Karya : EL

Selasa, 22 November 2011

Part 7.3

Bukan Akhir Dari Segalanya



Pelan-pelan aku melangkah menaiki setiap anak tangga, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun, walaupun memang sulit. Sampai akhirnya aku tiba di depan kamar yang pintunya selalu tidak tertutup rapat sehingga ada celah untuk aku bisa mengintipnya.
Di depan pintu itu tertempel tulisan ‘Stop !! Ini Kawasan Wendy’ aku tidak menggubrisnya, malah aku melongokan kepalaku ke dalam kamar. Sudah aku duga, dia masih duduk dikursi roda itu masih menatap ke arah luar jendela.
Aku pun membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Aku berjalan menghampirinya pelan-pelan, sambil melihat ke sekeliling kamar. Rupanya lukisan gambar Dira sudah tidak ada. Entah kenapa ada kepuasan dalam batinku, tapi aku segera menepisnya.
Wendy masih belum menyadari keberadaanku.
“Kak?” Sapaku pelan, saat aku sudah berada disampingnya.
Wendy menengok ke arahku “Eh Vio, akhirnya kamu datang juga ya. Kakak udah nungguin kamu dari tadi”
Aku merasa Wendy sangat antusias, mungkin karena aku telah memberikan harapan kepadanya untuk bisa melukis lagi. Oh Tuhan, aku gak mau Wendy kecewa.
“Berkat kamu Vi, sekarang Kakak lebih bersemangat untuk ngejalanin hari-hari Kakak. Sekarang Kakak yakin bisa sembuh.” Ucapnya.
Tanpa sadar aku menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tidak gatal.
“Ehmmm... iya iya Kak, Kakak pasti bisa sembuh”
“Iya Vio, Yaudah mending sekarang kita ke studio lukis yuk. Semenjak kecelakaan itu, Kakak belum pernah masuk ke sana lagi”
“Eh iya iya Kak..” Aku langsung memutar kursi rodanya ke belakang dan membawanya menuju studio lukis milik Wendy.
Setibanya di sana, tampak studio itu kini lebih rapi. Mungkin karena Wendy sudah tidak bisa melukis lagi sehingga studio itu tidak terpakai dan hanya dibersihkan saja ruangannya oleh si Mbok.
“Hmmhh.. ini terlalu rapi” Gumam Wendy.
“Kenapa Kak?”
“Iya seharusnya studio lukis itu nggak serapih ini, jadi gak ada seninya Vi” Ucap Wendy sambil terus memandang ke sekeliling ruangan.
“Kakak mah ada-ada aja. Berarti yang namanya seni itu harus kotor dan berantakan ya?” Tanyaku sedikit tertawa, sambil mendorong kursi rodanya menuju kanvas kosong.
“Ya gak gitu juga Vi hehehee...” Wendy malah tertawa malu. “Beneran nih Vi, Kakak bisa ngelukis lagi?” Tanya Wendy sambil memandangi kanvas kosong tadi dengan penuh harapan.
Aku berjalan dan merunduk di sampingnya.
“Seni itu datangnya dari hati dan fikiran. Tangan, Kaki, dan alat jasmani lainnya, itu hanya sebuah alat” Ucapku sambil memegang lembut tangannya. “Kakak harus yakin !!” Bisiku ditelinganya.
Aku beranjak menyiapkan alat-alat untuk melukis. Aku yakin, aku bisa melakukannya.
Aku memegang koas yang sudah di celupkan kedalam cat warna lalu aku meraih tangan Wendy. Aku berusaha mencengkramkan koas itu di genggaman Wendy dengan tanganku.
“Sekarang Kakak pejamkan mata Kakak. Bayangkan apa yang ada di fikiran Kakak lalu gambarkan”
Wendy memejamkan matanya. Aku menggenggam erat dan menggerak-gerakan kepalan tangan wendy yang sedang mencengkram koas, berusaha seolah-olah dialah yang menggerakan sendiri tangannya.
Aku berusaha masuk ke fikirannya. Aku ingin tau apa yang sedang di fikirkannya. Tapi aku tidak bisa. Aku bingung, harus menggambar apa. Aku malah menggambar garis-garis tidak beraturan.
Aku ingin menangis, saat Wendy membuka matanya pasti dia akan sangat kecewa, pasti !!
“Udah Vi? Kakak boleh buka mata sekarang?” Pertanyaan Wendy sontak membuatku bingung.
Dengan suara parau dan tidak yakin akhirnya aku membolehkannya membuka mata “Iya.. Boleh kak”
Perlahan Wendy membuka matanya.
“.......” Wendy terdiam
“Maafin aku Kak, aku... aku... aku gak bisa buat Kakak seneng. Aku malah ngecewain Kakak” Tangisku meledak.
“Vio...”
Aku hanya menangis sambil bersimpuh di sampingnya.
“Vio, dengerin Kakak. Kakak bisa menyampaikan isi fikiran Kakak lewat kamu Vi. Kakak bisa ngelukis lagi” Suara berat Wendy terdengar seperti takjub.
“Maksud Kakak ??” Tanyaku  masih gak mengerti. Sambil menghapus air mata dengan tanganku.
“Kamu liat, garis-garis yang kamu buat tadi menggambarkan kekalutan hati dengan garis-garis yang saling berbelit kesana kemari tanpa arah”
“Terus?”
“Itu yang memang sedang Kakak fikirkan Vi. Kakak memang lagi kalut, fikiran Kakak gak bisa fokus, yang ada difikiran Kakak hanya ada garis-garis yang tidak beraturan. Makasih ya Vi, cara kamu berhasil.” Wendy tersenyum ke arahku.
Aku sendiri bingung dan kaget. Apa benar semua yang diucapkan oleh Wendy tadi, atau dia hanya tidak ingin membuatku kecewa dan menangis.
“Udah ah jangan nangis lagi, jelek tau hehe... sini biar tangan Kakak yang usap air matanya”
Aku tersenyum malu, lalu meraih tangannya dan mengusapkannya ke wajahku.
“Sini coba liat mukanya, udah gak nangis lagi kan”
Saat aku menyadari, ternyata wajah kami berdekatan, tiba-tiba jantungku memompa lebih kencang dan berdegup lebih cepat.
Tanganku masih menggenggam tangannya, hangat rasanya. Entah kenapa, kami terdiam, mata kami saling bertatapan. Aku gak bisa melepaskan pandangan ini, dan saat ini aku terpaku.
Wajahnya kini mendekat, aku hanya bisa memejamkan mata dan aku merasakan hangat bibirnya berpagutan dengan bibirku. Hembusan nafasnya terasa begitu dekat. Aku gak bisa berhenti, aku ingin terus bersamanya. Aku mulai merasakan getaran perasaan itu.
Tiba-tiba aku tersadar. Ini gak boleh terjadi. Sontak aku melepaskannya dan mendorong Wendy pelan.
“Ini kesalahan Kak, ini gak boleh terjadi” Ucapku masih tak percaya dan hanya menunduk tak berani melihat wajahnya.
Mungkin saat ini muka ku telah merah padam. Aku malu
Lama kami terdiam, tak ada sepatah katapun yang kami ucapkan
“Vio” Suara berat itu memulai percakapan
Aku memberanikan diri melihat wajahnya.
“Maafin Kakak ya Vi, gak seharusnya hal itu terjadi. Kakak udah lancang Vi, maafin Kakak” Ucapnya penuh dengan penyesalan.
Aku hanya diam, entah kenapa aku jadi salah tingkah. Aku bingung harus menanggapinya seperti apa.
“Lupain aja Kak, hehee... jadi kaku gini sih” Aku menguatkan diri lalu berusaha bersikap seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa yang tadi kita lakukan.
“Maafin Kakak Vi”
“Udah lah kak, lupain aja. Ayo sekarang kita ready ke kamar Kakak. Waktunya Kakak istirahat” Ucapku berusaha terlihat ceria sambil berdiri menghampirinya dan mendorong kursi rodanya menuju kamar Wendy.
“Makasih ya Vi” Ucapnya sambil meneloh ke belakang dan tersenyum.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman, berusaha menutupi degupan jantungku yang masih terlalu cepat berdetak. Kejadian tadi akan sangat sulit aku lupakan. Walaupun aku akan terus berusaha mengganggap hal tadi tidak pernah terjadi.

JJJJ

Sabtu, 19 November 2011

part 7.2

Bukan Akhir Dari Segalanya




Do you have the time
To listen tell me why
About nothing and everything
All at once...

Terdengar suara alunan lagu Basket Case nya Greenday dari Handphone ku. Aku yang saat itu sedang duduk di teras kosan sambil melihat anak-anak kecil yang bermain bola di jalanan yang hanya setapak, berebut dengan orang-orang yang lewat dan motor-motor yang berlalu lalang. Dengan terburu-buru aku berlari ke dalam kamar dan mengambil Hp yang terletak di kasur. Terlihat di layar Hp Janis memanggil.
“Halo” Ucapku.
“Vio, ada yang mau ngomong nih”
“Siapa?”
“Ehm.. hai Vi” Terdengar suara berat yang tak asing lagi bagiku.
“Oh iya Kak, gimana kondisi Kakak?” Tanyaku, entah kenapa agak gugup.
“Jauh lebih baik Vi”
“Syukurlah” Senyum mengembang di sudut bibirku.
“Vio, Kakak pengen ngelukis lagi” Suaranya sedikit lebih parau.
“Ehm.. ya Vio tau Kak. Kakak bisa kok ngelukis lagi”
“Caranya?”
“Nanti aku kasih tau besok yah. Besok aku ke rumah Kakak” Ucapku mencoba membuat Wendy bahagia, dan sepertinya berhasil.
“Kakak tunggu ya Vio, makasih buat segalanya. Kakak merasa lebih tenang kalau udah denger suara kamu” Perkataan Wendy membuat hatiku seperti digelitik.
Kana masuk kamar dan menatap heran ke arah ku yang tak sadar senyum-senyum sendiri dan mungkin ada rona merah di pipiku.
“See u Vio”
“See u too Kak” Aku letakan Handphone di atas kasur kembali.
“Ih Vio, kenapa nih? Kok seneng gitu sih, abis di telfon sama siapa?” Goda Kana sambil menempelkan jari telunjuknya di hidungku.
Aku hanya mendelik ke arahnya dan meninggalkannya menuju teras kembali. Kana tampaknya penasaran dan mengikuti dari belakang sambil mengintil dengan pertanyaan-pertanyaannya.
“Ih Vio !!!” Kesalnya karena aku tidak mengindahkan pertanyaan-pertanyaan bodohnya.
“Hahaha, kenapa sih Kana sayang?”
“Kok malah nanya balik sih, gue tuh lagi nyium bau-bau cinta dari lo”
“Bau cinta? Masa sih Na?” Aku agak sedikit kaget dengan ucapan Kana.
“Iya Vio, ayo jujur sama gue. Lo suka ya sama Kak Wendy?” Aku diam dan entah kenapa mukaku seakan panas. “Okk gak perlu jawab. Dari rona merah di pipi lo, itu udah ngejawab semuanya hahaa..”
“Ihhh Kana, apaan sih?”
“Hayooo, lo gak bisa boongin gue Vi !!!” Kana duduk disebelahku sambil memainkan dan menggulung kecil-kecil rambutku dengan telunjuknya.
“Gue gak tau Na, tapi gak mungkin lah gue nyimpen perasaan sama Wendy. Dia udah gue anggap seperti kakak gue sendiri Na”
“Hmmhh.. perasaan itu datangnya dari hati Vi, bukan dari pikiran. Jangan boongin hati lo” Kana tersenyum teduh kepadaku. “Sekarang coba lo jujur sama gue, apa yang lo rasain saat berhadapan sama Wendy?”
Aku diam sejenak. Jujur aku gak bisa menyimpulkan perasaan apapun, yang dirasakan saat aku berhadapan dengan Wendy. Semuanya terasa aneh.
Aku menggelengkan kepala.
“Gue gak tau Na, gue gak ngerti. Mungkin hanya empati, simpati atau...... hmhhhh” tak sadar aku mendenguh pelan.
“Ya.. ya... ya.. gue tau mungkin gak secepat itu lu nyimpulin perasaan apapun. Gue cuma seneng aja, akhirnya lo bisa ngelupain Eza, apa mungkin salah satu faktornya karena Wendy?”
“Nggak tau lah Na, gue bingung” Aku menelungkupkan wajah di pundak Kana.
“Hahahaha... dasar lo Vi. Ya apapun yang terbaik buat lo, gue pasti dukung kok. Gue seneng kalau liat lo seneng”
Aku tersenyum ke arahnya. Mudah-mudahan aku bisa menjawab semua perasaan ini, dan segera menceritakan bahkan memastikan pada sahabatku Kana kalau aku sedang jatuh cinta, mungkin.
Spinning Heart Heart