Cinta Itu Mengapa Menyakitkan?
Ikan ikan itu terus berenang ke sana kemari mencari ruang yang kosong untuk mendapatkan makanan yang tadi aku berikan pada mereka. Bahkan ada yang saling mendorong dengan ekor ekor mereka hanya untuk merebut makanan-makanan itu. Makin kusebar makanan itu, makin berkumpul ikan itu pada satu titik dimana makanan itu berada.
Ingin sekali aku ikut bersama mereka, bersama-sama berkumpul berenang kian kemari dan tidak ada yang difikirkannya lagi selain mendapatkan makanan tersebut. Mungkin aku akan bahagia bila menjadi mereka, tidak di suguhi oleh bermacam-macam masalah termasuk urusan cinta. Tapi apakah ikan bisa jatuh cinta? Pertanyaan yang bodoh hehe...
Aku masih terduduk sendiri di pinggir kolam ikan, masih sambil menebarkan makanan untuk ikan tersebut sedikit demi sedikit.
Tampaknya sudah cukup kuberi makan ikan ini. Baiknya aku membantu Mbok Sri untuk membereskan rumah. Kasian dia, kalau harus membereskan rumah sebesar ini seorang diri, sedangkan umurnya sudah hampir di atas 50an.
Aku langsung ke dapur untuk mengambil sapu dan perlengkapan lainnya. Tapi saat aku tiba di sana, Mbok Sri langsung mencegahku.
“Eh nggak usah neng, biar si Mbok aja” Cegahnya sambil merebut sapu yang sedang kupegang.
“Biarin Mbok, lagian aku jenuh gak ada kerjaan. Mending bantuin Mbok beres-beres kan?” Aku mencoba mengambil sapu itu kembali.
“Eh eh gak usah neng, hmmmhh.. Neng Vio beneran mau bantuin Mbok?” Aku hanya mengangguk.
“Gini aja, Neng tolong anterin makanan ini ke kamarnya Wendy. Mau??”
“.....” Seperti biasa jika bingung, aku hanya menggaruk-garuk kepala.
“Kalau gak mau mah gak usah, nanti biar si mbok aja yah” Ucapnya sambil meninggalkan ku, dan menyiapkan makanan untuk Wendy.
“Eh iya sini Mbok, biar aku aja deh” Aku menghampiri si Mbok.
Dan akhirnya aku mengantarkan sepiring nasi, semangkuk sup dan segelas air putih untuk Wendy. Aku membawanya dalam nampan dan berjalan sangat hati-hati, melewati setiap anak tangga yang harus aku lalui.
Kulihat pintu kamarnya sedikit terbuka, jadi aku gak perlu repot-repot mengetuk pintunya.
“Kak Wendy??” Panggilku, sambil melongokan kepalaku di celah pintu yang sedikit terbuka.
Terlihat Wendy dengan menggunakan kaos hitam dan celana pendek berwarna coklat, sedang duduk menghadap ke arah luar jendela sehingga membelakangiku.
Dia menoleh kebelakang. “Eh kamu Vi !” Ucapnya saat menyadari keberadaanku.
Rambutnya yang agak gondrong terlihat acak-acakan.
“Ini Kak makanannya. Aku taro di meja ya” Aku berjalan masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang cukup rapih untuk kamar seorang cowok.
Dindingnya yang berwarna biru membuat cahaya dari jendela terpantul dan menimbulkan suasana yang terang. Lukisan-lukisan hasil tangan Wendy sendiri pun banyak terpajang di dalamnya. Terampil sekali tangannya menggoreskan coretan-coretan itu menjadi sebuah gambar yang mengagumkan.
Ku taruh makanan itu di meja yang terletak tak jauh dari pintu kamarnya. Sambil terus mengamati lukisan-lukisan Wendy, aku pun melangkah ke luar kamar, tapi tunggu dulu.. ada lukisan yang menarik perhatianku dan menghentikan langkahku.
Lukisan seorang wanita memakai gaun berwarna ungu sedang duduk bersender di dahan pohon yang rindang, tapi kenapa di bagian wajah wanita itu kertasnya tampak rusak dan robek. Aku makin mendekati lukisan itu, ingin tau siapa wanita yang ada di lukisan tersebut.
“Itu Dira Vi” Suara berat Wendy mengagetkanku.
“Oh iya maaf Kak, aku udah lancang”
“Hmmhh.. nggk kok Vi, santai aja. Lagian udah gak penting lagi, besok juga udah mau aku buang lukisan itu” Wendy beranjak dari duduknya dan mencopot lukisan itu dari dinding.
Dia lalu meletakannya di belakang pintu.
“Loh kenapa?” Pertanyaan bodoh terlontar dari mulutku.
“Aku udah mau lupain semua tentang Dira. Semuanya...” Wendypun duduk di tepi ranjang tepat dimana aku berdiri tak jauh darinya.
“Kenapa?” Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang aku lemparkan, seolah-olah aku selalu ingin tau masalahnya.
“Dia bukan cewek yang baik Vi. Eh duduk sini, jangan berdiri terus, kan pegel” Dia mempersilahkan aku duduk di kursi yang terletak tak jauh dari meja tempat aku menaruh makanannya tadi.
Kini aku duduk berhadapan dengannya.
Wajah Wendy masih bengkak dan biru-biru, tapi sudah lebih baik dibandingkan keadaanya waktu tadi malam.
“Udah mendingan Kak kondisinya?”
“Udah Vi, makasih yah udah mau ngobatin lukanya.” Aku hanya mengangguk dan menunduk, tidak berani membalas tatapan wajahnya.
“Kamu tau gak siapa yang udah ngelakuin ini sama Kakak?”
Aku menggelengkan kepala.
“Ini perbuatan Dira”Ucapnya lemah, namun sontak membuat jantungku berdegup kencang.
“Gak mungkin Kak. Masa dia tega ngelakuin hal itu sama Kakak” Ucapku seolah-olah seperti sedang membela Dira.
“Ya ini memang sulit dipercaya. Tapi aku udah kenal Dira 3 tahun Vi. Aku tau dia itu cewek yang bisa ngelakuin hal apa aja untuk dapetin keinginannya”
“Emank apa yang dia pengen sampai dia ngelakuin hal ini sama Kakak?”
“Dia gak mau putus sama aku Vio. Tapi aku udah gak bisa maafin dia, aku udah tau semuanya. Dia udah tega ngehianatin aku dengan selingkuh sama beberapa cowok bahkan.. bahkan...” Ucapannya terhenti.
“Bahkan apa Kak?”
“Bahkan aku mergokin dia di hotel sama cowok lain, kebetulan waktu itu aku lagi ngadain pameran lukisan di sana” Geram Wendy, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Aku tidak komentar apa-apa. Yang pasti aku bingung harus bersikap seperti apa.
“Hmmhh..” Wendy mendengus.
“Sabar ya Kak” Hanya kata itu yang mampu aku lontarkan.
Wendy tersenyum kepadaku.
“Kamu hebat Vi, bisa setegar itu. Kalau aku jadi kamu, aku gak tau harus kayak gimana. Gak mungkin aku bisa setegar kamu” Kata Wendy sambil mengacak-acak rambutnya.
“Segalanya akan mungkin terjadi jika kita tidak menyerah pada suatu masalah” Ucapku
“Kamu bener Vi”
“Hah apanya yang bener Kak?”
“Ya kata-kata kamu tadi Vio” Ucapnya setengah tertawa.
Aku hanya tesenyum malu.
“Maaf ya Vi, aku jadi cerita sama kamu, aku gak tau harus cerita sama siapa lagi. Kayaknya cuma kamu yang ngerti perasaan aku karena kamu mengalami hal yang sama kayak aku” Suara berat itu terdengar sangat lemah.
“Iya Kak” Tiba-tiba dia menatap wajahku dan tersenyum. Aku langsung menunduk malu.
JJJJ
“Aku kangen sama kamu Vio”
Tak sadar air mata mulai membasahi pipiku.
Mata ini entah kenapa tidak dapat membendung air mata yang sudah berhasil aku tahan selama beberapa hari, hanya karena mendengar suara itu, suara Eza. Aku juga kangen sama kamu, sama suara kamu, semua tentang kamu Eza.
“Gimana kabar istri kamu?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, dan berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar seperti menangis.
“Baik.” Jawabnya singkat.
“Oh syukurlah”
“Aku gak bisa lupain kamu Vi. Aku gak bisa mencintai Istriku sama kayak ke kamu Vi. Aku salah Vi, aku gak bisa maafin diriku sendiri.”
“Udahlah Za, aku gak suka kamu menyesali semua keputusan yang udah kamu ambil dan kamu jalani. Jalani semuanya Za, aku juga bakal jalanin hidup aku yang sekarang”
“Oke, tapi aku mau nanya satu hal sama kamu, dan aku mohon kamu jawab dengan jujur!” Nada suaranya tampak serius.
“Nanya apa?”
“Violeta, apa kamu masih sayang ma aku?” Tanyanya lirih.
Aku terdiam mendengar pertanyaannya.
“Vio, kamu masih sayang ma aku? Atau kamu emang udah gak mempunyai rasa itu karena kesalahan aku yang udah begitu besar”
“Aku bukan orang yang mudah membuang rasa cinta aku Za. Kamu tau itu kan?”
“Jadi artinya kamu masih sayang ma aku?” Ucapnya.
“Iya dan aku akan mencoba menghapus rasa itu”
“Kenapa?”
“Karena kita udah terpisah sama pagar yang sangat tinggi. Aku harap kamu ngerti”
“Ya aku tau Vi, seenggaknya saat ini kamu masih sayang ma aku, itu udah cukup bikin hati aku tenang”
“Iya Eza” Jawabku singkat. Eza mungkin tidak mengetahui kalau saat ini wajahku telah banjir oleh air mata.
Tiba-tiba Janis masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiriku yang sedang terduduk di kursi meja belajar.
“Lo kenapa?” Herannya sambil menatap mataku yang banjir air mata.
Aku menggelengkan kepala ke arahnya.
“Ya udah, salam buat istri kamu ya Za” Aku mengakhiri percakapanku dengan Eza, dan aku menutup sambungan telfon.
Janis langsung merebut Hp dari tanganku. “Oh jadi Eza yang nelfon lo?”
Aku hanya mengangguk lemah.
“Ahh kurang ajar banget ini cowok, gak mikir apa udah punya istri. Urusin aja istrinya sana, ngapain ngehubung-hubungin lo lagi !!” Ucapnya sambil menaruh Hp ku kasar di meja belajar.
“Gue gak tau” Jawabku terisak.
“Lo juga sih, udahlah jangan mau dihubungin lagi sama dia. Lo tuh terlalu baik, dia jadi ngelunjak dan gak sadar sama kesalahannya” Janis menghapus airmata di wajahku dengan tangannya.
“Tapi Jan, gue masih sayang ma dia. Sama kayak rasa sayang lo ke mantan lo, Bima”
Janis merangkul pundakku.
“Itu yang gue gak mau Vi. Gue gak mau lo bersikap bodoh kayak gue, yang gak bisa buka hati buat cowo lain dan masih betah sama cintanya Bima yang udah bukan siapa-siapa gue lagi. Capek gue 2 tahun kayak gini terus Vi”
“Tapi lo hebat Jan?” Kataku. Janis heran dan langsung memandang heran ke arahku.
“Apanya yang hebat? Ngaco lo!!”
“Ya hebat, lo punya rasa sayang yang hebat dan luar biasa bertahan ampe sekarang walaupun dia udah nyakitin lo” Ucapku sambil memandangi wanita cantik berambut panjang dan berkulit putih ini, badannya memang agak sedikit berisi tetapi jauh dari istilah gemuk.
Janis hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Dia lalu merebahkan dirinya di kasur.
“Ya mungkin menurut lo hebat, tapi ini sebuah kebodohan”
“Hehehe.... dari dulu emang gue lebih pinter dari lu” Tiba-tiba sebuah bantal hinggap di kepalaku.
“Sial !!!” Ucap Janis sambil tertawa.
“Maen lempar-lempar aja si lo? Eh Sasya mana?” Tanyaku.
“Biasalah jalan sama cowoknya” Jawabnya singkat, dan kulihat sepertinya dia sedang berusaha memejamkan mata.
Tiba-tiba Hp ku bergetar, ada pesan masuk.
From : Eza my-ex
Aku syg kamu Violleta Fiena. Smpai kapanpn rasa ini gak akn brbh..
Luv u..
Forever n one :*
Aku tersenyum saat membacanya, ini sebuah kesalahan, kesalahan yang teramat sangat.
JJJJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar