Kembalilah Senyuman Itu...
Aku terbangun dari mimpi itu. Rupanya aku tertidur.
“Vio.. Vio.. !!” Suara berat itu. Suara Wendy.
Aku langsung terlonjak dari tidurku. Aku yang tak sengaja tertidur di samping Wendy sambil menelungkupkan kepala dan tanganku di kasurnya langsung berdiri dan menatap Wendy.
“Kak Wendy !! Kakak udah sadar?” Ucapku dengan suara yang masih agak serak.
Wendy hanya mengangguk lemah.
Aku langsung menghampiri Sasya dan Janis yang tertidur di sofa.
“Janis.. Sasya.. bangun bangun !!” Ucapku sambil menggoyang-goyangkan badan mereka satu persatu.
Sasya hanya menggeliat, tapi Janis tampak mulai membuka matanya.
“Apaan sih Vi?”
“Kak Wendy sadar, cepetan bangun ihhh!!” Kataku agak kesal, dan masih menggoyang-goyangkan tubuh mereka terutama Sasya.
“Apa Kak Wendy sadar?” Janis langsung tersadar dan membangunkan Sasya “Sya bangun Sya.. Kak Wendy udah sadar”.
Sasya langsung terlonjak dari tidurnya dan terduduk. “ Hah Kak Wendy sadar?”
“Cepetan bangun bangun ah..” Ku tarik tangan mereka berdua membawanya ke hadapan Wendy.
“Vio.. Janis.. Sasya... kenapa ini?” Tiba-tiba Wendy cemas.
“Kenapa kak?” Ucapku sambil menghampirinya.
“Iya kenapa kak?” Janis dan Sasya juga menjadi panik.
“Ini Vi, Kakak gak bisa ngerasain kaki sama tangan, dua-duanya gak bisa digerakin”
Aku langsung mendekatinya dan menyentuh tangan Wendy. Wendy menggelengkan kepala.
“Sya, cepetan panggil dokter !” Sasya mengangguk dan setengah berlari dia meninggalkan ruangan.
“Kakak jangan panik ya, Kakak pasti baik-baik aja” Kata Janis.
“Baik gimana Jan, Kakak gak bisa ngegerakin semuanya. Kakak lumpuh !!!”
“Syyyyt kakak jangan ngomong kayak gitu yah !!” Ucapku sambil menutup mulutnya dengan satu jari. “Jan telfon Om sama Tante, kabarin mereka kalau Kak Wendy udah sadar”
Janis langsung mengeluarkan Hp nya dan menghubungi Om Broto.
“Vio, hidup kakak sekarang gak berguna” Ucap Wendy. Nada suaranya masih terdengar sangat lemah.
“Kakak gak boleh ngomong kayak gitu, aku yakin Kakak baik-baik aja”
Aku tau suasana hatinya, aku seakan bisa masuk ke dalam perasaannya. Seorang Wendy bisa menangis, ya ternyata seorang lelaki bisa menangis saat dirinya merasa tidak berguna.
Tak lama seorang lelaki berkacamata lengkap dengan peralatan medisnya membuka pintu kamar, Sasya dan dua orang suster berada di belakangnya. Ya, dia dokter yang akan memeriksa kondisi Wendy.
Wendy memandang ke arahku, dan aku mengangguk ke arahnya seolah-olah berkata Tenang Kak semuanya akan baik-baik aja.
Dokter itu memukul mukul lutut Wendy, namun Wendy menggeleng. Dia masih belum bisa merasakan apa-apa. Beberapa lama dokter itu masih terus memeriksa Wendy, kami ber tiga hanya duduk diam di sofa dan menatap kosong ke arah mereka.
“Hmhh.. kalian keluarganya Wendy?” Dokter itu menghampiri kami.
“Iya, kami adiknya”
“Orang tua kalian mana? Ada yang mau saya bicarakan”
“Lo udah telfon mama sama papa kan Jan?” Tanyaku
Janis hanya mengangguk meng’iya’kan.
“Yaudah, Wendy sudah saya beri obat penenang, nanti kalau orangtua kalian udah datang, saya tunggu di ruangan saya.” Dokter dan kedua perawat itu meninggalkan ruangan.
Wendy tampaknya tertidur setelah di berikan obat penenang oleh dokter tadi.
“Gue khawatir!!” Ucapku sambil menghampiri Wendy yang sedang terbaring
“Sama gue juga Vi” Kata Janis.
“Ya sekarang kita berdoa aja, semoga Kak Wendy gak kenapa-kenapa ya” Sasya menenangkan suasana. Aku tersenyum. Ya mudah-mudahan Wendy gak kenapa-napa. Doa ku dan orang-orang terdekatnya akan selalu menyertainya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar