Karya : EL

Senin, 29 Agustus 2011

part 7.1

Bukan Akhir Dari Segalanya






Aku memandanginya dari sudut pintu kamar, melihat dirinya yang sedang terduduk di kursi roda memandang ke arah luar jendela, mungkin di fikirannya semua masalah sedang menari-nari. Tubuh itu kini renta, tak berdaya. Sosok itu kini harus bersahabat dengan kursi roda yang akan menjadi pelengkap agar dia bisa terus menjalani kehidupan.
Aku menghampirinya dan berdiri di sampingnya. Dia menoleh ke arahku dan menyambutku dengan senyuman khas nya, senyuman yang tak pernah hilang walaupun keadaan sudah berbeda saat ini.
“Vio” Suara berat itu menyapaku.
Aku memandanginya, lalu aku merunduk mencoba memperlihatkan senyuman yang sangat tulus.
“Kakak lagi apa? Jangan-jangan lagi mikirin aku yah” Godaku.
“Hmmhh..” Wendy hanya tersenyum.
Sebetulnya aku tau apa yang sedang difikirkannya. 5 hari bukan waktu yang cukup untuk menerima kenyataan kalau dirinya saat ini sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ya, 5 hari yang lalu dia harus menerima kenyataan dan harus mengubur impian-impian yang selama ini dia rajut.
5 hari yang lalu, sepertinya adalah hari yang sangat menakutkan untuk kita semua. Tante Broto menangis tak henti-henti saat dokter menyatakan kalau kedua tangan dan kaki Wendy lumpuh.
Wendy terus mengumpat dan mencaci maki Dira di ranjang tidurnya. Rupanya kecurigaanku sama dengan Wendy. Aku hanya bisa memandangi mereka dengan pilu.
“Kakak pengen ngelukis lagi Vi” Tiba-tiba Wendy menyadarkan lamunanku.
“Bisa kok” Jawabku singkat, sambil melirik nakal ke arahnya.
“Caranya?”
“Hmmhh.. rahasia”
“Hahaha.. kamu ini, pasti cuma ngehibur Kakak doang yah?”
“Aku serius” Jawabku, sebenarnya aku memang hanya ingin menghiburnya. Tapi aku yakin, aku dapat menemukan caranya.
“Terus??”
“Tapi jangan sekarang, nanti aja ya. Supaya Kakak penasaran” Kilahku.
“Vio, Kakak sekarang gak berguna. Mungkin sekarang Kakak hanya sampah atau benalu yang hanya merepotkan kalian aja”
“Kakak ngomong apaan sih? Jangan pesimis kayak gitu dong Kak”
“Tapi emang gitu kenyataannya Vi, liat sekarang. Apa yang bisa Kakak lakuin, Cuma duduk di kursi roda seharian, sampai kapan? Seumur hidup Kakak, Kakak hanya kayak gini. Apa bedanya sama sampah, Kakak gak bisa ngebahagiain semuanya, Kakak hanya jadi penderitaan semua orang”
“Kakak salah besar, ada kok yang bisa Kakak lakuin”
“Apa?”
“Kakak bisa ngebahagiain kita semua dengan ketegaran Kakak, Kakak bisa ngebuat kita tersenyum dengan senyuman Kakak, Kakak akan membuat kita menderita dengan tangisan Kakak, dan Kakak akan membuat kita hancur dengan kehancuran hati Kakak”
Wendy menangis dan terus menangis “ Kakak Janji ini tangisan terakhir Kakak, demi kalian semua”.

   JJJJ

“Komunikasi akan terjadi berawal dari komunikator yang menyampaikan isi pernyataan kepada komunikan, komunikan itu sendiri merespon dengan melakukan atau tidak melakukan feedback” Pak Wahyu terus saja mengulang kata-kata itu di mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi (PIK). Ya tapi ini membuat kami para mahasiswa menghafalnya di luar kepala.
Saat ini otakku tampaknya tidak bisa langsung menyerap apa yang sedang pak Wahyu jelaskan. Fikiranku tampaknya sedang berjalan-jalan ke arah Bogor dan mencari-cari sosok Wendy, aku khawatir padanya, semoga dia baik-baik saja.
Aku berusaha memahami semua pelajaran yang masuk, tapi ilmu itu selalu terpental jauh dan tidak masuk ke dalam otakku. Uh, ini membuatku tidak tenang. Sampai pada akhirnya jam kuliah pun telah usai, dengan terburu-buru aku meninggalkan kelas itu.
“Vio” Panggil seseorang dan aku berhenti.
“Kenapa Dy?”
“Temenin gue makan yuk di kantin !” Ajak Ady, aku hanya mengangguk.
Sesampainya di kantin,
“Lo mau mesen apa Vi”
“Gue gak makan, minum aja” Ucapku.
“Ibu, pesen batagor nya satu, sama teh botolnya dua yah” Lalu kami pun duduk di kursi.
“Hmmmhh” Tak sadar aku mendengus.
“Lo kenapa sih Vi? Dari tadi gue liat di kelas, fikiran lo kayak gak fokus. Lagi mikirin apaan sih?”
“Nggak kenapa-kenapa kok Dy”
“Boong, pasti istri Eza atau Eza ganggu lo lagi ya?”
“Bukan, bukan itu Dy, ini tentang Kak Wendy”
“Kak Wendy?” Tanya Ady heran, berbarengan dengan datangnya makanan yang tadi dipesannya. “Makasih bu” Ucap Ady.
“Iya Kak Wendy, dia lumpuh sekarang. Gue khawatir banget ma dia” Ucapku sambil menyeruput minuman.
“Hmmh, emangnya gak ada harapan buat sembuh ya?”
“Dokter sih bilang kemungkinannya kecil. Tapi gue sih yakin Kak Wendy bisa sembuh Dy” Ucapku sambil menyuap batagor mililk Ady ke dalam mulutku.
“Iya lah Vi, semuanya Tuhan yang nentuin bukan Dokter”
“Eh iya gue tuh punya kecurigaan, tapi gue takut ngomongin ke orang soalnya gue gak punya bukti yang kuat”
“Kecurigaan apa?”
“Gue curiga kalau kecelakaan itu emank sengaja di rencanain”
“Maksudnya?”
“Dira ada di belakang semua ini. Kak Wendy pun berfikiran sama ama gue”
“Dira tunangannya Wendy? Kok bisa?”
“Ihh dia bukan tunangannya Kak Wendy lagi tau”Ucapku setengah ngotot.
“Lah kan gue gatau haha... kok lo jadi ngotot. Nah lo, ada something-something nih kayaknya hahahaaa” Ady memandang nakal ke arahku.
Something-something apaan sih.”
“Cieeeee, mukanya merah tuh.. ketauan banget sih, malu yah.” Ady terus saja menggodaku.
Aku dengan malu menutup muka dengan kedua tanganku, sepertinya ada yang salah dengan perasaanku. Kenapa ini?

Jumat, 26 Agustus 2011

Part 6.2


Kembalilah Senyuman Itu...







Aku terbangun dari mimpi itu. Rupanya aku tertidur.
“Vio.. Vio.. !!” Suara berat itu. Suara Wendy.
Aku langsung terlonjak dari tidurku. Aku yang tak sengaja tertidur di samping Wendy sambil menelungkupkan kepala dan tanganku di kasurnya langsung berdiri dan menatap Wendy.
“Kak Wendy !! Kakak udah sadar?” Ucapku dengan suara yang masih agak serak.
Wendy hanya mengangguk lemah.
Aku langsung menghampiri Sasya dan Janis yang tertidur di sofa.
“Janis.. Sasya.. bangun bangun !!” Ucapku sambil menggoyang-goyangkan badan mereka satu persatu.
Sasya hanya menggeliat, tapi Janis tampak mulai membuka matanya.
“Apaan sih Vi?”
“Kak Wendy sadar, cepetan bangun ihhh!!” Kataku agak kesal, dan masih menggoyang-goyangkan tubuh mereka terutama Sasya.
“Apa Kak Wendy sadar?” Janis langsung tersadar dan membangunkan Sasya “Sya bangun Sya.. Kak Wendy udah sadar”.
Sasya langsung terlonjak dari tidurnya dan terduduk. “ Hah Kak Wendy sadar?”
“Cepetan bangun bangun ah..” Ku tarik tangan mereka berdua membawanya ke hadapan Wendy.
“Vio.. Janis.. Sasya... kenapa ini?” Tiba-tiba Wendy cemas.
“Kenapa kak?” Ucapku sambil menghampirinya.
“Iya kenapa kak?” Janis dan Sasya juga menjadi panik.
“Ini Vi, Kakak gak bisa ngerasain kaki sama tangan, dua-duanya gak bisa digerakin”
Aku langsung mendekatinya dan menyentuh tangan Wendy. Wendy menggelengkan kepala.
“Sya, cepetan panggil dokter !” Sasya mengangguk dan setengah berlari dia meninggalkan ruangan.
“Kakak jangan panik ya, Kakak pasti baik-baik aja” Kata Janis.
“Baik gimana Jan, Kakak gak bisa ngegerakin semuanya. Kakak lumpuh !!!”
“Syyyyt kakak jangan ngomong kayak gitu yah !!” Ucapku sambil menutup mulutnya dengan satu jari. “Jan telfon Om sama Tante, kabarin mereka kalau Kak Wendy udah sadar”
Janis langsung mengeluarkan Hp nya dan menghubungi Om Broto.
“Vio, hidup kakak sekarang gak berguna” Ucap Wendy. Nada suaranya masih terdengar sangat lemah.
“Kakak gak boleh ngomong kayak gitu, aku yakin Kakak baik-baik aja”
Aku tau suasana hatinya, aku seakan bisa masuk ke dalam perasaannya. Seorang Wendy bisa menangis, ya ternyata seorang lelaki bisa menangis saat dirinya merasa tidak berguna.
Tak lama seorang lelaki berkacamata lengkap dengan peralatan medisnya membuka pintu kamar, Sasya dan dua orang suster berada di belakangnya. Ya, dia dokter yang akan memeriksa kondisi Wendy.
Wendy memandang ke arahku, dan aku mengangguk ke arahnya seolah-olah berkata Tenang Kak semuanya akan baik-baik aja.
Dokter itu memukul mukul lutut Wendy, namun Wendy menggeleng. Dia masih belum bisa merasakan apa-apa. Beberapa lama dokter itu masih terus memeriksa Wendy, kami ber tiga hanya duduk diam di sofa dan menatap kosong ke arah mereka.
“Hmhh.. kalian keluarganya Wendy?” Dokter itu menghampiri kami.
“Iya, kami adiknya”
“Orang tua kalian mana? Ada yang mau saya bicarakan”
“Lo udah telfon mama sama papa kan Jan?” Tanyaku
Janis hanya mengangguk meng’iya’kan.
“Yaudah, Wendy sudah saya beri obat penenang, nanti kalau orangtua kalian udah datang, saya tunggu di ruangan saya.” Dokter dan kedua perawat itu meninggalkan ruangan.
Wendy tampaknya tertidur setelah di berikan obat penenang oleh dokter tadi.
“Gue khawatir!!” Ucapku sambil menghampiri Wendy yang sedang terbaring
“Sama gue juga Vi” Kata Janis.
“Ya sekarang kita berdoa aja, semoga Kak Wendy gak kenapa-kenapa ya” Sasya menenangkan suasana. Aku tersenyum. Ya mudah-mudahan Wendy gak kenapa-napa. Doa ku dan orang-orang terdekatnya akan selalu menyertainya. 

Minggu, 14 Agustus 2011

Part 6.1


Kembalilah Senyuman Itu...



Suara detak jantungku lebih cepat dari langkah kakiku. Aku susuri setiap lorong rumah sakit ini mencari ruangan dimana Wendy dirawat. Aku khawatir dan sangatlah khawatir... Aku berharap saat aku membuka pintu, Wendy yang sedang terbaring bisa tersenyum kepadaku dan berkata Kakak gak apa-apa Vio dan semua yang hadir disitu juga tersenyum tanpa tangisan.
Ya aku berharap seperti itu...
Aku percepat langkah kakiku. Rasa khawatir ini terus menderaku.
Suara bencana itu terus mengiang di telingaku, Wendy kritis, Wendy tidak bsia diselamatkan. Terus dan terus suara itu tak henti-hentinya berbicara.
Aku berlari ke ujung bangsal, melihat berkeliling dengan kalut.
Dan tibalah aku di depan ruangan tempat Wendy di rawat. Aku terdiam sebentar, ragu-ragu saat aku akan masuk ke dalamnya, mengapa aku agak sedikit ketakutan menghadapi kenyataan, tapi aku harus kuat. Aku percaya Wendypun kuat dan dia gak akan kenapa-kenapa.
Aku buka pintu ruangan itu, ya dan aku melihat Wendy terbaring lemah di depanku dengan kabel infus dan alat bantu pernapasan menempel di badannya dan orang-orang yang dikasihinya berdiri mengelilingi. Senyuman yang kuharapkan itu tidak ada, bahkan sapaan khas dari Wendy juga tidak ada.  Dia terbaring amat diam.
Semua yang berada di ruangan itu, Janis, Tante dan Om Broto, menatapku dengan rasa pilu. Aku masih berdiam di ambang pintu. Ku langkahkan kaki perlahan, sangat berat sekali. Terlihat air mata masih menggenang di pelupuk mata Tante Broto.
“Vio” Ucap Tante Broto lirih.
Aku mendekat dan menghampiri Tante Broto yang berdiri tepat di sebelah Wendy yang sedang terbaring.
Aku menatap Tante Broto dan menyeka air matanya.
“Tante harus kuat, Vio yakin Kak Wendy kuat dan bisa ngelaluin ini semua” Ucapku lalu memandang ke arah Wendy. Ingin sekali aku membelai lembut wajahnya yang kini penuh dengan luka. Hati ini ingin menangis, tapi aku gak mau membuat Tante Broto makin sedih.
“Kak Wendy berhasil lolos dari masa kritisnya Vi” Ucap Janis dan seketika membuat hatiku agak sedikit tenang.
“Syukurlah” Ucapku sambil tersenyum ke arah Tante Broto.
“Ya udah Mah, mending sekarang Mama sama Papa pulang aja. Dari semalam Mama gak tidur kan, sekarang kalian istirahat aja dulu. Biarin Aku sama Vio yang jagain Kak Wendy di sini, lagian sebentar lagi Sasya juga bakal kesini” Ucap Janis.
Tante Broto mengangguk.
“Kamu gak apa-apa kan Vi, kalau di sini dulu jagain Wendy”
“Gak apa-apa Tante. Tante tenang aja ya” Ucapku sambil mengelus lembut pundak Tante Broto.
“Ya udah kalian baik-baik disini ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi Om” Kata Om Broto sambil merangkul istrinya.
“Iya Pah, hati-hati di jalan yah”
Mereka berdua pun meninggalkan kami.
Janis sudah tampak lelah. Dia merebahkan dirinya di sofa yang terdapat di ruangan ini.
Dan aku sendiri, duduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang Wendy.
“Kejadiannya kapan Jan?” Tanyaku sambil terus memandangi Wendy. Tak sadar tanganku mengelus-ngelus rambutnya.
Kini hatiku merasa lebih tenang ketika mengetahui kalau Wendy sudah bisa melalui masa kritisnya.
“Waktu malem, kata orang-orang yang ngeliat kejadiannya langsung. Ada mobil yang sengaja nabrak motor Kakak.”
“Sengaja??” Ucapku kaget.
“Iya, sekarang pun polisi masih nyelidikin kasusnya”
Tiba-tiba fikiranku langsung mengarah kepada Dira. Ada sedikit kecurigaan diriku kepadanya. Siapa lagi orang yang bisa ngelakuin ini kepada Wendy selain Dira.
“Kayaknya....”
“Kayaknya apa Vi?”
“Hmmhh nggak Vi..” Ku urungkan niatku untuk memberitahukan kecurigaan ini. Aku belum punya bukti yang kuat.
“Ah tadi lo mau ngomong apa cepetan?”
“Kayaknya dari tadi gue gak liat Sasya yah?” Ucapku berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Oh.. tadi pagi-pagi dia balik ke rumah. Nyiapin barang-barang yang dibutuhin buat di sini”
“Ohh..” Jawabku singkat.

JJJJ

Gelap.. Semuanya kosong, hanya kegelapan yang bisa ku lihat.
Namun aku melihat ada setitik cahaya, jauh di sana. Aku berjalan mendekati cahaya itu, tapi kenapa dia menjauh, semakin jauh, bahkan kini sangat jauh.
Aku berlari mengejarnya. Aku gak mau terperangkap dalam kegelapan ini. Kenapa sulit sekali mencapainya. Aku mulai kelelahan, dan aku terduduk. Sepertinya cahaya itu akan menghilang, dan aku menyerah, ya.. aku lelah.
Tapi tunggu dulu, cahaya itu kini mendekatiku. Semakin dekat dan cahaya itu ternyata berasal dari nya. Seorang anak laki-laki sekitar usia dua tahun berlari ke arahku, bahkan dia memelukku.
Aku balas memeluknya, hangat sekali. Dia mencium pipiku lembut, Manis sekali anak ini.
“Mana Mama sama Papa kamu?” Tanyaku sambil mengelus-elus rambutnya.
Aku memandang ke sekeliling, namun yang ada hanya gelap. Apakah dia terjebak sama sepertiku. Terjebak dalam kegelapan ini, sendirian... tidak.. tidak sendirian lagi, tapi berdua, ya kita berdua.
Aku mendekap anak itu. Kini aku tidak sendiri di dalam kegelapan ini. Anak itu begitu manis dan tampan. Dia membelai lembut pipiku dan tersenyum memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang baru akan tumbuh. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki.
Semakin mendekat membuatku makin mengeratkan dekapan pada anak itu.
“Maaf, dia anakku !!” Aku langsung mencari arah suara itu.
Tepat seorang wanita berambut sebahu, berdiri dibelakangku yang sedang terduduk dan memeluk anaknya.
“Oh ya, dia anakmu. Sangat manis” Ucapku sambil tersenyum. Anak itu melepaskan pelukanku dan menghampiri ibunya.
Aku lalu berdiri.
Tiba-tiba dari kegelapan, seseorang muncul dan berdiri di belakang wanita itu.
Siapa orang itu, sepertinya aku kenal.
“Papa” Anak itu langsung berlari ke arahnya, ya dan sekarang aku mengenalnya. Wajah itu tidak asing buatku.
“Jadi dia anakmu Eza. Dan dia istrimu?” Nada suaraku agak sedikit bergetar.
Eza hanya mengangguk.
“Kita pergi sekarang” ucap wanita itu sambil mendelik ke arahku.
“Eza, aku ingin memeluk anak itu sekali lagi” Ucapku parau.
Tapi wanita itu menarik Eza, dan mereka menjauh makin menjauh.
Kegelapan lagi yang sekarang menyelimutiku. Aku kini sendiri, aku ingin keluar dari tempat ini. Semuanya sungguh menyakitkan.
“Vio.. Vioo...!!” Aku yakin itu hanya suara bencana yang menertawai keadaanku.
Aku kini sendiri tidak ada siapa-siapa di sini, di kegelapan ini.
“Vio... Vi.. Vio..!!” Tidak itu bukan suara bencana. Suara itu sepertinya aku kenal.
Suara berat laki-laki itu aku kenal. Dia makin keras memanggilku. Ya itu suara dia.. suara Wendy.....!!!

JJJJ

Jumat, 12 Agustus 2011

Part 5.2

Cinta Itu Mengapa Menyakitkan?



Semua orang berdesak-desakan.
Bau keringat dimana-mana, anak kecil yang kepanasan menangis meraung-raung membuat suasana makin tidak mengenakan dan pengap.
Hari Senin memang selalu seperti ini, bis tujuan Jakarta sangatlah penuh dan padat penumpang, bahkan aku sendiri tidak mendapat kursi duduk, dan aku harus berdiri berbarengan dengan mereka yang bernasib sama denganku.
Kejadian ini mengingatkanku pada masa setahun yang lalu.
Saat itu hari masih pagi, namun penumpang bis sudah sangat penuh. Aku harus berdiri karena semua tempat duduk telah terisi. Aku hanya berharap ada seseorang yang mau mengalah dan memberikan tempat duduknya untukku.
Hmmh.. tapi tampaknya gak mungkin, sebagian penumpang yang duduk, tertidur karena mungkin hari masih sangat pagi. Jarak Bogor-Jakarta bisa memakan perjalanan waktu selama satu jam, kalaupun tidak macet, tapi itu membuat tulang persendian kakikku lumayan pegal.
Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek pundakku. Aku sedikit terperanjat dan langsung menengok ke belakang Ternyata seorang bapak-bapak yang badannya sangat kekar tampak seperti Ade rai mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya.
“Terima kasih” Ucapku sambil tersenyum. Namun agak ngeri juga melihatnya.
“Sama-sama Dek, kasian kalau anak cewek harus duduk berdiri” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum, lalu duduk di tempatnya tadi.
Ternyata di sebelahku ada seorang cowok berkacamata dengan memakai sweater abu-abu dan celana pendek selutut. Dia seperti tidak menggubris keberadaanku di situ sama sekali, wajahnya tetap memandang ke luar kaca.
Akhirnya aku bisa melemaskan otot kakiku, setidaknya masih ada orang yang baik hati memberikanku tempat duduk.
“Tadinya gue yang mau ngasih lo tempat duduk, tapi keduluan sama Bapak yang baik hati itu” Aku yang sedang melamun agak sedikit kaget dan langsung melihat ke arah cowok disebelahku itu.
“Barusan lo yang ngomong?” Tanyaku bodoh, karena aku melihat wajahnya tetap menghadap ke arah luar.
Dia hanya mengangguk.
“Ohh..” Ucapku singkat dan bingung sambil menggaruk-garuk dahiku.
Tiba-tiba dia menengok ke arahku dan tertawa kecil.
“Eh kenapa ketawa?” Kataku sambil memandang heran ke arahnya.
“Nggak kenapa-kenapa, muka lo lugu amat sih!” Ucapnya kembali.
“Lugu gimana maksudnya mas,eh bang,ehhh kak?”
“Panggil gue Eza, kayaknya kita seumuran”
“Oh iya Eza, gue Vio” Upps sepertinya dia gak bertanya tentang namaku. Tapi ya udahlah...
“Mau kemana Vi?” Pertanyaan basa basi yang sering aku dengar dari orang lain.
“Pergi ke kampus” Jawabku singkat.
Begitulah, selama perjalanan kami berdua mengobrol ke sana kemari, sampai pada akhirnya dia cerita tentang kehidupan pribadinya. Sangat aneh memang, orang yang baru aku kenal langsung mempercayaiku begitu saja untuk menceritakan sesuatu hal yang sebenarnya sangat pribadi.
Entah kenapa aku  sedikit menaruh rasa kagum terhadapnya, kegigihannya untuk membuat orangtuanya bangga sangat aku acungi jempol, dia rela pergi merantau kemana-mana untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pada akhirnya di Jakarta ini dia mendapatkan pekerjaan yang lumayan layak, yaitu menjadi seorang desain grafis di salah satu perusahaan swasta.
“Macetnya parah. Mending dengerin musik aja nih” Ucapnya sambil memberiku sebelah headset ipod nya.
Aku tersenyum dan menerima tawarannya.
Sambil mendengarkan lagu, aku sempat-sempatnya mencuri-curi pandang ke arah Eza, dia tampak sangat manis, matanya yang tajam memang tersembunyi di balik kacamatanya namun saat dia menatapku, ketajamannya itu masih terasa dan membuat hatiku sedikit bergetar.
Terdengar lantunan lagu dari James Blunt yang berjudul Carry your home, Eza juga tampak ikut bernyanyi tanpa suara.


Trouble is her only friend and he’s back again
Makes her body older than it really is
She say’s it’s high time she went away
No one’s got much to say in this town
Trouble is the only way is down
Down.. down..
As Strong as you were, tender you go
I’m watching you breathing for the last time
A song for your heart, but when itis quiet,
I know what it means and i’ll carry yor home
I’ll Carry your home


Tiba-tiba hp ku bergetar sehingga menyadarkanku dari lamunan saat masa perkenalan aku dengan Eza dulu sekitar setahun yang lalu. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku tau ini bukan waktu yang tepat.
Masih sambil berdiri dan bersandar pada salah satu sisi kursi bis, aku membuka pesan sms yang yang tadi aku terima. Ternyata itu pesan dari Wendy.



From : Wendy’my brothers ^^
Vio km pst lg djln ya?
Maf td kk msh tdr, jd kk gtw klu km dah brgkt
Hti” y djln vi, mksh ya udh mw jd tmn crht kk..
Nnti kt crht”n lgi ya klu kmu ke sni, see u J


Aku tersenyum membacanya.
Selama beberapa hari ini aku menjadi lebih dekat dengan Wendy, dia menjadi lebih sering mencurahkan isi hatinya kepadaku. Masalah dengan Dira membuat hidupnya kacau, dan dia butuh pegangan, saat itulah aku ada dan dia membutuhkanku untuk membuatnya tidak terjatuh dan berpegang pada diriku.
Hp ku kembali bergetar, ada pesan masuk lagi. Dan ternyata masa lalu itu masih terus mencoba membayangiku.


From : Eza my-ex
Pagi, selamat beraktivitas Vio
Luv u ^^

JJJJ

“Udah ceria lagi ya non?” Ucap Ady saat menghampiriku yang sedang duduk di lantai lorong kampus.
Bau parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidungku.
“Ya ampun Dy, lo tuh kalau pake parfum sebotol langsung abis yah”Kataku sambil menutup hidung, bau parfumnya makin jelas kucium saat dia duduk disebelahku.
“Ah lebay lo. Ini tuh Wangi kali bukan bau, gak usah nutup hidung kayak gitu” Kata Ady
“Baunya bikin gue pusing tau gak !!” Ucapku sambil cemberut.
“Hehehe... protes mulu nih si Non”
“Kana mana?”
“Loh kok malah nanya gue, dia kan soulmate lo.” Jawab Ady
“Ih lo mah, kan tadi lo se kelas ma Kana. Gue lagi nungguin dia, katanya mau makan bareng di kantin”
“Mana gue tau.. Sms dong Non Vio sayang, jaman kan udah canggih sekarang heuuuu !!” Ucapnya sambil mencubit pipiku.
Aku menepis tangannya dan meninju pelan pundaknya.
Selalu saja begitu jika aku sedang berdua dengan sahabat terkonyolku itu.
Aku pun merogoh Hp yang ku simpan di kantong celanaku, ternyata ada satu pesan yang aku terima.
Hmmhh ternyata ada pesan MMS masuk, siapa yang mengirimkannya. Aku buka pesan itu dan aku sedikit kaget melihatnya. MMS itu ternyata dari Eza.
“Kenapa Vi?” Tanya Ady karena mungkin secara tak sengaja aku mendengus kecil.
“Ini liat Dy” Ucapku sambil memperlihatkan gambar yang ada di layar Hp ku.
Ady terlihat sedikit kaget melihatnya saat kutunjukan foto tangan yang memiliki tato berukir namaku ‘VIOLETA’. Lalu Ady tertawa kecil, entah apa yang lucu, tapi aku juga ikut-ikutan tertawa.
“Lo hebat ya Vi?”
Aku mendelik heran ke arahnya
“Lo udah bikin cowok itu tergila-gila sama lo, walaupun dia udah punya istri. Dan yang bikin gue salut, kebaikan lo itu udah bikin Eza ngerasa bersalah banget dan dia gak bisa maafin dirinya sendiri. Kebayang muka istrinya Eza saat tau suaminya ngukir nama cewek lain di tangannya”
“Ini tuh sebuah kesalahan Dy, gue takut kalau gue jadi perusak rumah tangga orang”
“Perusak? Bukannya mereka sendiri yang udah ngerusak hidup lo?”
“Hidup gue gak rusak Dy, gue masih baik-baik aja kan ??”
“Tapi otak lu kayaknya rusak deh Vi, kok lemotnya makin parah ya” Ledek Ady
“Sial !!!” Aku terus memukulinya, tapi Ady malah tertawa dan makin kencang saja tertawanya.
“Ehhhhhhh bocah-bocah, kalian pada ribut amat sih, makan yuk Vi.. laper!!!” Tiba-tiba Kana datang dan langsung saja menarik tanganku.
“Ada juga lo yang kemana aja, gue dari tadi nungguin lo huhh...” Kataku sambil berdiri. Ady juga tampaknya sudah kelelahan menertawaiku dan diapun berdiri.
“Ikut makan juga Dy?” Tanya Kana.
“Nggak deh gue mau ke perpus”
“Ohh yaudah.. yuk Vi, laper gue !!” Aku mengangguk dan menjulurkan lidah kepada Ady.
“Dasar bulet !!!” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
Lalu kami beranjak pergi dan berpisah.

JJJJ

Hidupku menjadi lebih ceria saat ini, walaupun Eza masih sering mengirimkan sms kepadaku tapi sekalipun aku gak pernah membalasnya. Ya itu saran dari Ady..
Awalnya dia sedikit geram saat mengetahui kalau Eza masih sering menghubungiku bahkan dia mau menelfon Eza dan memberinya peringatan agar tidak menganggu hidupku lagi. Tapi aku mencegahnya, aku sudah berjanji pada Eza kalau aku gak akan memutuskan hubungan pertemanan kita.
“Okk.. tapi gue yakin suatu saat nanti lo bakal sadar kalau lo emang harus ngilang sama sekali dari hidupnya Eza” ucap Ady sambil menatapku tajam.
Aku hanya mengangguk dan menunduk, entah kenapa saat Ady marah seperti ini aku selalu gak berani menatap matanya.
“Iya Dy, gue gak akan ngeladenin dia lagi, cuma gue minta lo jangan negur dia kayak gitu. Biarin aja, nantinya dia capek sendiri kok” Ucapku lemah.
“Asal lo jangan ngeladenin dia lagi, janji !!!” Aku menyilangkan kedua jariku kepadanya.
Dan semenjak saat itulah aku mencoba menjauhi Eza, tapi tampaknya itu tidak membuat Eza mundur, dia masih saja selalu mengirimkan sms-sms nya dari mulai perhatian sampai puisi-puisi indah di dalamnya.
Aku selalu berusaha untuk tidak terhanyut dan kalah oleh perasaan. Aku mencoba menguburnya dalam-dalam, aku gak mau merebut suami orang. Aku merasakan perasaan Istrinya Eza, aku membayangkan bila aku ada di posisinya, pasti bakal sakit sekali.
Untunglah ada sahabat-sahabatku yang selalu memberikan kebahagiaan yang teramat sangat sehingga aku bisa melupakan rasa sakit hatiku. Apalagi di tambah dengan hadirnya Wendy yang saat ini menjadi tempat keluh kesahku, begitupun sebaliknya aku juga menjadi tempat keluh kesahnya. Umurnya yang dewasa selalu memberikan  nasihat yang tidak menggurui namun bisa membuatku tenang.
“Vio, ini buku yang lo cari kan?” Kana menghampiriku di balkon lantai atas.
“Oh iya, lo nemu dimana?” Ucapku gembira saat melihat buku novel karya N.H Dini yang berjudul ‘Namaku Hiroko’ sedang dipegangnya. Kebetulan novel itu sudah lama hilang dan aku ingin sekali membacanya satu kali lagi bahkan berkali-kali lagi.
“Bukan nemu, tapi punya gue” Tiba-tiba Ady muncul dari balik pintu.
“Lah kok ada elo? Ngapain lo ke sini?”
“Mau nengokin non Vio hehe...”Ucapnya sambil tertawa.
“Ihh, kayak gak sering ketemu gue aja. Eh kok lu punya novel itu juga?” Tanyaku.
Bukannya menjawab, Ady malah menunjukan kesombongan dirinya dengan memukul-mukul dadanya.
“Nih Vi, gue mau ke bawah dulu ya, ngambil minum buat kita” Kana memberikanku buku itu lalu langsung pergi meninggalkan kita berdua.
“Tadi kita ngadain kerja kelompok di rumah gue, pas gue ajak Kana ke perpus pribadi gue tiba-tiba dia ngambil novel itu, trus katanya lo seneng banget baca novel itu.”
“Iya Dy, gue udah baca bukunya sampe abis, tapi pas gue pengen baca lagi eh gue lupa naronya dimana” Ucapku sambil terus memandangi buku itu.
“Dasar teledor”
Suara langkah kaki terdengar mendekat sepertinya langkah kaki itu agak berlari.
“Vio.. Vioo..” Terdengar seseorang memanggilku.
“Eh kenapa lo Na, ampe buru-buru kayak gitu” Ucapku saat menyadari ternyata orang itu Kana.
“Ini ada telfon” Ucapnya tergopoh-gopoh.
“Ohh.. dasar kirain ada apa,” Aku mengambil Hp ku dari genggaman Kana, dan ada seseorang yang memanggilku namun menggunakan private number.
“Siapa yah?” Ucapku sambil memandang heran ke arah Kana dan Ady.
“Angkat aja Vi” Kata Ady.
Aku mengangkat telfon itu.
“Halo Vio !!” Suara wanita itu langsung membentakku.
“Iya, ini siapa?”
“Gue istrinya Eza. Dan gue minta lo jangan ganggu suami gue lagi !!!” Bentaknya.
“Siapa yang ganggu suami lo, gak ada sedikitpun niat buat gue ngerebut Eza dari sisi lo” Jawabku tak terima atas tuduhannya.
Tiba-tiba Ady langsung mendekat dan merebut Hp dari tanganku. Kana hanya diam dan tercengang melihatnya.
“Denger ya nyonya Eza yang terhormat.. jangan salahin Vio dalam hal ini, salahin suami brengsek lo itu. Selama ini dia yang terus ngehubungin Vio !! Anggep aja ini semua karma buat kalian yang udah nyakitin Vio !!!” Kata Ady dengan nada keras.
Kana merangkul pundakku. Aku hanya diam gak bisa berkata apa-apa.
“Ok.. dengan senang hati Vio bakal ganti nomer, dan gak akan muncul di kehidupan  kalian lagi. Harus lo tau Vio udah jadi milik gue, dia tunangan gue dan gak mungkin dia ngerebut suami lo !!!” Aku agak sedikit kaget mendengar perkataan Ady.
“Itu cuma pura-pura Vi” Bisik Kana setengah tertawa.
Tampaknya Ady sudah mengakhiri percakapannya dengan istrinya Eza. Dia menatapku tajam, tatapan yang sangat tidak ku sukai.
“Gue udah bilangkan sama lo, hal ini pasti terjadi”Ucapnya sambil memberikan Hp kepadaku.
“Iya Dy, gue tau gue yang salah”
“Mau gak mau sekarang lo harus ganti nomer, supaya hidup lo tenang” Ucap Ady sambil berlalu.
“Lo mau kemana Dy?” Tanya Kana
“Gue mau balik !!” Jawabnya singkat, lalu pergi.
Beberapa detik aku dan Kana membisu.
Lalu aku memandang ke arah Kana.
“Dia bukan kesel sama lo, tapi dia cuma kesel sama istrinya Eza” Ucap Kana sambil membereskan rambutku. Aku sedikit tenang mendengarnya.
Tiba-tiba Hp ku kembali bergetar.
Kali ini Janis memanggil.
“Halo, kenapa Jan?”
“Vio lo harus ke Bogor sekarang juga, Kak Wendy kecelakaan dan sekarang kondisinya masih kritis !!”
“APAAA?????”

JJJJ

Senin, 08 Agustus 2011

Part 5.1

Cinta Itu Mengapa Menyakitkan?



Ikan ikan itu terus berenang ke sana kemari mencari ruang yang kosong untuk mendapatkan makanan yang tadi aku berikan pada mereka. Bahkan ada yang saling mendorong dengan ekor ekor mereka hanya untuk merebut makanan-makanan itu. Makin kusebar makanan itu, makin berkumpul ikan itu pada satu titik dimana makanan itu berada.
Ingin sekali aku ikut bersama mereka, bersama-sama berkumpul berenang kian kemari dan tidak ada yang difikirkannya lagi selain mendapatkan makanan tersebut. Mungkin aku akan bahagia bila menjadi mereka, tidak di suguhi oleh bermacam-macam masalah termasuk urusan cinta. Tapi apakah ikan bisa jatuh cinta? Pertanyaan yang bodoh hehe...
Aku masih terduduk sendiri di pinggir kolam ikan, masih sambil menebarkan makanan untuk ikan tersebut sedikit demi sedikit.
Tampaknya sudah cukup kuberi makan ikan ini. Baiknya aku membantu Mbok Sri untuk membereskan rumah. Kasian dia, kalau harus membereskan rumah sebesar ini seorang diri, sedangkan umurnya sudah hampir di atas 50an.
Aku langsung ke dapur untuk mengambil sapu dan perlengkapan lainnya. Tapi saat aku tiba di sana, Mbok Sri langsung mencegahku.
“Eh nggak usah neng, biar si Mbok aja” Cegahnya sambil merebut sapu yang sedang kupegang.
“Biarin Mbok, lagian aku jenuh gak ada kerjaan. Mending bantuin Mbok beres-beres kan?” Aku mencoba mengambil sapu itu kembali.
“Eh eh gak usah neng, hmmmhh.. Neng Vio beneran mau bantuin Mbok?” Aku hanya mengangguk.
“Gini aja, Neng tolong anterin makanan ini ke kamarnya Wendy. Mau??”
“.....” Seperti biasa jika bingung, aku hanya menggaruk-garuk kepala.
“Kalau gak mau mah gak usah, nanti biar si mbok aja yah” Ucapnya sambil meninggalkan ku, dan menyiapkan makanan untuk Wendy.
“Eh iya sini Mbok, biar aku aja deh” Aku menghampiri si Mbok.
Dan akhirnya aku mengantarkan sepiring nasi, semangkuk sup dan segelas air putih untuk Wendy. Aku membawanya dalam nampan dan berjalan sangat hati-hati, melewati setiap anak tangga yang harus aku lalui.
Kulihat pintu kamarnya sedikit terbuka, jadi aku gak perlu repot-repot mengetuk pintunya.
“Kak Wendy??” Panggilku, sambil melongokan kepalaku di celah pintu yang sedikit terbuka.
Terlihat Wendy dengan menggunakan kaos hitam dan celana pendek berwarna coklat, sedang duduk menghadap ke arah luar jendela sehingga membelakangiku.
Dia menoleh kebelakang. “Eh kamu Vi !” Ucapnya saat menyadari keberadaanku.
Rambutnya yang agak gondrong terlihat acak-acakan.
“Ini Kak makanannya. Aku taro di meja ya” Aku berjalan masuk ke dalam kamar itu. Kamar yang cukup rapih untuk kamar seorang cowok.
Dindingnya yang berwarna biru membuat cahaya dari jendela terpantul dan menimbulkan suasana yang terang. Lukisan-lukisan hasil tangan Wendy sendiri pun banyak terpajang di dalamnya. Terampil sekali tangannya menggoreskan coretan-coretan itu menjadi sebuah gambar yang mengagumkan.
Ku taruh makanan itu di meja yang terletak tak jauh dari pintu kamarnya. Sambil terus mengamati lukisan-lukisan Wendy, aku pun melangkah ke luar kamar, tapi tunggu dulu.. ada lukisan yang menarik perhatianku dan menghentikan langkahku.
Lukisan seorang wanita memakai gaun berwarna ungu sedang duduk bersender di dahan pohon yang rindang, tapi kenapa di bagian wajah wanita itu kertasnya tampak rusak dan robek. Aku makin mendekati lukisan itu, ingin tau siapa wanita yang ada di lukisan tersebut.
“Itu Dira Vi” Suara berat Wendy mengagetkanku.
“Oh iya maaf Kak, aku udah lancang”
“Hmmhh.. nggk kok Vi, santai aja. Lagian udah gak penting lagi, besok juga udah mau aku buang lukisan itu” Wendy beranjak dari duduknya dan mencopot lukisan itu dari dinding.
Dia lalu meletakannya di belakang pintu.
“Loh kenapa?” Pertanyaan bodoh terlontar dari mulutku.
“Aku udah mau lupain semua tentang Dira. Semuanya...” Wendypun duduk di tepi ranjang tepat dimana aku berdiri tak jauh darinya.
“Kenapa?” Lagi-lagi pertanyaan bodoh yang aku lemparkan, seolah-olah aku selalu ingin tau masalahnya.
“Dia bukan cewek yang baik Vi. Eh duduk sini, jangan berdiri terus, kan pegel” Dia mempersilahkan aku duduk di kursi yang terletak tak jauh dari meja tempat aku menaruh makanannya tadi.
Kini aku duduk berhadapan dengannya.
Wajah Wendy masih bengkak dan biru-biru, tapi sudah lebih baik dibandingkan keadaanya waktu tadi malam.
“Udah mendingan Kak kondisinya?”
“Udah Vi, makasih yah udah mau ngobatin lukanya.” Aku hanya mengangguk dan menunduk, tidak berani membalas tatapan wajahnya.
“Kamu tau gak siapa yang udah ngelakuin ini sama Kakak?”
Aku menggelengkan kepala.
“Ini perbuatan Dira”Ucapnya lemah, namun sontak membuat jantungku berdegup kencang.
“Gak mungkin Kak. Masa dia tega ngelakuin hal itu sama Kakak” Ucapku seolah-olah seperti sedang membela Dira.
“Ya ini memang sulit dipercaya. Tapi aku udah kenal Dira 3 tahun Vi. Aku tau dia itu cewek yang bisa ngelakuin hal apa aja untuk dapetin keinginannya”
“Emank apa yang dia pengen sampai dia ngelakuin hal ini sama Kakak?”
“Dia gak mau putus sama aku Vio. Tapi aku udah gak bisa maafin dia, aku udah tau semuanya. Dia udah tega ngehianatin aku dengan selingkuh sama beberapa cowok bahkan.. bahkan...” Ucapannya terhenti.
“Bahkan apa Kak?”
“Bahkan aku mergokin dia di hotel sama cowok lain, kebetulan waktu itu aku lagi ngadain pameran lukisan di sana” Geram Wendy, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Aku tidak komentar apa-apa. Yang pasti aku bingung harus bersikap seperti apa.
“Hmmhh..” Wendy mendengus.
“Sabar ya Kak” Hanya kata itu yang mampu aku lontarkan.
Wendy tersenyum kepadaku.
“Kamu hebat Vi, bisa setegar itu. Kalau aku jadi kamu, aku gak tau harus kayak gimana. Gak mungkin aku bisa setegar kamu” Kata Wendy sambil mengacak-acak rambutnya.
“Segalanya akan mungkin terjadi jika kita tidak menyerah pada suatu masalah” Ucapku
“Kamu bener Vi”
“Hah apanya yang bener Kak?”
“Ya kata-kata kamu tadi Vio” Ucapnya setengah tertawa.
Aku hanya tesenyum malu.
“Maaf ya Vi, aku jadi cerita sama kamu, aku gak tau harus cerita sama siapa lagi. Kayaknya cuma kamu yang ngerti perasaan aku karena kamu mengalami hal yang sama kayak aku” Suara berat itu terdengar sangat lemah.
“Iya Kak” Tiba-tiba dia menatap wajahku dan tersenyum. Aku langsung menunduk malu.


JJJJ

“Aku kangen sama kamu Vio”
Tak sadar air mata mulai membasahi pipiku.
Mata ini entah kenapa tidak dapat membendung air mata yang sudah berhasil aku tahan selama beberapa hari, hanya karena mendengar suara itu, suara Eza. Aku juga kangen sama kamu, sama suara kamu, semua tentang kamu Eza.
“Gimana kabar istri kamu?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan, dan berusaha menahan suaraku agar tidak terdengar seperti menangis.
“Baik.” Jawabnya singkat.
“Oh syukurlah”
“Aku gak bisa lupain kamu Vi. Aku gak bisa mencintai Istriku sama kayak ke kamu Vi. Aku salah Vi, aku gak bisa maafin diriku sendiri.”
“Udahlah Za, aku gak suka kamu menyesali semua keputusan yang udah kamu ambil dan kamu jalani. Jalani semuanya Za, aku juga bakal jalanin hidup aku yang sekarang”
“Oke, tapi aku mau nanya satu hal sama kamu, dan aku mohon kamu jawab dengan jujur!” Nada suaranya tampak serius.
“Nanya apa?”
“Violeta, apa kamu masih sayang ma aku?” Tanyanya lirih.
Aku terdiam mendengar pertanyaannya.
“Vio, kamu masih sayang ma aku? Atau kamu emang udah gak mempunyai rasa itu karena kesalahan aku yang udah begitu besar”
“Aku bukan orang yang mudah membuang rasa cinta aku Za. Kamu tau itu kan?”
“Jadi artinya kamu masih sayang ma aku?” Ucapnya.
“Iya dan aku akan mencoba menghapus rasa itu”
“Kenapa?”
“Karena kita udah terpisah sama pagar yang sangat tinggi. Aku harap kamu ngerti”
“Ya aku tau Vi, seenggaknya saat ini kamu masih sayang ma aku, itu udah cukup bikin hati aku tenang”
“Iya Eza” Jawabku singkat. Eza mungkin tidak mengetahui kalau saat ini wajahku telah banjir oleh air mata.
Tiba-tiba Janis masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiriku yang sedang terduduk di kursi meja belajar.
“Lo kenapa?” Herannya sambil menatap mataku yang banjir air mata.
Aku menggelengkan kepala ke arahnya.
“Ya udah, salam buat istri kamu ya Za” Aku mengakhiri percakapanku dengan Eza, dan aku menutup sambungan telfon.
Janis langsung merebut Hp dari tanganku. “Oh jadi Eza yang nelfon lo?”
Aku hanya mengangguk lemah.
“Ahh kurang ajar banget ini cowok, gak mikir apa udah punya istri. Urusin aja istrinya sana, ngapain ngehubung-hubungin lo lagi !!” Ucapnya sambil menaruh Hp ku kasar di meja belajar.
“Gue gak tau” Jawabku terisak.
“Lo juga sih, udahlah jangan mau dihubungin lagi sama dia. Lo tuh terlalu baik, dia jadi ngelunjak dan gak sadar sama kesalahannya” Janis menghapus airmata di wajahku dengan tangannya.
“Tapi Jan, gue masih sayang ma dia. Sama kayak rasa sayang lo ke mantan lo, Bima”
Janis merangkul pundakku.
“Itu yang gue gak mau Vi. Gue gak mau lo bersikap bodoh kayak gue, yang gak bisa buka hati buat cowo lain dan masih betah sama cintanya Bima yang udah bukan siapa-siapa gue lagi. Capek gue 2 tahun kayak gini terus Vi”
“Tapi lo hebat Jan?” Kataku. Janis heran dan langsung memandang heran ke arahku.
“Apanya yang hebat? Ngaco lo!!”
“Ya hebat, lo punya rasa sayang yang hebat dan luar biasa bertahan ampe sekarang walaupun dia udah nyakitin lo” Ucapku sambil memandangi wanita cantik berambut panjang dan berkulit putih ini, badannya memang agak sedikit berisi tetapi jauh dari istilah gemuk.
Janis hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. Dia lalu merebahkan dirinya di kasur.
“Ya mungkin menurut lo hebat, tapi ini sebuah kebodohan”
“Hehehe.... dari dulu emang gue lebih pinter dari lu” Tiba-tiba sebuah bantal hinggap di kepalaku.
“Sial !!!” Ucap Janis sambil tertawa.
“Maen lempar-lempar aja si lo? Eh Sasya mana?” Tanyaku.
“Biasalah jalan sama cowoknya” Jawabnya singkat, dan kulihat sepertinya dia sedang berusaha memejamkan mata.
Tiba-tiba Hp ku bergetar, ada pesan masuk.

From : Eza my-ex
Aku syg kamu Violleta Fiena. Smpai kapanpn rasa ini gak akn brbh..
Luv u..
Forever n one :*

Aku tersenyum saat membacanya, ini sebuah kesalahan, kesalahan yang teramat sangat.


JJJJ
Spinning Heart Heart