Semua Bisa Patah Hati
Remote tv dari tadi kutekan-tekan gak jelas, mencari acara yang seru, tapi yang kulihat hanya itu-itu saja.
Sebenarnya aku tidak terlalu fokus melihat tv, pikiranku masih kepada Wendy. Apa yang terjadi dengan mereka, bukankah mereka pasangan yang romantis,kemana-mana selalu saja berdua, dan serasi sekali jika melihatnya. Apalagi setahuku mereka sudah 3 tahun berpacaran.
Hmmm.. ternyata lamanya pacaran tidak menjamin kalau suatu pasangan itu terhindar dari masalah.
“Vio” Suara lembut seorang wanita menyapaku.
“Eh Tante” Jawabku terispu malu, melihat kedatangan Tante Broto.
“Sendirian aja kamu Vi, anak-anak belum pada datang” Tante menghampiriku dan duduk disebelahku, dia mengusap-ngusap rambutku. Aku jadi inget sama mama.
“Belum Tan” Jawabku singkat dan tersenyum kepadanya.
“Kamu yang sabar ya nak, Tante udah tau ceritanya dari Janis, mungkin Eza bukan jodohmu” Masih sambil membelai rambutku.
“Iya Tan, Vio udah ikhlas kok” Kata ku sambil melihat ke arahnya. Dia sangatlah cantik dengan menggunakan blezer warna coklat dan celana warna hitam, sangat keibuan.
“ Kamu memang wanita tegar Vi, Tante harap Janis dan Sasya bisa kayak kamu”
Tiba-tiba Wendy datang dari arah ruangan studio, dengan mukanya yang masih terlihat kacau. Lalu duduk di sebelah Tante Broto.
“Kamu kenapa Wen, kok kusut gitu?” Tanya Tante melihat wajah anaknya itu tidak seperti biasanya.
“Nggak mah” Jawab Wendy singkat.
“Ya udah, mama ke kamar dulu” Tantepun beranjak meninggalkan kami, dan sekarang hanya tinggal kami berdua.
Pertama kalinya aku hanya berdua saja dengan Wendy, walaupun sudah sering aku menginap di rumah ini tapi belum pernah aku mengobrol ataupun berada pada situasi aku hanya berdua saja dengan dia.
Canggung... bahkan sangatlah canggung dan kaku.
Aku yang bingung dan tak tau harus berbicara apa, hanya terpaku di depan layar tv. Berusaha mengalihkan pandanganku agar tak melihat Wendy yang berada tepat disampingku.
“Kamu kok bisa yah sekuat itu vi?” Kata Wendy sangat pelan, sehingga aku tidak sadar kalau dia sedang bicara padaku.
“Vio?” Ucapnya sekali lagi
“Eh iya apa Kak?” Kagetku dan langsung menoleh ke arahnya.
“Kamu itu ya Vi, suka modem kadang-kadang” Ucapnya sambil tersenyum
“Maksudnya?”
“Modem alias loading hehe..” Aku tersenyum masam ke arahnya, sempat-sempatnya saja dia meledekku, padahal aku tau suasana hatinya sedang kalut.
“ Kamu kuat Vi, tegar. Coba aku bisa kayak kamu”
“Hah Kak Wendy pengen jadi cewek kayak aku?” Ucapku membalas ledekannya.
“Bukan Vio, aduh kamu itu yah. Lucu !!” Dia tertawa. Entah kenapa, kok hati ini mendadak tenang saat melihat wajahnya kembali ceria. Aku gak tau kenapa hal ini bisa terjadi. Bukan, ini bukan rasa cinta tapi lebih kepada rasa sayang seorang adik terhadap kakaknya, karena aku secara tidak langsung sudah menjadi bagian dari anggota keluarga ini. Aku bahagia berada di sini dan memiliki mereka, dan memiliki Wendy sebagai kakakku.
JJJJ
Satu sendok, dua sendok, aku habiskan eskrim cup rasa strawbery yang tadi sempat dibelikan oleh Sasya. Hmmm... Sasya memang tau bagaimana membuat hati kita menjadi tenang. Berlomba-lomba kami bertiga menghabiskan beberapa cup eskrim itu sambil mengobrol kesana kemari di kamar Janis.
“Eh Sya gue mau nanya sesuatu deh?” Tanyaku, dan Sasya hanya mengangguk sambil terus memakan eskrimnya.
Aku sedikit agak ragu, dan malah diam sejenak. Kejadian tadi siang masih terus mengelayut di fikiranku. Nggak mungkin aku harus menanyakan masalah itu pada Wendy langsung, aku takut dia tersinggung. Mungkin Sasya sedikit tau tentang masalah Wendy dan Dira.
“Woi... Mau nanya apa, kok malah diem sih” Tegur Sasya, cewek tomboy yang satu ini mungkin heran melihat aku malah menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Eh iya gini Sya, hmmm... tapi lo jangan bilang-bilang ama Kak Wendy yah”
“Heemhhh, apaan sih, kok ada hubungannya ma Kakak gue?”
“Wah lo suka ya ama Kak Wendy??” Sambung Janis sambil melirik curiga ke arahku.
“Jangan sembarangan lo Jan, masa gue suka ama Kak Wendy” Ucapku sambil menoyor kepalanya.
“Hahahahaaa... bener lo suka ama Kakak gue??” Sasya malah ikut-ikutan menuduhku
“Ihhh, bukan bukann... apaan sih !! Gini loh Sya, tadi siang gue gak sengaja liat Kakak lo berantem ma ceweknya, kayaknya Kak Wendy marah banget, sampai itu si Dira di dorong terus jatoh”
“HAH MASA ?????” Kaget Sasya dan Janis berbarengan.
“Gak usah so kompak gitu deh kagetnya” Ucapku sambil tertawa dan kembali melahap eskrimku yang sedikit agak mencair.
“Hmmhh.. tapi emang akhir-akhir ini gue ngeliat Kak Wendy sering ngelamun sendiri terus suka pura-pura sibuk ngelukis padahal pas diliat itu kertas kosong kagak ada coretan apa-apa” Ucap Sasya dengan muka berfikir.
“Gue sih setuju kalau mereka putus” Gumam Janis
“Hah maksud lo Jan?” Ucapku agak sedikit kaget mendengar perkataan Janis. Sasya juga tampak agak sedikit kaget dan melotot ke arah Janis.
“Sebenernya gue waktu itu pernah liat Dira jalan gandengan ama cowok lain.”
“HAH !!!!” Kagetku dan Sasya
“Loh loh slow jangan so kompak gitu hahahahaa....”
“Ih terus-terus” Kataku sedikit tidak sabar.
“Iya gue juga liat mereka gandengan mesra gitu, gue ikutin mereka sambil sembunyi-sembunyi terus....”
Tokk.. tokk.. tokk....
“Anak-anak buka dulu pintunya!!” Tiba-tiba Tante mengetok pintu kamar.
“Iya Mah” Sahut Sasya sambil beranjak membukakan pintu untuk Tante.
Aku dan Janis masih tetap diam di tempat tidur sambil terus menghabiskan eskrim.
“Masa? Terus aku harus hubungi siapa, kan nomernya gak aktif” Tanya Sasya sedikit ada nada khawatir di dalamnya.
“Ya hubungi temen-temennya, yang kamu kenal Sya. Mamah bingung”
“Yaudah nanti aku bareng Janis sama Vio, hubungi temen-temennya, mama tenangin diri aja dulu yah jangan khawatir”
“Kenapa Tan?” Tanyaku dan langsung menghampiri mereka di ambang pintu.
“Wendy Vi, dia belum pulang padahal ini kan udah jam 11 malam, terus perginya juga nggak pamit. Tante takut dia kenapa-napa” Ucap Tante, raut wajahnya sangat khawatir.
Jantungku menjadi berdegup kencang, aku tau Wendy sedang kacau, apapun bisa terjadi jika kita sedang dalam keadaan tidak stabil. Ya... aku khawatir !!!
“Ibu, itu ujang Wendy Bu !!!” Tiba-tiba Mbok Sri menghampiri kami dengan nafas tersengal-sengal.
“Kenapa Wendy mbok, ada apa??” Tante Broto menjadi semakin khawatir.
“Itu Bu Wendy udah dateng, ada di ruang tengah. Mukanya bonyok Bu kayak abis dipukulin” Sontak kami semua pun terkejut. Tante langsung menuju ke ruang tengah setengah berlari, aku dan Sasya mengikutinya, Janis pun terlihat langsung loncat dari tempat tidur dan mengikuti kami.
Saat kami tiba di ruang tengah tampak Wendy terbaring di sofa dan Om Broto duduk di sampingnya dan menyuguhinya dengan seribu pertanyaan.
“Udahlah Pah, besok aja tanya-tanyanya. Kasian Wendy” Ucap Tante saat melihat Wendy yang tampak sangat mengkhawatirkan. “Mbok, ambilin air hangat sama anduk trus alkohol”.
Tanpa banyak bertanya Mbok Sri langsung menuju dapur.
Aku, Janis, dan Sasya hanya memandanginya tanpa tau harus berbuat apa. Darah mengucur di ujung bibirnya, bercak biru yang besar dan membengkak tampak di mulut, pipi, dan matanya.
“Tapi Mah, kita harus cari tau siapa yang bikin anak kita jadi begini” Ucap Om Broto dan matanya seperti hendak keluar, memperlihatkan kemarahannya yang teramat sangat.
“Udahlah pah besok aja!! Sekarang kita obatin dulu luka nya” Tak lama Mbok Sri datang dengan membawa air hangat,handuk, dan alkohol.
“Sini Tan, biar aku yang obatin” Aku langsung merebut baskom air hangat dari tangan Mbok Sri. Tante mengangguk dan Om Broto menyingkir, memberikan tempat untukku membersihkan luka Wendy.
Tante dan Om Broto meninggalkan kami ber empat, dan tampaknya mereka akan membicarakan sesuatu tentang kejadian ini.
Sasya dan Janis duduk di sofa yang lain.
“Lo kenapa sih Kak? Bisa sampe kayak gini” Tanya Sasya.
Wendy hanya tersenyum masam.
“Maaf ya Kak!!” Ucapku saat menempelkan handuk basah di bibirnya untuk membersihkan darah yang mengucur.
Wendy agak sedikit meringis kesakitan.
“Kalian gak usah khawatir, Kakak gak kenapa-kenapa” Ucap Wendy
“Nggak kenapa-kenapa gimana, lo ampe kayak gini Kak, masa lo bilang gak kenapa-napa!!” Sasya agak sedikit sewot.
Aku dengan telaten masih membersihkan luka Wendy.
Wendy tidak menjawab pertanyaan adiknya dan tersenyum padaku.
“Makasih ya”
Aku mengangguk dan tersenyum.
JJJJ

Tidak ada komentar:
Posting Komentar