Karya : EL

Minggu, 14 Agustus 2011

Part 6.1


Kembalilah Senyuman Itu...



Suara detak jantungku lebih cepat dari langkah kakiku. Aku susuri setiap lorong rumah sakit ini mencari ruangan dimana Wendy dirawat. Aku khawatir dan sangatlah khawatir... Aku berharap saat aku membuka pintu, Wendy yang sedang terbaring bisa tersenyum kepadaku dan berkata Kakak gak apa-apa Vio dan semua yang hadir disitu juga tersenyum tanpa tangisan.
Ya aku berharap seperti itu...
Aku percepat langkah kakiku. Rasa khawatir ini terus menderaku.
Suara bencana itu terus mengiang di telingaku, Wendy kritis, Wendy tidak bsia diselamatkan. Terus dan terus suara itu tak henti-hentinya berbicara.
Aku berlari ke ujung bangsal, melihat berkeliling dengan kalut.
Dan tibalah aku di depan ruangan tempat Wendy di rawat. Aku terdiam sebentar, ragu-ragu saat aku akan masuk ke dalamnya, mengapa aku agak sedikit ketakutan menghadapi kenyataan, tapi aku harus kuat. Aku percaya Wendypun kuat dan dia gak akan kenapa-kenapa.
Aku buka pintu ruangan itu, ya dan aku melihat Wendy terbaring lemah di depanku dengan kabel infus dan alat bantu pernapasan menempel di badannya dan orang-orang yang dikasihinya berdiri mengelilingi. Senyuman yang kuharapkan itu tidak ada, bahkan sapaan khas dari Wendy juga tidak ada.  Dia terbaring amat diam.
Semua yang berada di ruangan itu, Janis, Tante dan Om Broto, menatapku dengan rasa pilu. Aku masih berdiam di ambang pintu. Ku langkahkan kaki perlahan, sangat berat sekali. Terlihat air mata masih menggenang di pelupuk mata Tante Broto.
“Vio” Ucap Tante Broto lirih.
Aku mendekat dan menghampiri Tante Broto yang berdiri tepat di sebelah Wendy yang sedang terbaring.
Aku menatap Tante Broto dan menyeka air matanya.
“Tante harus kuat, Vio yakin Kak Wendy kuat dan bisa ngelaluin ini semua” Ucapku lalu memandang ke arah Wendy. Ingin sekali aku membelai lembut wajahnya yang kini penuh dengan luka. Hati ini ingin menangis, tapi aku gak mau membuat Tante Broto makin sedih.
“Kak Wendy berhasil lolos dari masa kritisnya Vi” Ucap Janis dan seketika membuat hatiku agak sedikit tenang.
“Syukurlah” Ucapku sambil tersenyum ke arah Tante Broto.
“Ya udah Mah, mending sekarang Mama sama Papa pulang aja. Dari semalam Mama gak tidur kan, sekarang kalian istirahat aja dulu. Biarin Aku sama Vio yang jagain Kak Wendy di sini, lagian sebentar lagi Sasya juga bakal kesini” Ucap Janis.
Tante Broto mengangguk.
“Kamu gak apa-apa kan Vi, kalau di sini dulu jagain Wendy”
“Gak apa-apa Tante. Tante tenang aja ya” Ucapku sambil mengelus lembut pundak Tante Broto.
“Ya udah kalian baik-baik disini ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi Om” Kata Om Broto sambil merangkul istrinya.
“Iya Pah, hati-hati di jalan yah”
Mereka berdua pun meninggalkan kami.
Janis sudah tampak lelah. Dia merebahkan dirinya di sofa yang terdapat di ruangan ini.
Dan aku sendiri, duduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang Wendy.
“Kejadiannya kapan Jan?” Tanyaku sambil terus memandangi Wendy. Tak sadar tanganku mengelus-ngelus rambutnya.
Kini hatiku merasa lebih tenang ketika mengetahui kalau Wendy sudah bisa melalui masa kritisnya.
“Waktu malem, kata orang-orang yang ngeliat kejadiannya langsung. Ada mobil yang sengaja nabrak motor Kakak.”
“Sengaja??” Ucapku kaget.
“Iya, sekarang pun polisi masih nyelidikin kasusnya”
Tiba-tiba fikiranku langsung mengarah kepada Dira. Ada sedikit kecurigaan diriku kepadanya. Siapa lagi orang yang bisa ngelakuin ini kepada Wendy selain Dira.
“Kayaknya....”
“Kayaknya apa Vi?”
“Hmmhh nggak Vi..” Ku urungkan niatku untuk memberitahukan kecurigaan ini. Aku belum punya bukti yang kuat.
“Ah tadi lo mau ngomong apa cepetan?”
“Kayaknya dari tadi gue gak liat Sasya yah?” Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Oh.. tadi pagi-pagi dia balik ke rumah. Nyiapin barang-barang yang dibutuhin buat di sini”
“Ohh..” Jawabku singkat.

JJJJ

Gelap.. Semuanya kosong, hanya kegelapan yang bisa ku lihat.
Namun aku melihat ada setitik cahaya, jauh di sana. Aku berjalan mendekati cahaya itu, tapi kenapa dia menjauh, semakin jauh, bahkan kini sangat jauh.
Aku berlari mengejarnya. Aku gak mau terperangkap dalam kegelapan ini. Kenapa sulit sekali mencapainya. Aku mulai kelelahan, dan aku terduduk. Sepertinya cahaya itu akan menghilang, dan aku menyerah, ya.. aku lelah.
Tapi tunggu dulu, cahaya itu kini mendekatiku. Semakin dekat dan cahaya itu ternyata berasal dari nya. Seorang anak laki-laki sekitar usia dua tahun berlari ke arahku, bahkan dia memelukku.
Aku balas memeluknya, hangat sekali. Dia mencium pipiku lembut, Manis sekali anak ini.
“Mana Mama sama Papa kamu?” Tanyaku sambil mengelus-elus rambutnya.
Aku memandang ke sekeliling, namun yang ada hanya gelap. Apakah dia terjebak sama sepertiku. Terjebak dalam kegelapan ini, sendirian... tidak.. tidak sendirian lagi, tapi berdua, ya kita berdua.
Aku mendekap anak itu. Kini aku tidak sendiri di dalam kegelapan ini. Anak itu begitu manis dan tampan. Dia membelai lembut pipiku dan tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang baru akan tumbuh. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki.
Semakin mendekat membuatku makin mengeratkan dekapan pada anak itu.
“Maaf, dia anakku !!” Aku langsung mencari arah suara itu.
Tepat seorang wanita berambut sebahu, berdiri dibelakangku yang sedang terduduk dan memeluk anaknya.
“Oh ya, dia anakmu. Sangat manis” Ucapku sambil tersenyum. Anak itu melepaskan pelukanku dan menghampiri ibunya.
Aku lalu berdiri.
Tiba-tiba dari kegelapan, seseorang muncul dan berdiri di belakang wanita itu.
Siapa orang itu, sepertinya aku kenal.
“Papa” Anak itu langsung berlari ke arahnya, ya dan sekarang aku mengenalnya. Wajah itu tidak asing buatku.
“Jadi dia anakmu Eza. Dan dia istrimu?” Nada suaraku agak sedikit bergetar.
Eza hanya mengangguk.
“Kita pergi sekarang” ucap wanita itu sambil mendelik ke arahku.
“Eza, aku ingin memeluk anak itu sekali lagi” Ucapku parau.
Tapi wanita itu menarik Eza, dan mereka menjauh makin menjauh.
Kegelapan lagi yang sekarang menyelimutiku. Aku kini sendiri, aku ingin keluar dari tempat ini. Semuanya sungguh menyakitkan.
“Vio.. Vioo...!!” Aku yakin itu hanya suara bencana yang menertawai keadaanku.
Aku kini sendiri tidak ada siapa-siapa di sini, di kegelapan ini.
“Vio... Vi.. Vio..!!” Tidak itu bukan suara bencana. Suara itu sepertinya aku kenal.
Suara berat laki-laki itu aku kenal. Dia makin keras memanggilku. Ya itu suara dia.. suara Wendy.....!!!

JJJJ

1 komentar:

Spinning Heart Heart