Karya : EL

Rabu, 27 Juli 2011

Part 3

Istirahatkan Hati



“Mau kemana Non, kok beres-beres sih” Tanya Kana saat muncul di pintu kamar yang sengaja tidak aku tutup.
“Eh udah balik lo Na. Gue mau pulang” Ucapku sambil terus merapihkan pakaian dan memasukannya rapi ke dalam ransel.
“Pulang? Ke Bogor?”
“Iya lah masa ke Bandung hehe” Bandung adalah kampung halamanku dan kedua orang tuakupun memang tinggal di sana. Saat ini aku berkuliah di Jakarta karena jiwa perantau ku mulai terbangun saat aku masuk SMA, entah kenapa saat SMA, aku selalu berfikir Jakarta adalah kota impianku, bukan karena kemewahan dan kemegahannya tapi lebih kepada kehidupannya yang keras. Aku selalu ingin membuktikan seberapa kerasnya kehidupan di Jakarta, apakah aku bisa menaklukannya? Akhirnya dengan susah payah, aku memperoleh ijin dari orangtuaku untuk berkuliah di sana,walaupun aku tidak mempunyai sanak sodara siapapun di Jakarta.
Walaupun kuliahku sudah memasuki semester 2, itu artinya sudah hampir setahun aku tinggal di Jakarta, tapi aku masih belum bisa memahami kota besar ini, ya mungkin belum saatnya. Sudah setahun pula aku belum pulang ke Bandung, karena setiap seminggu sekali aku hanya pulang ke Bogor, tempat sepupuku Janis yang saat ini sudah yatim piatu tapi dia beruntung telah di angkat oleh Keluarga Broto yang mapan dan dermawan, bahkan aku pun diperbolehkan untuk menginap dan menemani Janis setiap saat. Keluarga itu bukan keluarga yang tidak mempunyai anak sampai harus mengangkat Janis sebagai anak mereka, bahkan keluarga itu mempunyai dua anak, yaitu Wendy dan Sasya . Dulu Ayahnya Janis berteman akrab dengan Broto, Janis sendiri sudah ditinggalkan oleh ibunya dari kecil, maka dia hanya tinggal bersama ayahnya saja. Namun setahun yang lalu, Ayah Janiss meninggal akibat serangan jantung, tidak tega melihat anak sahabatnya sebatang kara, maka keluarga Brotopun mengangkat Janis sebagai anaknya.

“Oh kirain gitu. Eh tapi tumben, ini kan masih hari Rabu, lu kan biasanya ke sana hari Jumat Vi. Masih ada kuliahkan?” Kana duduk disampingku di pinggir kasur.
Aku mendelik ke arahnya “Gue mau bolos. Titip absen ya cinta hehe”
“Ah dasar lo ! Bukan karena patah hati kan lo jadi males kuliah?” Tanyanya curiga
“Hmmh..” Aku berdiri dan memakai tas ransel bututku “Sedikit Na, gue mau nenangin diri dulu”
“Udah gue kira. Ya udah deh, asalkan lo bisa tenang. Gue ngerti kok” Jawabnya sambil menyimpan buku-buku yang tebal di atas kasur. “Hati-hati ya lo di jalan. Mau berangkat sekarang kan?”
“Iyalah, kalau sore takut macet” Aku beranjak pergi ke arah pintu meninggalkan Kana “Gue pergi ya Na, hati-hati lo sendirian di kosan” Peringatku padanya karena aku tau Kana adalah orang yang ceroboh.
Aku pun beranjak ke luar halaman kosan dan menyusuri gang kecil menuju jalan besar. Saat aku tiba di halte dan menunggu kendaraan yang akan mengantarku ke kampung rambutan, sambil terus melirik jam di tanganku, tiba-tiba sebuah mobil avanza berhenti tepat di depanku.
“Vio??” Ucap seorang pria yang berada di dalam mobil sambil membuka kaca jendela mobilnya.
Aku agak merunduk untuk memastikan siapa pria yang memanggilku itu.
“Eh Adi? Kirain gue siapa”  Ucapku terperanjat, saat melihat ternyata itu adalah Ady. Dia  adalah teman bahkan sahabat yang sangat dekat denganku di kampus selain Kana. Aku dan Ady terbilang sangat dekat, bahkan teman-teman seantero kampus banyak yang mengira kami pacaran.
Adi membuka pintu mobilnya dan menyuruhku masuk ke dalamnya “Cepet masuk !! Lo mau kemana?”
“Gue mau balik ke Bogor” Akupun langsung buru-buru masuk ke dalam mobil yang kelihatannya sih masih baru “Mobil baru Dy? Hehe” Tanyaku tanpa bisa menutupi rasa ingin tahuku yang terkadang sedikit berlebihan.
“Iya, kenapa? lo orang kedua yang naekin mobil ini”
“Yang pertamanya siapa?”
“Gue lah dudul hahahaha”
“Huuu, kirain gue si Rosa” Ady tampak merenggut saat aku mengucapkan nama itu. Jujur saja, Ady memang cowok yang bisa dibilang The Perfect Man, Cewek mana yang gak suka sama dia, bahkan Rosa selebriti kampus yang terkenal karena menjadi salah satu personil grup vokal yang pernah masuk tv, entah apalah namanya aku lupa, sangat mengejar-ngejar Ady bahkan tak ayal dia selalu iri kepadaku yang bisa sangat dekat dengan Ady, dan herannya Rosa bersama dengan teman-teman geng nya malah berkomplot memusuhiku. Hmmmhh, toh walaupun begitu, Ady tetap gak tertarik sedikitpun sama Rosa hahaha...
“Gue anterin ya?” Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.
“Hah anterin gue ke Bogor? Eh eh gak usah Dy”
“Loh emank kenapa Vi? Udah gak apa-apa, lagian percaya atau enggak muka lo tuh pucet kayak zombie. Nih liat !!” Ady mengarahkan kaca spion ke arahku.
Langsung saja aku memperhatikan wajahku di kaca “Masa iya sih Dy? Gue gak kenapa-kenapa kok” Tanyaku sambil memegang-megang wajahku sendiri.
“Lo pasti lagi ada masalah” Ady menoleh ke arahku dan menatapku tajam. Tapi aku diam dan membuang muka. “Vio?? Lo gak bisa nyembunyiin perasaan lo dari gue, gue tau lo lagi ada masalah” Yah memang kepekaan Ady sangat tepat, seolah-olah dia selalu bisa membaca apa yang aku fikirkan.
            “Gue... gue... hmmmh” Entah kenapa sulit sekali aku mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini, semua kesedihanku yang biasanya selalu lancar aku lontarkan kepada Ady, saat ini tertahan begitu saja.
“Ssssytt, yaudah kalau lo gak siap buat cerita, jangan cerita sekarang. Tenangin aja dulu fikiran dan hati lo, pokoknya sekarang gue bakal nganterin lo sampe ke tempat tujuan, oke..”
Aku tersenyum tulus bahkan sangat tulus mendengar perkataan Ady tadi, beruntung aku mempunyai sahabat sepertinya “Thanks ya Dy”
“Sama-sama bulet” Ucapnya sambil mencubit pipi tembemku.
Aku hanya membalasnya dengan meninju pelan lengannya.
Hening menemani kita berdua, aku yang sedang sibuk dengan fikiranku tiba-tiba tersadar saat Ady menimbulkan suara berisik dari kaset-kaset cd yang berjatuhan olehnya. Sambil menyetir Ady tampak sibuk mencari sesuatu di antara tumpukan kaset itu. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku kembali masuk ke dalam fikiranku, entah memikirkan apa, kosong sepertinya.
Terdengar lagu Carry your home yang dibawakan oleh James Blunt melantun, dan  lagu itu.. ya lagu itu mengingatkan ku pada masa lalu, masa setahun yang lalu dimana aku pertama kenal dengan Eza. Bulir air mata kembali jatuh membasahi pipiku. Rasa sakit itu kembali muncul. Cepat-cepat aku menghapusnya berusaha menyembunyikannya dari Ady.
“Gue tau lo nangis, gak usah nutupin semuannya dari gue Vi” Ucap Ady, namun pandangannya tetap ke depan, tidak menoleh padaku sama sekali.
Aku hanya terisak, “Gue cengeng ya Dy” malah kalimat itu yang aku lontarkan.
“Violeta kan juga manusia” Dia tersenyum ke arahku, senyuman yang sangat hangat.
“Eza ngehianatin gue Dy, bahkan dia...d..di.. dia....” Aku tidak sanggup melanjutkan perkataanku, tangis langsung meledak begitu saja.
“Violeta, gue udah tau semuanya dari Kana !”
Aku menoleh heran ke arahnya, dan dia malah tersenyum namun pandangannya tetap ke depan.
“Kana ??”
“Iya, dia udah cerita semuanya. Kadang seseorang akan bilang ‘gue ngerti perasaan lo’ tapi yang sebenernya dia gak ngerti sama sekali perasaan kita. Dan saat ini gue akan bilang gue ngerti perasaan lo”
Aku hanya tertunduk, lalu tersenyum “Iya” Ucapku lirih.
Satu jam kemudian kami pun telah sampai di kediaman keluarga Broto.
“Mau mampir Dy?” Ucapku sambil membuka pintu mobil
“Gak usah, lain kali aja. Lo istirahat yah Vi, jangan mikirin cowok brengsek itu”
“Yakin gak mau mampir, nanti gue kenalin ama janis” Aku meliriknya nakal.
“Apa sih Vi? Nggak deh lain kali ajah, salam buat om ama tante lo” Ucapnya sambil menaruh dua jari di keningnya, dan memberi hormat.
“Yaudah, thanks yua. Hati-hati dijalan” Ucapku sambil menutup pintu mobilnya. Ady hanya mengangguk, lalu mobilnyapun berlalu, aku terus memandangi mobil itu sampai tak tampak lagi dihadapanku.

JJJJ

“Gue tau ini gak mudah bagi lo, tapi dari awal gue emang udah gak suka sama E-Z-A !!! ” Aku agak sedikit kaget karena Janis bicara sangat lantang dan emosi.
“Iya Jan, tapi gue sa....”
“Alahhh jaman sekarang jangan pake sayang-sayangan, gue gak terima sodara gue diginiin. F**k lah, mana nomernya Eza, biar gue telfon trus maki-maki dia !!!!” Janis langsung membongkar tas ranselku dan mencari-cari handphone di dalamnya.
“Jangan Janis gak usah. Gue udah maafin semuanya” Aku berusaha menahan Janis dengan merebut tas ranselku.
“Vio, gue mau kasih pelajaran buat cowok kayak gitu, siniin handphone lo !!”
“NGGAK !!!” ku dekap tas ransel itu semakin erat.
“VIO !!!!”
“Sssyyyttt kalian apa-apaan sih?” Tiba-tiba suara berat menghentikan perseteruan kecil kami.
“Eh Kak Wendy,  maaf kak” Ucapku saat menyadari ada Wendy dan rupanya aku baru sadar kalau aku masih berada di ruang tv, bukan di kamar Janis.
“Kalian kenapa sih kayak anak kecil aja?” Tegurnya, namun setengah tertawa.
“Ini nih si Vio Kak, jadi cewek lemah banget !” Janis memasang wajah cemberut, lalu melemparkan bantal ke arahku.
“Lemah gimana? ” Tanya Wendy sambil membawa minum kearahku. “Ini minum dulu Vi, pasti capek kan” Dia pun duduk di sebelah Janis, dan menghadap kearahku.
“Kakak tau Eza kan, tunangannya Vio” Wendy hanya mengangguk mengiyakan sambil meminum segelas air putih, karena dia tadi membawa dua gelas untuku dan untuknya.
“Dia udah marriedd, gila nggak tuh cowo” Janis mengepal kedua tangannya.
“Hahh, uhukk...uhuukk !!!!” Wendy tersedak oleh air yang diminumnya.
Aku panik, dan malah memberikan sapu tangan kepadanya.
“Buat apaan ini? Uhuukkk ehhmm...” Tanya Wendy, sambil memandangi sapu tangan itu dan melihat kearahku.
“Oh ehmm itu buat ngelap keringat” Ucapku gugup. Aku heran dengan diriku sendiri, selalu saja kaku bila berhadapan dengan Wendy. Bukan karena aku suka kepadanya, tapi aku menghormati bahkan sangat menghormatinya. Aku selalu mengagumi sosoknya, belum pernah sekalipun aku melihat dia marah, selalu saja wajahnya dihiasi oleh senyuman yang membuatnya terlihat sangat manis.
Tawa Janis meledak melihat tingkah konyolku
“Vio.. Vio.. aduh jangan konyol kayak gitu napa. Ngaco nih anak”
“Hhhmm.. yaudah mungkin Vio capek. Istirahat dulu sana Vi, jangan terlalu dipikirin yah. Sabar aja” Wendy mengelap mulutnya dengan sapu tangan yang tadi aku berikan, “Berguna kok jan hehe.. makasih ya Vi, kakak tinggal dulu”.
“Kak Wendy senyumnya manis ya?” Bisik Kana setelah Wendy meninggalkan kami
“Iya” Jawabku spontan
“Cieeehhhhhh....” Janis menoyor kepalaku dan langsung berlari ke kamarnya, takut kalau aku menyerangnya.
“Apaan sih lu Jan, ya enggaklah, yang ngaco itu lu bukan gue”Teriaku, yang sepertinya bukan hanya Janis yang bisa mendengar, bahkan mungkin seluruh isi rumah bisa mendengarnya.

Selasa, 26 Juli 2011

Part 2

Akhir Untuk Awal Yang Baru






“ Kamu Pacarnya Eza?”
“Iya, Ini siapa ya?” Jawabku bertanya kembali
“Kamu gak perlu tau aku siapa. Aku Cuma mau mastiin semuanya” Suara wanita itu sekarang terdengar lebih parau.
“Mastiin semuanya? Maksud kamu mastiin apa? Aku gak....”
“Tutttt...tuttttt...tuttttt...” Wanita itu menutup telfonnya
Suara telfon yang terputus itu mewakili pertanyaanku yang terputus. Seribu pertanyaan menyelimutiku, siapa wanita itu? Kenalkah dia dengan Eza, tunanganku? Ada hubungan apa dia dengan Eza? Apa yang ingin dia pastikan dari semuanya?
Entahlah.... Tapi semua kebingungan ini sudah terlanjur berkecamuk di kepalaku.
“Vio, lo kenapa?” aku sedikit terperanjat. Kana memandang heran ke arahku yang terpaku memandangi layar handphone dan hanya terdiam setelah menerima telfon tadi. “Kenapa Vi? Siapa yang tadi nelfon?”
“Nggak tau” Jawabku lemah.
Kana merebut handphone dari tanganku. Aku membiarkannya dan langsung duduk bersender di tepi ranjang.
“Vio ada sms nih”
“Dari siapa?”
“Gue gak tau ini dari siapa, nggak ada namanya cuma nomer doang. Perlu gue bacain sms nya?”
Aku hanya mengangguk meng ‘iya’ kan.
“......”
“Apa isi sms nya Na, kok lo malah diem?” Tanyaku
“Vi, lo harus janji dulu ma gue” Aku naikkan sebelah alisku, suatu tanda tanya yang lain muncul dibenakku.
“Gue gak ngerti” Tegasku, namun warna muka Kana mulai meredup. Dengan tatapan yang penuh cemas dia memandangiku sangat dalam dan jauh. Seolah-olah aku mengerti apa yang akan disampaikannya. Aku menunduk lemah “Sepahit apapun itu, tolong sampein aja ma gue Na”.
“Gue mau lo janji kalau lo harus kuat, bisakan Vi, belum tentu ini semua bener”
Aku pun tersenyum pahit.
“Gue bacain sms nya Vi. ‘Hai Vi, maaf aku bukan mau menjadi penghancur hubungan kalian, tapi aku istrinya Eza. Dulu sebelum kita nikah, Eza bilang kalau dia punya cewek di Jakarta dan namanya Vio, dan 2 bulan yang lalu akhirnya dia minta aku jadi ceweknya, dia bilang kalau dia lebih milih aku, dan sebulan kemudian kita nikah. Tapi ternyata buktinya dia masih jadian ma kamu’ “.
Kata-kata itu langsung menguasai hatiku dan merobeknya secara perlahan tapi pasti. Jadi ini jawaban atas semua perubahan sikap yang terjadi pada Eza semenjak 2 bulan lalu. Tangan Kana mengusap lembut pundakku, berusaha untuk menenangkan kekagetanku ini.
“Lo harus buktiin dulu semuanya, jangan terpancing emosi. Lebih baik lo sekarang hubungi Eza dulu”.
Aku masih terdiam, tak ada reaksi yang berarti dariku, menangis tidak, bahkan marahpun tidak, aku hanya kebingungan. Tapi aku tau kediamanku ini tidak akan menyelesaikan semua persoalan. Aku kuatkan dan kumpulkan segenap kekuatanku, aku cari sebuah nama di kontakku lalu aku mencoba menghubunginya walaupun aku gak yakin telfonku ini akan diangkat olehnya.
Sekilas aku melihat ke arah Kana, ada sedikit kelegaan terpancar diwajahnya, saaat aku mulai melakukan pergerakan.
“Halo ?” terdengar jawaban dari sana
“Iya” Jawabku, entah mengapa suaraku agak gemetar namun sedikit lega karena ada jawaban.
“Kenapa?” Tetap terdengar ketus
“Za, kamu masih nganggep aku cewek kamu? Kamu masih sayang ma aku? Aku minta kamu jujur” Tanyaku tetap menahan emosi. Aku memang pandai menahan emosi dan tidak langsung memperlihatkan amarahku saat aku memang benar-benar marah. Itu yang  terkadang membuatku terlihat lemah.
“Alah, aku males ngurusin itu dulu. Aku sibuk, nanti aja hubungin aku lagi”
“Tapi ini penting Za, penting. Please !!”
“Sepenting apa sih?”
“Aku udah tau semuanya”
“Semuanya apa?” Tanyanya agak sedikit kaget
“Tentang kamu, pernikahan kamu dan istri kamu”
“Tuuuut...Tuuut...Tuuut” Dia menutup telfonnya.
Aku tersenyum pahit ke arah Kana. Rasa sakit ini sepertinya sudah terlalu lama membeku. Sampai aku sendiri bingung dan hanya terdiam, masih gak percaya akan semua ini.
Tangan hangat menyentuh pundaku. Terasa butir-butir air mata menetes di tanganku yang terjulur ke arah Kana. Kana menangis. Air mata Kana telah mencairkan semua kebekuan. Kini tangisku meledak, entah mengapa rasa sakit itu muncul, rasa sakit yang sangat amat menyakitkan.
“ Nangis aja sepuas lo Vi, nangislah kalau di setiap tetesan air mata yang lo keluarin bisa ngewakilin semua amarah lo” Aku menutup muka dalam-dalam mencoba menahan derasnya airmata yang tumpah. Tapi aku tau aku gak bisa menahannya, aku menyesali semua kebodohan dan penghianatan ini.
“Kenapa Na, kenapa dia tega ama gue. Salah gue apa?” Ucapku terisak
“Lo gak salah kok Vi. Dalam hal ini lo yang paling bener. Gue yakin kalau Violeta Fiena adalah wanita kuat dan tegar yang pernah gue kenal”
“Tapi gue gak sekuat itu Kana, gue lemah, dan sekarang gue hancur”
Aku terus menangis sampai pada akhirnya tangisanku terhenti saat lagu Basket case Greenday melantun dari handphone ku, dan aku lihat Eza memanggil.
Sebelum mengangkatnya aku melihat ke arah Kana. Apakah aku harus mengangkat panggilan dari Eza? Dan Kana mengangguk.
“Ya halo?” Ucapku lirih, dan hanya kata itu yang mampu aku ucapkan pertama kali.
“Vio, aku minta maaf” Nada suaranya tampak datar
“Ya”Jawabku gemetar, sambil menahan tangis.
“Violeta, aku tau aku yang salah. Aku minta maaf”
“Aku... aku udah maafin semuanya” Tetap dengan menahan tangis dan aku mencoba terdengar tegar di depannya. “Selamat ya atas pernikahan kalian, maaf aku gak bisa datang ke pernikahan kalian. Doaku menyertai kalian”
“Vio maafin aku, aku.. aku.. gak bermaksud nyakitin kamu. Tapi ini masalah jarak Vi, aku udah dijodohin sama orang tua aku. Ibu aku sekarat, dan dia minta satu permohonan ingin aku menikah dengan anak sahabatnya. Mereka menyuruh aku putus sama kamu, tapi aku gak tega Vi. Aku sayang sama kamu, masih sayang sama kamu” Terdengar Tangis Eza meledak di sana dan akupun tak kuasa menahan linangan air mata yang dari sejak tadi aku tahan.
“Cukup Za, semuanya udah berakhir, aku rela matiin rasa cinta aku demi hidupnya dua hati yang udah terlanjur terikat dalam satu komitmen pernikahan selamanya” Ucapku terisak
“Maafin aku Vio, aku bersikap acuh supaya kamu jenuh dan benci sama aku, dan kamu putusin aku, aku ingin seolah-olah aku yang salah dan kamu yg mutusin aku. Tapi kamu wanita yang hebat, kamu tetap pertahanin aku, walaupun aku bersikap kayak gitu. Itu yang bikin aku sayang ma kamu melebihi apapun Vio”
Hening diantara kami, yang terdengar hanya suara isak tangisnya dengan suara isak tangisku bersahut-sahutan. Siapa yang salah? Aku pun tak tau, sepertinya tidak ada yang bisa disalahkan, ini hanya takdir. Takdir dua insan yang menjalin kasih terhalang oleh jarak. Aku memang sudah mempunyai firasat saat kepergian Eza ke Kalimantan bersama orang tuanya 5 bulan yang lalu, aku merasa berat melepasnya dan aku merasa kalau aku gak akan pernah lagi bertemu dengannya. Dan akhirnya semua menjadi nyata.
“Eza” Panggilku nyaris tak bersuara
“Hmmhh” Terdengar sahutan yang parau dari sana
“Aku ikhlas” Ku coba menguatkan dan sedikit mengeraskan suaraku. “Aku udah ikhlas, mungkin kita memang belum jodoh, sekarang kamu punya istri, sayangi istri kamu, baik-baik sama dia yah, kalau kamu sayang ma aku, kamu harus sayang sama istri kamu melebihi sayang kamu ke aku” Kana mencoba menguatkan ku dengan mengelus pundaku.
“Tapi Vi aku udah bikin kamu sakit, aku gak rela harus kehilangan mutiara yang begitu indah seperti kamu, aku gak rela”
“Dengerin aku Za, kita udah terhalang sama pembatas atau tembok yang sangat tinggi dan gak mungkin bisa dilewati, karena pernikahan itu sakral, dan kamu udah berjanji dihadapan Tuhan. Inget itu Eza, aku ikhlas dan aku udah maafin semuanya” Aku mulai bisa mengendalikan diri.
“Tapi Vio....”
“Sssyyyttt, udah sekarang hubungan kita cukup sampai disini dan kita jangan memutuskan tali silaturahmi. Aku masih mau kok jadi temen kamu. Aku janji gak akan hilang kontak. Aku janji”
“Makasih Violeta Fiena”Ucap Eza
“Sama-sama, selamat tinggal sampai jumpa”
“Iya, aku sayang kamu. Tuuutt.. tuuuutttt....tuuttt...” Eza pun menutup telfonnya.
Aku terdiam. Kana tampak geram dengan semuanya dia beranjak berdiri dan menuju rak buku yang terletak di dekat pintu.
“Ngapain Na?” Tanyaku padanya karena aku bingung melihatnya seperti yang sedang mencari-cari sesuatu.
“Nah ini dia !” Gumamnya
“Hmmmmhh”
“Mau gue bantu bakar fotonya, atau mau gue pajang di dapur supaya tikus pada kabur” Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah Kana yang tersenyum nakal sambil memegang foto Eza dan bersandar di rak buku.
“Terserah lo aja, buang aja ke neraka fotonya” Gurauku dan merebahkan diri di kasur
“Gitu dong cantik. Gue tau lu tuh seorang wonder woman, tapi wonder womannya cengeng hehe...” Kana menghampiriku dan mencubit hidungku.
“Dan lu supermannya, superman bawel hehe..” Ku lemparkan bantal ke arahnya
“Ih kok superman sih, cat woman lah” Jengkelnya
“Dog woman !!”
“Haannjriiittt!!!!!!!”
Dan malam ini pun aku tertawa kembali bersama Kana. Kelegaan muncul setelah semuanya terungkap. Ternyata aku bisa selangkah lebih maju dengan mengikhlaskan semuanya. Hancur memang, tapi itu hanya awal, awal untuk aku membangunnya kembali menjadi sesuatu hal yang lebih indah.




*bersambung*

Part 1




Aku Akan Menunggu Saat Itu Datang...




               Saat ini aku terduduk di lorong dengan tatapan yang tiada arti. Orang-orang tampak sibuk dengan diri mereka masing-masing. Bercanda, tertawa, melakukan hal yang bisa membuat mereka tertawa bahagia. Berbanding terbalik denganku, aku diam sendiri memikirkan diri ini yang terlalu bodoh, bodoh oleh semua keadaan yang tak pasti. Keadaan yang membuatku jatuh, terbodohi, dibodohi, atau memang benar-benar bodoh, aku tidak mengerti.
Semuanya berawal dari setahun yang lalu, awal yang indah namun tak menyangka kalau keindahan itu adalah awal dari kehancuran diriku atau lebih tepatnya kehancuran perasaanku. Terlalu salahkah diriku jika aku mempertahankan kehancuran ini, kehancuran? Sebetulnya bukan kehancuran itu yang aku pertahankan tapi mempertahankan sisa-sisa yang telah aku hancurkan atau lebih tepatnya dihancurkan oleh sifat kerasku untuk memperjuangkan seseorang yang tak seharusnya diperjuangkan.
Sampai pada akhirnya aku telah mendapatkan kepastian untuk meninggalkan dan mengakhiri semuanya. Bukan akhir yang bersifat sementara tetapi akhir yang kekal, bukan meninggalkan satu hal atau banyak hal tetapi semua hal. Aku harus bersabar dan terus bersabar, kuat dan membiarkan penyakit ini mengambil alih ragaku sampai dia bisa menguasainya lalu membiarkan aku tenang dan damai di kehidupan yang lain. Aku akan menunggu saat itu datang....


*bersambung*
Spinning Heart Heart