Istirahatkan Hati
“Mau kemana Non, kok beres-beres sih” Tanya Kana saat muncul di pintu kamar yang sengaja tidak aku tutup.
“Eh udah balik lo Na. Gue mau pulang” Ucapku sambil terus merapihkan pakaian dan memasukannya rapi ke dalam ransel.
“Pulang? Ke Bogor?”
“Iya lah masa ke Bandung hehe” Bandung adalah kampung halamanku dan kedua orang tuakupun memang tinggal di sana. Saat ini aku berkuliah di Jakarta karena jiwa perantau ku mulai terbangun saat aku masuk SMA, entah kenapa saat SMA, aku selalu berfikir Jakarta adalah kota impianku, bukan karena kemewahan dan kemegahannya tapi lebih kepada kehidupannya yang keras. Aku selalu ingin membuktikan seberapa kerasnya kehidupan di Jakarta, apakah aku bisa menaklukannya? Akhirnya dengan susah payah, aku memperoleh ijin dari orangtuaku untuk berkuliah di sana,walaupun aku tidak mempunyai sanak sodara siapapun di Jakarta.
Walaupun kuliahku sudah memasuki semester 2, itu artinya sudah hampir setahun aku tinggal di Jakarta, tapi aku masih belum bisa memahami kota besar ini, ya mungkin belum saatnya. Sudah setahun pula aku belum pulang ke Bandung, karena setiap seminggu sekali aku hanya pulang ke Bogor, tempat sepupuku Janis yang saat ini sudah yatim piatu tapi dia beruntung telah di angkat oleh Keluarga Broto yang mapan dan dermawan, bahkan aku pun diperbolehkan untuk menginap dan menemani Janis setiap saat. Keluarga itu bukan keluarga yang tidak mempunyai anak sampai harus mengangkat Janis sebagai anak mereka, bahkan keluarga itu mempunyai dua anak, yaitu Wendy dan Sasya . Dulu Ayahnya Janis berteman akrab dengan Broto, Janis sendiri sudah ditinggalkan oleh ibunya dari kecil, maka dia hanya tinggal bersama ayahnya saja. Namun setahun yang lalu, Ayah Janiss meninggal akibat serangan jantung, tidak tega melihat anak sahabatnya sebatang kara, maka keluarga Brotopun mengangkat Janis sebagai anaknya.
“Oh kirain gitu. Eh tapi tumben, ini kan masih hari Rabu, lu kan biasanya ke sana hari Jumat Vi. Masih ada kuliahkan?” Kana duduk disampingku di pinggir kasur.
Aku mendelik ke arahnya “Gue mau bolos. Titip absen ya cinta hehe”
“Ah dasar lo ! Bukan karena patah hati kan lo jadi males kuliah?” Tanyanya curiga
“Hmmh..” Aku berdiri dan memakai tas ransel bututku “Sedikit Na, gue mau nenangin diri dulu”
“Udah gue kira. Ya udah deh, asalkan lo bisa tenang. Gue ngerti kok” Jawabnya sambil menyimpan buku-buku yang tebal di atas kasur. “Hati-hati ya lo di jalan. Mau berangkat sekarang kan?”
“Iyalah, kalau sore takut macet” Aku beranjak pergi ke arah pintu meninggalkan Kana “Gue pergi ya Na, hati-hati lo sendirian di kosan” Peringatku padanya karena aku tau Kana adalah orang yang ceroboh.
Aku pun beranjak ke luar halaman kosan dan menyusuri gang kecil menuju jalan besar. Saat aku tiba di halte dan menunggu kendaraan yang akan mengantarku ke kampung rambutan, sambil terus melirik jam di tanganku, tiba-tiba sebuah mobil avanza berhenti tepat di depanku.
“Vio??” Ucap seorang pria yang berada di dalam mobil sambil membuka kaca jendela mobilnya.
Aku agak merunduk untuk memastikan siapa pria yang memanggilku itu.
“Eh Adi? Kirain gue siapa” Ucapku terperanjat, saat melihat ternyata itu adalah Ady. Dia adalah teman bahkan sahabat yang sangat dekat denganku di kampus selain Kana. Aku dan Ady terbilang sangat dekat, bahkan teman-teman seantero kampus banyak yang mengira kami pacaran.
Adi membuka pintu mobilnya dan menyuruhku masuk ke dalamnya “Cepet masuk !! Lo mau kemana?”
“Gue mau balik ke Bogor” Akupun langsung buru-buru masuk ke dalam mobil yang kelihatannya sih masih baru “Mobil baru Dy? Hehe” Tanyaku tanpa bisa menutupi rasa ingin tahuku yang terkadang sedikit berlebihan.
“Iya, kenapa? lo orang kedua yang naekin mobil ini”
“Yang pertamanya siapa?”
“Gue lah dudul hahahaha”
“Huuu, kirain gue si Rosa” Ady tampak merenggut saat aku mengucapkan nama itu. Jujur saja, Ady memang cowok yang bisa dibilang The Perfect Man, Cewek mana yang gak suka sama dia, bahkan Rosa selebriti kampus yang terkenal karena menjadi salah satu personil grup vokal yang pernah masuk tv, entah apalah namanya aku lupa, sangat mengejar-ngejar Ady bahkan tak ayal dia selalu iri kepadaku yang bisa sangat dekat dengan Ady, dan herannya Rosa bersama dengan teman-teman geng nya malah berkomplot memusuhiku. Hmmmhh, toh walaupun begitu, Ady tetap gak tertarik sedikitpun sama Rosa hahaha...
“Gue anterin ya?” Mobilpun melaju dengan kecepatan sedang.
“Hah anterin gue ke Bogor? Eh eh gak usah Dy”
“Loh emank kenapa Vi? Udah gak apa-apa, lagian percaya atau enggak muka lo tuh pucet kayak zombie. Nih liat !!” Ady mengarahkan kaca spion ke arahku.
Langsung saja aku memperhatikan wajahku di kaca “Masa iya sih Dy? Gue gak kenapa-kenapa kok” Tanyaku sambil memegang-megang wajahku sendiri.
“Lo pasti lagi ada masalah” Ady menoleh ke arahku dan menatapku tajam. Tapi aku diam dan membuang muka. “Vio?? Lo gak bisa nyembunyiin perasaan lo dari gue, gue tau lo lagi ada masalah” Yah memang kepekaan Ady sangat tepat, seolah-olah dia selalu bisa membaca apa yang aku fikirkan.
“Gue... gue... hmmmh” Entah kenapa sulit sekali aku mengungkapkan apa yang aku rasakan saat ini, semua kesedihanku yang biasanya selalu lancar aku lontarkan kepada Ady, saat ini tertahan begitu saja.
“Ssssytt, yaudah kalau lo gak siap buat cerita, jangan cerita sekarang. Tenangin aja dulu fikiran dan hati lo, pokoknya sekarang gue bakal nganterin lo sampe ke tempat tujuan, oke..”
Aku tersenyum tulus bahkan sangat tulus mendengar perkataan Ady tadi, beruntung aku mempunyai sahabat sepertinya “Thanks ya Dy”
“Sama-sama bulet” Ucapnya sambil mencubit pipi tembemku.
Aku hanya membalasnya dengan meninju pelan lengannya.
Hening menemani kita berdua, aku yang sedang sibuk dengan fikiranku tiba-tiba tersadar saat Ady menimbulkan suara berisik dari kaset-kaset cd yang berjatuhan olehnya. Sambil menyetir Ady tampak sibuk mencari sesuatu di antara tumpukan kaset itu. Tapi aku tidak memperdulikannya, aku kembali masuk ke dalam fikiranku, entah memikirkan apa, kosong sepertinya.
Terdengar lagu Carry your home yang dibawakan oleh James Blunt melantun, dan lagu itu.. ya lagu itu mengingatkan ku pada masa lalu, masa setahun yang lalu dimana aku pertama kenal dengan Eza. Bulir air mata kembali jatuh membasahi pipiku. Rasa sakit itu kembali muncul. Cepat-cepat aku menghapusnya berusaha menyembunyikannya dari Ady.
“Gue tau lo nangis, gak usah nutupin semuannya dari gue Vi” Ucap Ady, namun pandangannya tetap ke depan, tidak menoleh padaku sama sekali.
Aku hanya terisak, “Gue cengeng ya Dy” malah kalimat itu yang aku lontarkan.
“Violeta kan juga manusia” Dia tersenyum ke arahku, senyuman yang sangat hangat.
“Eza ngehianatin gue Dy, bahkan dia...d..di.. dia....” Aku tidak sanggup melanjutkan perkataanku, tangis langsung meledak begitu saja.
“Violeta, gue udah tau semuanya dari Kana !”
Aku menoleh heran ke arahnya, dan dia malah tersenyum namun pandangannya tetap ke depan.
“Kana ??”
“Iya, dia udah cerita semuanya. Kadang seseorang akan bilang ‘gue ngerti perasaan lo’ tapi yang sebenernya dia gak ngerti sama sekali perasaan kita. Dan saat ini gue akan bilang gue ngerti perasaan lo”
Aku hanya tertunduk, lalu tersenyum “Iya” Ucapku lirih.
Satu jam kemudian kami pun telah sampai di kediaman keluarga Broto.
“Mau mampir Dy?” Ucapku sambil membuka pintu mobil
“Gak usah, lain kali aja. Lo istirahat yah Vi, jangan mikirin cowok brengsek itu”
“Yakin gak mau mampir, nanti gue kenalin ama janis” Aku meliriknya nakal.
“Apa sih Vi? Nggak deh lain kali ajah, salam buat om ama tante lo” Ucapnya sambil menaruh dua jari di keningnya, dan memberi hormat.
“Yaudah, thanks yua. Hati-hati dijalan” Ucapku sambil menutup pintu mobilnya. Ady hanya mengangguk, lalu mobilnyapun berlalu, aku terus memandangi mobil itu sampai tak tampak lagi dihadapanku.
JJJJ
“Gue tau ini gak mudah bagi lo, tapi dari awal gue emang udah gak suka sama E-Z-A !!! ” Aku agak sedikit kaget karena Janis bicara sangat lantang dan emosi.
“Iya Jan, tapi gue sa....”
“Alahhh jaman sekarang jangan pake sayang-sayangan, gue gak terima sodara gue diginiin. F**k lah, mana nomernya Eza, biar gue telfon trus maki-maki dia !!!!” Janis langsung membongkar tas ranselku dan mencari-cari handphone di dalamnya.
“Jangan Janis gak usah. Gue udah maafin semuanya” Aku berusaha menahan Janis dengan merebut tas ranselku.
“Vio, gue mau kasih pelajaran buat cowok kayak gitu, siniin handphone lo !!”
“NGGAK !!!” ku dekap tas ransel itu semakin erat.
“VIO !!!!”
“Sssyyyttt kalian apa-apaan sih?” Tiba-tiba suara berat menghentikan perseteruan kecil kami.
“Eh Kak Wendy, maaf kak” Ucapku saat menyadari ada Wendy dan rupanya aku baru sadar kalau aku masih berada di ruang tv, bukan di kamar Janis.
“Kalian kenapa sih kayak anak kecil aja?” Tegurnya, namun setengah tertawa.
“Ini nih si Vio Kak, jadi cewek lemah banget !” Janis memasang wajah cemberut, lalu melemparkan bantal ke arahku.
“Lemah gimana? ” Tanya Wendy sambil membawa minum kearahku. “Ini minum dulu Vi, pasti capek kan” Dia pun duduk di sebelah Janis, dan menghadap kearahku.
“Kakak tau Eza kan, tunangannya Vio” Wendy hanya mengangguk mengiyakan sambil meminum segelas air putih, karena dia tadi membawa dua gelas untuku dan untuknya.
“Dia udah marriedd, gila nggak tuh cowo” Janis mengepal kedua tangannya.
“Hahh, uhukk...uhuukk !!!!” Wendy tersedak oleh air yang diminumnya.
Aku panik, dan malah memberikan sapu tangan kepadanya.
“Buat apaan ini? Uhuukkk ehhmm...” Tanya Wendy, sambil memandangi sapu tangan itu dan melihat kearahku.
“Oh ehmm itu buat ngelap keringat” Ucapku gugup. Aku heran dengan diriku sendiri, selalu saja kaku bila berhadapan dengan Wendy. Bukan karena aku suka kepadanya, tapi aku menghormati bahkan sangat menghormatinya. Aku selalu mengagumi sosoknya, belum pernah sekalipun aku melihat dia marah, selalu saja wajahnya dihiasi oleh senyuman yang membuatnya terlihat sangat manis.
Tawa Janis meledak melihat tingkah konyolku
“Vio.. Vio.. aduh jangan konyol kayak gitu napa. Ngaco nih anak”
“Hhhmm.. yaudah mungkin Vio capek. Istirahat dulu sana Vi, jangan terlalu dipikirin yah. Sabar aja” Wendy mengelap mulutnya dengan sapu tangan yang tadi aku berikan, “Berguna kok jan hehe.. makasih ya Vi, kakak tinggal dulu”.
“Kak Wendy senyumnya manis ya?” Bisik Kana setelah Wendy meninggalkan kami
“Iya” Jawabku spontan
“Cieeehhhhhh....” Janis menoyor kepalaku dan langsung berlari ke kamarnya, takut kalau aku menyerangnya.
“Apaan sih lu Jan, ya enggaklah, yang ngaco itu lu bukan gue”Teriaku, yang sepertinya bukan hanya Janis yang bisa mendengar, bahkan mungkin seluruh isi rumah bisa mendengarnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar