Bukan Akhir Dari Segalanya
Aku memandanginya dari sudut pintu kamar, melihat dirinya yang sedang terduduk di kursi roda memandang ke arah luar jendela, mungkin di fikirannya semua masalah sedang menari-nari. Tubuh itu kini renta, tak berdaya. Sosok itu kini harus bersahabat dengan kursi roda yang akan menjadi pelengkap agar dia bisa terus menjalani kehidupan.
Aku menghampirinya dan berdiri di sampingnya. Dia menoleh ke arahku dan menyambutku dengan senyuman khas nya, senyuman yang tak pernah hilang walaupun keadaan sudah berbeda saat ini.
“Vio” Suara berat itu menyapaku.
Aku memandanginya, lalu aku merunduk mencoba memperlihatkan senyuman yang sangat tulus.
“Kakak lagi apa? Jangan-jangan lagi mikirin aku yah” Godaku.
“Hmmhh..” Wendy hanya tersenyum.
Sebetulnya aku tau apa yang sedang difikirkannya. 5 hari bukan waktu yang cukup untuk menerima kenyataan kalau dirinya saat ini sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ya, 5 hari yang lalu dia harus menerima kenyataan dan harus mengubur impian-impian yang selama ini dia rajut.
5 hari yang lalu, sepertinya adalah hari yang sangat menakutkan untuk kita semua. Tante Broto menangis tak henti-henti saat dokter menyatakan kalau kedua tangan dan kaki Wendy lumpuh.
Wendy terus mengumpat dan mencaci maki Dira di ranjang tidurnya. Rupanya kecurigaanku sama dengan Wendy. Aku hanya bisa memandangi mereka dengan pilu.
“Kakak pengen ngelukis lagi Vi” Tiba-tiba Wendy menyadarkan lamunanku.
“Bisa kok” Jawabku singkat, sambil melirik nakal ke arahnya.
“Caranya?”
“Hmmhh.. rahasia”
“Hahaha.. kamu ini, pasti cuma ngehibur Kakak doang yah?”
“Aku serius” Jawabku, sebenarnya aku memang hanya ingin menghiburnya. Tapi aku yakin, aku dapat menemukan caranya.
“Terus??”
“Tapi jangan sekarang, nanti aja ya. Supaya Kakak penasaran” Kilahku.
“Vio, Kakak sekarang gak berguna. Mungkin sekarang Kakak hanya sampah atau benalu yang hanya merepotkan kalian aja”
“Kakak ngomong apaan sih? Jangan pesimis kayak gitu dong Kak”
“Tapi emang gitu kenyataannya Vi, liat sekarang. Apa yang bisa Kakak lakuin, Cuma duduk di kursi roda seharian, sampai kapan? Seumur hidup Kakak, Kakak hanya kayak gini. Apa bedanya sama sampah, Kakak gak bisa ngebahagiain semuanya, Kakak hanya jadi penderitaan semua orang”
“Kakak salah besar, ada kok yang bisa Kakak lakuin”
“Apa?”
“Kakak bisa ngebahagiain kita semua dengan ketegaran Kakak, Kakak bisa ngebuat kita tersenyum dengan senyuman Kakak, Kakak akan membuat kita menderita dengan tangisan Kakak, dan Kakak akan membuat kita hancur dengan kehancuran hati Kakak”
Wendy menangis dan terus menangis “ Kakak Janji ini tangisan terakhir Kakak, demi kalian semua”.
JJJJ
“Komunikasi akan terjadi berawal dari komunikator yang menyampaikan isi pernyataan kepada komunikan, komunikan itu sendiri merespon dengan melakukan atau tidak melakukan feedback” Pak Wahyu terus saja mengulang kata-kata itu di mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK). Ya tapi ini membuat kami para mahasiswa menghafalnya di luar kepala.
Saat ini otakku tampaknya tidak bisa langsung menyerap apa yang sedang pak Wahyu jelaskan. Fikiranku tampaknya sedang berjalan-jalan ke arah Bogor dan mencari-cari sosok Wendy, aku khawatir padanya, semoga dia baik-baik saja.
Aku berusaha memahami semua pelajaran yang masuk, tapi ilmu itu selalu terpental jauh dan tidak masuk ke dalam otakku. Uh, ini membuatku tidak tenang. Sampai pada akhirnya jam kuliah pun telah usai, dengan terburu-buru aku meninggalkan kelas itu.
“Vio” Panggil seseorang dan aku berhenti.
“Kenapa Dy?”
“Temenin gue makan yuk di kantin !” Ajak Ady, aku hanya mengangguk.
Sesampainya di kantin,
“Lo mau mesen apa Vi”
“Gue gak makan, minum aja” Ucapku.
“Ibu, pesen batagor nya satu, sama teh botolnya dua yah” Lalu kami pun duduk di kursi.
“Hmmmhh” Tak sadar aku mendengus.
“Lo kenapa sih Vi? Dari tadi gue liat di kelas, fikiran lo kayak gak fokus. Lagi mikirin apaan sih?”
“Nggak kenapa-kenapa kok Dy”
“Boong, pasti istri Eza atau Eza ganggu lo lagi ya?”
“Bukan, bukan itu Dy, ini tentang Kak Wendy”
“Kak Wendy?” Tanya Ady heran, berbarengan dengan datangnya makanan yang tadi dipesannya. “Makasih bu” Ucap Ady.
“Iya Kak Wendy, dia lumpuh sekarang. Gue khawatir banget ma dia” Ucapku sambil menyeruput minuman.
“Hmmh, emangnya gak ada harapan buat sembuh ya?”
“Dokter sih bilang kemungkinannya kecil. Tapi gue sih yakin Kak Wendy bisa sembuh Dy” Ucapku sambil menyuap batagor mililk Ady ke dalam mulutku.
“Iya lah Vi, semuanya Tuhan yang nentuin bukan Dokter”
“Eh iya gue tuh punya kecurigaan, tapi gue takut ngomongin ke orang soalnya gue gak punya bukti yang kuat”
“Kecurigaan apa?”
“Gue curiga kalau kecelakaan itu emank sengaja di rencanain”
“Maksudnya?”
“Dira ada di belakang semua ini. Kak Wendy pun berfikiran sama ama gue”
“Dira tunangannya Wendy? Kok bisa?”
“Ihh dia bukan tunangannya Kak Wendy lagi tau”Ucapku setengah ngotot.
“Lah kan gue gatau haha... kok lo jadi ngotot. Nah lo, ada something-something nih kayaknya hahahaaa” Ady memandang nakal ke arahku.
“Something-something apaan sih.”
“Cieeeee, mukanya merah tuh.. ketauan banget sih, malu yah.” Ady terus saja menggodaku.
Aku dengan malu menutup muka dengan kedua tanganku, sepertinya ada yang salah dengan perasaanku. Kenapa ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar