“ Kamu Pacarnya Eza?”
“Iya, Ini siapa ya?” Jawabku bertanya kembali
“Kamu gak perlu tau aku siapa. Aku Cuma mau mastiin semuanya” Suara wanita itu sekarang terdengar lebih parau.
“Mastiin semuanya? Maksud kamu mastiin apa? Aku gak....”
“Tutttt...tuttttt...tuttttt...” Wanita itu menutup telfonnya
Suara telfon yang terputus itu mewakili pertanyaanku yang terputus. Seribu pertanyaan menyelimutiku, siapa wanita itu? Kenalkah dia dengan Eza, tunanganku? Ada hubungan apa dia dengan Eza? Apa yang ingin dia pastikan dari semuanya?
Entahlah.... Tapi semua kebingungan ini sudah terlanjur berkecamuk di kepalaku.
“Vio, lo kenapa?” aku sedikit terperanjat. Kana memandang heran ke arahku yang terpaku memandangi layar handphone dan hanya terdiam setelah menerima telfon tadi. “Kenapa Vi? Siapa yang tadi nelfon?”
“Nggak tau” Jawabku lemah.
Kana merebut handphone dari tanganku. Aku membiarkannya dan langsung duduk bersender di tepi ranjang.
“Vio ada sms nih”
“Dari siapa?”
“Gue gak tau ini dari siapa, nggak ada namanya cuma nomer doang. Perlu gue bacain sms nya?”
Aku hanya mengangguk meng ‘iya’ kan.
“......”
“Apa isi sms nya Na, kok lo malah diem?” Tanyaku
“Vi, lo harus janji dulu ma gue” Aku naikkan sebelah alisku, suatu tanda tanya yang lain muncul dibenakku.
“Gue gak ngerti” Tegasku, namun warna muka Kana mulai meredup. Dengan tatapan yang penuh cemas dia memandangiku sangat dalam dan jauh. Seolah-olah aku mengerti apa yang akan disampaikannya. Aku menunduk lemah “Sepahit apapun itu, tolong sampein aja ma gue Na”.
“Gue mau lo janji kalau lo harus kuat, bisakan Vi, belum tentu ini semua bener”
Aku pun tersenyum pahit.
“Gue bacain sms nya Vi. ‘Hai Vi, maaf aku bukan mau menjadi penghancur hubungan kalian, tapi aku istrinya Eza. Dulu sebelum kita nikah, Eza bilang kalau dia punya cewek di Jakarta dan namanya Vio, dan 2 bulan yang lalu akhirnya dia minta aku jadi ceweknya, dia bilang kalau dia lebih milih aku, dan sebulan kemudian kita nikah. Tapi ternyata buktinya dia masih jadian ma kamu’ “.
Kata-kata itu langsung menguasai hatiku dan merobeknya secara perlahan tapi pasti. Jadi ini jawaban atas semua perubahan sikap yang terjadi pada Eza semenjak 2 bulan lalu. Tangan Kana mengusap lembut pundakku, berusaha untuk menenangkan kekagetanku ini.
“Lo harus buktiin dulu semuanya, jangan terpancing emosi. Lebih baik lo sekarang hubungi Eza dulu”.
Aku masih terdiam, tak ada reaksi yang berarti dariku, menangis tidak, bahkan marahpun tidak, aku hanya kebingungan. Tapi aku tau kediamanku ini tidak akan menyelesaikan semua persoalan. Aku kuatkan dan kumpulkan segenap kekuatanku, aku cari sebuah nama di kontakku lalu aku mencoba menghubunginya walaupun aku gak yakin telfonku ini akan diangkat olehnya.
Sekilas aku melihat ke arah Kana, ada sedikit kelegaan terpancar diwajahnya, saaat aku mulai melakukan pergerakan.
“Halo ?” terdengar jawaban dari sana
“Iya” Jawabku, entah mengapa suaraku agak gemetar namun sedikit lega karena ada jawaban.
“Kenapa?” Tetap terdengar ketus
“Za, kamu masih nganggep aku cewek kamu? Kamu masih sayang ma aku? Aku minta kamu jujur” Tanyaku tetap menahan emosi. Aku memang pandai menahan emosi dan tidak langsung memperlihatkan amarahku saat aku memang benar-benar marah. Itu yang terkadang membuatku terlihat lemah.
“Alah, aku males ngurusin itu dulu. Aku sibuk, nanti aja hubungin aku lagi”
“Tapi ini penting Za, penting. Please !!”
“Sepenting apa sih?”
“Aku udah tau semuanya”
“Semuanya apa?” Tanyanya agak sedikit kaget
“Tentang kamu, pernikahan kamu dan istri kamu”
“Tuuuut...Tuuut...Tuuut” Dia menutup telfonnya.
Aku tersenyum pahit ke arah Kana. Rasa sakit ini sepertinya sudah terlalu lama membeku. Sampai aku sendiri bingung dan hanya terdiam, masih gak percaya akan semua ini.
Tangan hangat menyentuh pundaku. Terasa butir-butir air mata menetes di tanganku yang terjulur ke arah Kana. Kana menangis. Air mata Kana telah mencairkan semua kebekuan. Kini tangisku meledak, entah mengapa rasa sakit itu muncul, rasa sakit yang sangat amat menyakitkan.
“ Nangis aja sepuas lo Vi, nangislah kalau di setiap tetesan air mata yang lo keluarin bisa ngewakilin semua amarah lo” Aku menutup muka dalam-dalam mencoba menahan derasnya airmata yang tumpah. Tapi aku tau aku gak bisa menahannya, aku menyesali semua kebodohan dan penghianatan ini.
“Kenapa Na, kenapa dia tega ama gue. Salah gue apa?” Ucapku terisak
“Lo gak salah kok Vi. Dalam hal ini lo yang paling bener. Gue yakin kalau Violeta Fiena adalah wanita kuat dan tegar yang pernah gue kenal”
“Tapi gue gak sekuat itu Kana, gue lemah, dan sekarang gue hancur”
Aku terus menangis sampai pada akhirnya tangisanku terhenti saat lagu Basket case Greenday melantun dari handphone ku, dan aku lihat Eza memanggil.
Sebelum mengangkatnya aku melihat ke arah Kana. Apakah aku harus mengangkat panggilan dari Eza? Dan Kana mengangguk.
“Ya halo?” Ucapku lirih, dan hanya kata itu yang mampu aku ucapkan pertama kali.
“Vio, aku minta maaf” Nada suaranya tampak datar
“Ya”Jawabku gemetar, sambil menahan tangis.
“Violeta, aku tau aku yang salah. Aku minta maaf”
“Aku... aku udah maafin semuanya” Tetap dengan menahan tangis dan aku mencoba terdengar tegar di depannya. “Selamat ya atas pernikahan kalian, maaf aku gak bisa datang ke pernikahan kalian. Doaku menyertai kalian”
“Vio maafin aku, aku.. aku.. gak bermaksud nyakitin kamu. Tapi ini masalah jarak Vi, aku udah dijodohin sama orang tua aku. Ibu aku sekarat, dan dia minta satu permohonan ingin aku menikah dengan anak sahabatnya. Mereka menyuruh aku putus sama kamu, tapi aku gak tega Vi. Aku sayang sama kamu, masih sayang sama kamu” Terdengar Tangis Eza meledak di sana dan akupun tak kuasa menahan linangan air mata yang dari sejak tadi aku tahan.
“Cukup Za, semuanya udah berakhir, aku rela matiin rasa cinta aku demi hidupnya dua hati yang udah terlanjur terikat dalam satu komitmen pernikahan selamanya” Ucapku terisak
“Maafin aku Vio, aku bersikap acuh supaya kamu jenuh dan benci sama aku, dan kamu putusin aku, aku ingin seolah-olah aku yang salah dan kamu yg mutusin aku. Tapi kamu wanita yang hebat, kamu tetap pertahanin aku, walaupun aku bersikap kayak gitu. Itu yang bikin aku sayang ma kamu melebihi apapun Vio”
Hening diantara kami, yang terdengar hanya suara isak tangisnya dengan suara isak tangisku bersahut-sahutan. Siapa yang salah? Aku pun tak tau, sepertinya tidak ada yang bisa disalahkan, ini hanya takdir. Takdir dua insan yang menjalin kasih terhalang oleh jarak. Aku memang sudah mempunyai firasat saat kepergian Eza ke Kalimantan bersama orang tuanya 5 bulan yang lalu, aku merasa berat melepasnya dan aku merasa kalau aku gak akan pernah lagi bertemu dengannya. Dan akhirnya semua menjadi nyata.
“Eza” Panggilku nyaris tak bersuara
“Hmmhh” Terdengar sahutan yang parau dari sana
“Aku ikhlas” Ku coba menguatkan dan sedikit mengeraskan suaraku. “Aku udah ikhlas, mungkin kita memang belum jodoh, sekarang kamu punya istri, sayangi istri kamu, baik-baik sama dia yah, kalau kamu sayang ma aku, kamu harus sayang sama istri kamu melebihi sayang kamu ke aku” Kana mencoba menguatkan ku dengan mengelus pundaku.
“Tapi Vi aku udah bikin kamu sakit, aku gak rela harus kehilangan mutiara yang begitu indah seperti kamu, aku gak rela”
“Dengerin aku Za, kita udah terhalang sama pembatas atau tembok yang sangat tinggi dan gak mungkin bisa dilewati, karena pernikahan itu sakral, dan kamu udah berjanji dihadapan Tuhan. Inget itu Eza, aku ikhlas dan aku udah maafin semuanya” Aku mulai bisa mengendalikan diri.
“Tapi Vio....”
“Sssyyyttt, udah sekarang hubungan kita cukup sampai disini dan kita jangan memutuskan tali silaturahmi. Aku masih mau kok jadi temen kamu. Aku janji gak akan hilang kontak. Aku janji”
“Makasih Violeta Fiena”Ucap Eza
“Sama-sama, selamat tinggal sampai jumpa”
“Iya, aku sayang kamu. Tuuutt.. tuuuutttt....tuuttt...” Eza pun menutup telfonnya.
Aku terdiam. Kana tampak geram dengan semuanya dia beranjak berdiri dan menuju rak buku yang terletak di dekat pintu.
“Ngapain Na?” Tanyaku padanya karena aku bingung melihatnya seperti yang sedang mencari-cari sesuatu.
“Nah ini dia !” Gumamnya
“Hmmmmhh”
“Mau gue bantu bakar fotonya, atau mau gue pajang di dapur supaya tikus pada kabur” Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah Kana yang tersenyum nakal sambil memegang foto Eza dan bersandar di rak buku.
“Terserah lo aja, buang aja ke neraka fotonya” Gurauku dan merebahkan diri di kasur
“Gitu dong cantik. Gue tau lu tuh seorang wonder woman, tapi wonder womannya cengeng hehe...” Kana menghampiriku dan mencubit hidungku.
“Dan lu supermannya, superman bawel hehe..” Ku lemparkan bantal ke arahnya
“Ih kok superman sih, cat woman lah” Jengkelnya
“Dog woman !!”
“Haannjriiittt!!!!!!!”
Dan malam ini pun aku tertawa kembali bersama Kana. Kelegaan muncul setelah semuanya terungkap. Ternyata aku bisa selangkah lebih maju dengan mengikhlaskan semuanya. Hancur memang, tapi itu hanya awal, awal untuk aku membangunnya kembali menjadi sesuatu hal yang lebih indah.
*bersambung*
*bersambung*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar