiri dan bersandar pada salah satu sisi kursi bis, aku membuka pesan sms yang yang tadi aku terima. Ternyata itu pesan dari Wendy.



From : Wendy’my brothers ^^
Vio km pst lg djln ya?
Maf td kk msh tdr, jd kk gtw klu km dah brgkt
Hti” y djln vi, mksh ya udh mw jd tmn crht kk..
Nnti kt crht”n lgi ya klu kmu ke sni, see u J


Aku tersenyum membacanya.
Selama beberapa hari ini aku menjadi lebih dekat dengan Wendy, dia menjadi lebih sering mencurahkan isi hatinya kepadaku. Masalah dengan Dira membuat hidupnya kacau, dan dia butuh pegangan, saat itulah aku ada dan dia membutuhkanku untuk membuatnya tidak terjatuh dan berpegang pada diriku.
Hp ku kembali bergetar, ada pesan masuk lagi. Dan ternyata masa lalu itu masih terus mencoba membayangiku.


From : Eza my-ex
Pagi, selamat beraktivitas Vio
Luv u ^^

JJJJ

“Udah ceria lagi ya non?” Ucap Ady saat menghampiriku yang sedang duduk di lantai lorong kampus.
Bau parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidungku.
“Ya ampun Dy, lo tuh kalau pake parfum sebotol langsung abis yah”Kataku sambil menutup hidung, bau parfumnya makin jelas kucium saat dia duduk disebelahku.
“Ah lebay lo. Ini tuh Wangi kali bukan bau, gak usah nutup hidung kayak gitu” Kata Ady
“Baunya bikin gue pusing tau gak !!” Ucapku sambil cemberut.
“Hehehe... protes mulu nih si Non”
“Kana mana?”
“Loh kok malah nanya gue, dia kan soulmate lo.” Jawab Ady
“Ih lo mah, kan tadi lo se kelas ma Kana. Gue lagi nungguin dia, katanya mau makan bareng di kantin”
“Mana gue tau.. Sms dong Non Vio sayang, jaman kan udah canggih sekarang heuuuu !!” Ucapnya sambil mencubit pipiku.
Aku menepis tangannya dan meninju pelan pundaknya.
Selalu saja begitu jika aku sedang berdua dengan sahabat terkonyolku itu.
Aku pun merogoh Hp yang ku simpan di kantong celanaku, ternyata ada satu pesan yang aku terima.
Hmmhh ternyata ada pesan MMS masuk, siapa yang mengirimkannya. Aku buka pesan itu dan aku sedikit kaget melihatnya. MMS itu ternyata dari Eza.
“Kenapa Vi?” Tanya Ady karena mungkin secara tak sengaja aku mendengus kecil.
“Ini liat Dy” Ucapku sambil memperlihatkan gambar yang ada di layar Hp ku.
Ady terlihat sedikit kaget melihatnya saat kutunjukan foto tangan yang memiliki tato berukir namaku ‘VIOLETA’. Lalu Ady tertawa kecil, entah apa yang lucu, tapi aku juga ikut-ikutan tertawa.
“Lo hebat ya Vi?”
Aku mendelik heran ke arahnya
“Lo udah bikin cowok itu tergila-gila sama lo, walaupun dia udah punya istri. Dan yang bikin gue salut, kebaikan lo itu udah bikin Eza ngerasa bersalah banget dan dia gak bisa maafin dirinya sendiri. Kebayang muka istrinya Eza saat tau suaminya ngukir nama cewek lain di tangannya”
“Ini tuh sebuah kesalahan Dy, gue takut kalau gue jadi perusak rumah tangga orang”
“Perusak? Bukannya mereka sendiri yang udah ngerusak hidup lo?”
“Hidup gue gak rusak Dy, gue masih baik-baik aja kan ??”
“Tapi otak lu kayaknya rusak deh Vi, kok lemotnya makin parah ya” Ledek Ady
“Sial !!!” Aku terus memukulinya, tapi Ady malah tertawa dan makin kencang saja tertawanya.
“Ehhhhhhh bocah-bocah, kalian pada ribut amat sih, makan yuk Vi.. laper!!!” Tiba-tiba Kana datang dan langsung saja menarik tanganku.
“Ada juga lo yang kemana aja, gue dari tadi nungguin lo huhh...” Kataku sambil berdiri. Ady juga tampaknya sudah kelelahan menertawaiku dan diapun berdiri.
“Ikut makan juga Dy?” Tanya Kana.
“Nggak deh gue mau ke perpus”
“Ohh yaudah.. yuk Vi, laper gue !!” Aku mengangguk dan menjulurkan lidah kepada Ady.
“Dasar bulet !!!” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
Lalu kami beranjak pergi dan berpisah.

JJJJ

Hidupku menjadi lebih ceria saat ini, walaupun Eza masih sering mengirimkan sms kepadaku tapi sekalipun aku gak pernah membalasnya. Ya itu saran dari Ady..
Awalnya dia sedikit geram saat mengetahui kalau Eza masih sering menghubungiku bahkan dia mau menelfon Eza dan memberinya peringatan agar tidak menganggu hidupku lagi. Tapi aku mencegahnya, aku sudah berjanji pada Eza kalau aku gak akan memutuskan hubungan pertemanan kita.
“Okk.. tapi gue yakin suatu saat nanti lo bakal sadar kalau lo emang harus ngilang sama sekali dari hidupnya Eza” ucap Ady sambil menatapku tajam.
Aku hanya mengangguk dan menunduk, entah kenapa saat Ady marah seperti ini aku selalu gak berani menatap matanya.
“Iya Dy, gue gak akan ngeladenin dia lagi, cuma gue minta lo jangan negur dia kayak gitu. Biarin aja, nantinya dia capek sendiri kok” Ucapku lemah.
“Asal lo jangan ngeladenin dia lagi, janji !!!” Aku menyilangkan kedua jariku kepadanya.
Dan semenjak saat itulah aku mencoba menjauhi Eza, tapi tampaknya itu tidak membuat Eza mundur, dia masih saja selalu mengirimkan sms-sms nya dari mulai perhatian sampai puisi-puisi indah di dalamnya.
Aku selalu berusaha untuk tidak terhanyut dan kalah oleh perasaan. Aku mencoba menguburnya dalam-dalam, aku gak mau merebut suami orang. Aku merasakan perasaan Istrinya Eza, aku membayangkan bila aku ada di posisinya, pasti bakal sakit sekali.
Untunglah ada sahabat-sahabatku yang selalu memberikan kebahagiaan yang teramat sangat sehingga aku bisa melupakan rasa sakit hatiku. Apalagi di tambah dengan hadirnya Wendy yang saat ini menjadi tempat keluh kesahku, begitupun sebaliknya aku juga menjadi tempat keluh kesahnya. Umurnya yang dewasa selalu memberikan  nasihat yang tidak menggurui namun bisa membuatku tenang.
“Vio, ini buku yang lo cari kan?” Kana menghampiriku di balkon lantai atas.
“Oh iya, lo nemu dimana?” Ucapku gembira saat melihat buku novel karya N.H Dini yang berjudul ‘Namaku Hiroko’ sedang dipegangnya. Kebetulan novel itu sudah lama hilang dan aku ingin sekali membacanya satu kali lagi bahkan berkali-kali lagi.
“Bukan nemu, tapi punya gue” Tiba-tiba Ady muncul dari balik pintu.
“Lah kok ada elo? Ngapain lo ke sini?”
“Mau nengokin non Vio hehe...”Ucapnya sambil tertawa.
“Ihh, kayak gak sering ketemu gue aja. Eh kok lu punya novel itu juga?” Tanyaku.
Bukannya menjawab, Ady malah menunjukan kesombongan dirinya dengan memukul-mukul dadanya.
“Nih Vi, gue mau ke bawah dulu ya, ngambil minum buat kita” Kana memberikanku buku itu lalu langsung pergi meninggalkan kita berdua.
“Tadi kita ngadain kerja kelompok di rumah gue, pas gue ajak Kana ke perpus pribadi gue tiba-tiba dia ngambil novel itu, trus katanya lo seneng banget baca novel itu.”
“Iya Dy, gue udah baca bukunya sampe abis, tapi pas gue pengen baca lagi eh gue lupa naronya dimana” Ucapku sambil terus memandangi buku itu.
“Dasar teledor”
Suara langkah kaki terdengar mendekat sepertinya langkah kaki itu agak berlari.
“Vio.. Vioo..” Terdengar seseorang memanggilku.
“Eh kenapa lo Na, ampe buru-buru kayak gitu” Ucapku saat menyadari ternyata orang itu Kana.
“Ini ada telfon” Ucapnya tergopoh-gopoh.
“Ohh.. dasar kirain ada apa,” Aku mengambil Hp ku dari genggaman Kana, dan ada seseorang yang memanggilku namun menggunakan private number.
“Siapa yah?” Ucapku sambil memandang heran ke arah Kana dan Ady.
“Angkat aja Vi” Kata Ady.
Aku mengangkat telfon itu.
“Halo Vio !!” Suara wanita itu langsung membentakku.
“Iya, ini siapa?”
“Gue istrinya Eza. Dan gue minta lo jangan ganggu suami gue lagi !!!” Bentaknya.
“Siapa yang ganggu suami lo, gak ada sedikitpun niat buat gue ngerebut Eza dari sisi lo” Jawabku tak terima atas tuduhannya.
Tiba-tiba Ady langsung mendekat dan merebut Hp dari tanganku. Kana hanya diam dan tercengang melihatnya.
“Denger ya nyonya Eza yang terhormat.. jangan salahin Vio dalam hal ini, salahin suami brengsek lo itu. Selama ini dia yang terus ngehubungin Vio !! Anggep aja ini semua karma buat kalian yang udah nyakitin Vio !!!” Kata Ady dengan nada keras.
Kana merangkul pundakku. Aku hanya diam gak bisa berkata apa-apa.
“Ok.. dengan senang hati Vio bakal ganti nomer, dan gak akan muncul di kehidupan  kalian lagi. Harus lo tau Vio udah jadi milik gue, dia tunangan gue dan gak mungkin dia ngerebut suami lo !!!” Aku agak sedikit kaget mendengar perkataan Ady.
“Itu cuma pura-pura Vi” Bisik Kana setengah tertawa.
Tampaknya Ady sudah mengakhiri percakapannya dengan istrinya Eza. Dia menatapku tajam, tatapan yang sangat tidak ku sukai.
“Gue udah bilangkan sama lo, hal ini pasti terjadi”Ucapnya sambil memberikan Hp kepadaku.
“Iya Dy, gue tau gue yang salah”
“Mau gak mau sekarang lo harus ganti nomer, supaya hidup lo tenang” Ucap Ady sambil berlalu.
“Lo mau kemana Dy?” Tanya Kana
“Gue mau balik !!” Jawabnya singkat, lalu pergi.
Beberapa detik aku dan Kana membisu.
Lalu aku memandang ke arah Kana.
“Dia bukan kesel sama lo, tapi dia cuma kesel sama istrinya Eza” Ucap Kana sambil membereskan rambutku. Aku sedikit tenang mendengarnya.
Tiba-tiba Hp ku kembali bergetar.
Kali ini Janis memanggil.
“Halo, kenapa Jan?”
“Vio lo harus ke Bogor sekarang juga, Kak Wendy kecelakaan dan sekarang kondisinya masih kritis !!”
“APAAA?????”

JJJJ

Spinning Heart Heart