Bukan Akhir Dari Segalanya
Do you have the time
To listen tell me why
About nothing and everything
All at once...
Terdengar suara alunan lagu Basket Case nya Greenday dari Handphone ku. Aku yang saat itu sedang duduk di teras kosan sambil melihat anak-anak kecil yang bermain bola di jalanan yang hanya setapak, berebut dengan orang-orang yang lewat dan motor-motor yang berlalu lalang. Dengan terburu-buru aku berlari ke dalam kamar dan mengambil Hp yang terletak di kasur. Terlihat di layar Hp Janis memanggil.
“Halo” Ucapku.
“Vio, ada yang mau ngomong nih”
“Siapa?”
“Ehm.. hai Vi” Terdengar suara berat yang tak asing lagi bagiku.
“Oh iya Kak, gimana kondisi Kakak?” Tanyaku, entah kenapa agak gugup.
“Jauh lebih baik Vi”
“Syukurlah” Senyum mengembang di sudut bibirku.
“Vio, Kakak pengen ngelukis lagi” Suaranya sedikit lebih parau.
“Ehm.. ya Vio tau Kak. Kakak bisa kok ngelukis lagi”
“Caranya?”
“Nanti aku kasih tau besok yah. Besok aku ke rumah Kakak” Ucapku mencoba membuat Wendy bahagia, dan sepertinya berhasil.
“Kakak tunggu ya Vio, makasih buat segalanya. Kakak merasa lebih tenang kalau udah denger suara kamu” Perkataan Wendy membuat hatiku seperti digelitik.
Kana masuk kamar dan menatap heran ke arah ku yang tak sadar senyum-senyum sendiri dan mungkin ada rona merah di pipiku.
“See u Vio”
“See u too Kak” Aku letakan Handphone di atas kasur kembali.
“Ih Vio, kenapa nih? Kok seneng gitu sih, abis di telfon sama siapa?” Goda Kana sambil menempelkan jari telunjuknya di hidungku.
Aku hanya mendelik ke arahnya dan meninggalkannya menuju teras kembali. Kana tampaknya penasaran dan mengikuti dari belakang sambil mengintil dengan pertanyaan-pertanyaannya.
“Ih Vio !!!” Kesalnya karena aku tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan bodohnya.
“Hahaha, kenapa sih Kana sayang?”
“Kok malah nanya balik sih, gue tuh lagi nyium bau-bau cinta dari lo”
“Bau cinta? Masa sih Na?” Aku agak sedikit kaget dengan ucapan Kana.
“Iya Vio, ayo jujur sama gue. Lo suka ya sama Kak Wendy?” Aku diam dan entah kenapa mukaku seakan panas. “Okk gak perlu jawab. Dari rona merah di pipi lo, itu udah ngejawab semuanya hahaa..”
“Ihhh Kana, apaan sih?”
“Hayooo, lo gak bisa boongin gue Vi !!!” Kana duduk disebelahku sambil memainkan dan menggulung kecil-kecil rambutku dengan telunjuknya.
“Gue gak tau Na, tapi gak mungkin lah gue nyimpen perasaan sama Wendy. Dia udah gue anggap seperti kakak gue sendiri Na”
“Hmmhh.. perasaan itu datangnya dari hati Vi, bukan dari pikiran. Jangan boongin hati lo” Kana tersenyum teduh kepadaku. “Sekarang coba lo jujur sama gue, apa yang lo rasain saat berhadapan sama Wendy?”
Aku diam sejenak. Jujur aku gak bisa menyimpulkan perasaan apapun, yang dirasakan saat aku berhadapan dengan Wendy. Semuanya terasa aneh.
Aku menggelengkan kepala.
“Gue gak tau Na, gue gak ngerti. Mungkin hanya empati, simpati atau...... hmhhhh” tak sadar aku mendenguh pelan.
“Ya.. ya... ya.. gue tau mungkin gak secepat itu lu nyimpulin perasaan apapun. Gue cuma seneng aja, akhirnya lo bisa ngelupain Eza, apa mungkin salah satu faktornya karena Wendy?”
“Nggak tau lah Na, gue bingung” Aku menelungkupkan wajah di pundak Kana.
“Hahahaha... dasar lo Vi. Ya apapun yang terbaik buat lo, gue pasti dukung kok. Gue seneng kalau liat lo seneng”
Aku tersenyum ke arahnya. Mudah-mudahan aku bisa menjawab semua perasaan ini, dan segera menceritakan bahkan memastikan pada sahabatku Kana kalau aku sedang jatuh cinta, mungkin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar