Cinta Itu Mengapa Menyakitkan?
Semua orang berdesak-desakan.
Bau keringat dimana-mana, anak kecil yang kepanasan menangis meraung-raung membuat suasana makin tidak mengenakan dan pengap.
Hari Senin memang selalu seperti ini, bis tujuan Jakarta sangatlah penuh dan padat penumpang, bahkan aku sendiri tidak mendapat kursi duduk, dan aku harus berdiri berbarengan dengan mereka yang bernasib sama denganku.
Kejadian ini mengingatkanku pada masa setahun yang lalu.
Saat itu hari masih pagi, namun penumpang bis sudah sangat penuh. Aku harus berdiri karena semua tempat duduk telah terisi. Aku hanya berharap ada seseorang yang mau mengalah dan memberikan tempat duduknya untukku.
Hmmh.. tapi tampaknya gak mungkin, sebagian penumpang yang duduk, tertidur karena mungkin hari masih sangat pagi. Jarak Bogor-Jakarta bisa memakan perjalanan waktu selama satu jam, kalaupun tidak macet, tapi itu membuat tulang persendian kakikku lumayan pegal.
Tiba-tiba ada seseorang yang mencolek pundakku. Aku sedikit terperanjat dan langsung menengok ke belakang Ternyata seorang bapak-bapak yang badannya sangat kekar tampak seperti Ade rai mempersilahkanku untuk duduk di tempatnya.
“Terima kasih” Ucapku sambil tersenyum. Namun agak ngeri juga melihatnya.
“Sama-sama Dek, kasian kalau anak cewek harus duduk berdiri” Ucapnya.
Aku hanya tersenyum, lalu duduk di tempatnya tadi.
Ternyata di sebelahku ada seorang cowok berkacamata dengan memakai sweater abu-abu dan celana pendek selutut. Dia seperti tidak menggubris keberadaanku di situ sama sekali, wajahnya tetap memandang ke luar kaca.
Akhirnya aku bisa melemaskan otot kakiku, setidaknya masih ada orang yang baik hati memberikanku tempat duduk.
“Tadinya gue yang mau ngasih lo tempat duduk, tapi keduluan sama Bapak yang baik hati itu” Aku yang sedang melamun agak sedikit kaget dan langsung melihat ke arah cowok disebelahku itu.
“Barusan lo yang ngomong?” Tanyaku bodoh, karena aku melihat wajahnya tetap menghadap ke arah luar.
Dia hanya mengangguk.
“Ohh..” Ucapku singkat dan bingung sambil menggaruk-garuk dahiku.
Tiba-tiba dia menengok ke arahku dan tertawa kecil.
“Eh kenapa ketawa?” Kataku sambil memandang heran ke arahnya.
“Nggak kenapa-kenapa, muka lo lugu amat sih!” Ucapnya kembali.
“Lugu gimana maksudnya mas,eh bang,ehhh kak?”
“Panggil gue Eza, kayaknya kita seumuran”
“Oh iya Eza, gue Vio” Upps sepertinya dia gak bertanya tentang namaku. Tapi ya udahlah...
“Mau kemana Vi?” Pertanyaan basa basi yang sering aku dengar dari orang lain.
“Pergi ke kampus” Jawabku singkat.
Begitulah, selama perjalanan kami berdua mengobrol ke sana kemari, sampai pada akhirnya dia cerita tentang kehidupan pribadinya. Sangat aneh memang, orang yang baru aku kenal langsung mempercayaiku begitu saja untuk menceritakan sesuatu hal yang sebenarnya sangat pribadi.
Entah kenapa aku sedikit menaruh rasa kagum terhadapnya, kegigihannya untuk membuat orangtuanya bangga sangat aku acungi jempol, dia rela pergi merantau kemana-mana untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Pada akhirnya di Jakarta ini dia mendapatkan pekerjaan yang lumayan layak, yaitu menjadi seorang desain grafis di salah satu perusahaan swasta.
“Macetnya parah. Mending dengerin musik aja nih” Ucapnya sambil memberiku sebelah headset ipod nya.
Aku tersenyum dan menerima tawarannya.
Sambil mendengarkan lagu, aku sempat-sempatnya mencuri-curi pandang ke arah Eza, dia tampak sangat manis, matanya yang tajam memang tersembunyi di balik kacamatanya namun saat dia menatapku, ketajamannya itu masih terasa dan membuat hatiku sedikit bergetar.
Terdengar lantunan lagu dari James Blunt yang berjudul Carry your home, Eza juga tampak ikut bernyanyi tanpa suara.
Trouble is her only friend and he’s back again
Makes her body older than it really is
She say’s it’s high time she went away
No one’s got much to say in this town
Trouble is the only way is down
Down.. down..
As Strong as you were, tender you go
I’m watching you breathing for the last time
A song for your heart, but when itis quiet,
I know what it means and i’ll carry yor home
I’ll Carry your home
Tiba-tiba hp ku bergetar sehingga menyadarkanku dari lamunan saat masa perkenalan aku dengan Eza dulu sekitar setahun yang lalu. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku tau ini bukan waktu yang tepat.
Masih sambil berdiri dan bersandar pada salah satu sisi kursi bis, aku membuka pesan sms yang yang tadi aku terima. Ternyata itu pesan dari Wendy.
From : Wendy’my brothers ^^
Vio km pst lg djln ya?
Maf td kk msh tdr, jd kk gtw klu km dah brgkt
Hti” y djln vi, mksh ya udh mw jd tmn crht kk..
Nnti kt crht”n lgi ya klu kmu ke sni, see u J
Aku tersenyum membacanya.
Selama beberapa hari ini aku menjadi lebih dekat dengan Wendy, dia menjadi lebih sering mencurahkan isi hatinya kepadaku. Masalah dengan Dira membuat hidupnya kacau, dan dia butuh pegangan, saat itulah aku ada dan dia membutuhkanku untuk membuatnya tidak terjatuh dan berpegang pada diriku.
Hp ku kembali bergetar, ada pesan masuk lagi. Dan ternyata masa lalu itu masih terus mencoba membayangiku.
From : Eza my-ex
Pagi, selamat beraktivitas Vio
Luv u ^^
JJJJ
“Udah ceria lagi ya non?” Ucap Ady saat menghampiriku yang sedang duduk di lantai lorong kampus.
Bau parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidungku.
“Ya ampun Dy, lo tuh kalau pake parfum sebotol langsung abis yah”Kataku sambil menutup hidung, bau parfumnya makin jelas kucium saat dia duduk disebelahku.
“Ah lebay lo. Ini tuh Wangi kali bukan bau, gak usah nutup hidung kayak gitu” Kata Ady
“Baunya bikin gue pusing tau gak !!” Ucapku sambil cemberut.
“Hehehe... protes mulu nih si Non”
“Kana mana?”
“Loh kok malah nanya gue, dia kan soulmate lo.” Jawab Ady
“Ih lo mah, kan tadi lo se kelas ma Kana. Gue lagi nungguin dia, katanya mau makan bareng di kantin”
“Mana gue tau.. Sms dong Non Vio sayang, jaman kan udah canggih sekarang heuuuu !!” Ucapnya sambil mencubit pipiku.
Aku menepis tangannya dan meninju pelan pundaknya.
Selalu saja begitu jika aku sedang berdua dengan sahabat terkonyolku itu.
Aku pun merogoh Hp yang ku simpan di kantong celanaku, ternyata ada satu pesan yang aku terima.
Hmmhh ternyata ada pesan MMS masuk, siapa yang mengirimkannya. Aku buka pesan itu dan aku sedikit kaget melihatnya. MMS itu ternyata dari Eza.
“Kenapa Vi?” Tanya Ady karena mungkin secara tak sengaja aku mendengus kecil.
“Ini liat Dy” Ucapku sambil memperlihatkan gambar yang ada di layar Hp ku.
Ady terlihat sedikit kaget melihatnya saat kutunjukan foto tangan yang memiliki tato berukir namaku ‘VIOLETA’. Lalu Ady tertawa kecil, entah apa yang lucu, tapi aku juga ikut-ikutan tertawa.
“Lo hebat ya Vi?”
Aku mendelik heran ke arahnya
“Lo udah bikin cowok itu tergila-gila sama lo, walaupun dia udah punya istri. Dan yang bikin gue salut, kebaikan lo itu udah bikin Eza ngerasa bersalah banget dan dia gak bisa maafin dirinya sendiri. Kebayang muka istrinya Eza saat tau suaminya ngukir nama cewek lain di tangannya”
“Ini tuh sebuah kesalahan Dy, gue takut kalau gue jadi perusak rumah tangga orang”
“Perusak? Bukannya mereka sendiri yang udah ngerusak hidup lo?”
“Hidup gue gak rusak Dy, gue masih baik-baik aja kan ??”
“Tapi otak lu kayaknya rusak deh Vi, kok lemotnya makin parah ya” Ledek Ady
“Sial !!!” Aku terus memukulinya, tapi Ady malah tertawa dan makin kencang saja tertawanya.
“Ehhhhhhh bocah-bocah, kalian pada ribut amat sih, makan yuk Vi.. laper!!!” Tiba-tiba Kana datang dan langsung saja menarik tanganku.
“Ada juga lo yang kemana aja, gue dari tadi nungguin lo huhh...” Kataku sambil berdiri. Ady juga tampaknya sudah kelelahan menertawaiku dan diapun berdiri.
“Ikut makan juga Dy?” Tanya Kana.
“Nggak deh gue mau ke perpus”
“Ohh yaudah.. yuk Vi, laper gue !!” Aku mengangguk dan menjulurkan lidah kepada Ady.
“Dasar bulet !!!” Ucapnya sambil mengacak-acak rambutku.
Lalu kami beranjak pergi dan berpisah.
JJJJ
Hidupku menjadi lebih ceria saat ini, walaupun Eza masih sering mengirimkan sms kepadaku tapi sekalipun aku gak pernah membalasnya. Ya itu saran dari Ady..
Awalnya dia sedikit geram saat mengetahui kalau Eza masih sering menghubungiku bahkan dia mau menelfon Eza dan memberinya peringatan agar tidak menganggu hidupku lagi. Tapi aku mencegahnya, aku sudah berjanji pada Eza kalau aku gak akan memutuskan hubungan pertemanan kita.
“Okk.. tapi gue yakin suatu saat nanti lo bakal sadar kalau lo emang harus ngilang sama sekali dari hidupnya Eza” ucap Ady sambil menatapku tajam.
Aku hanya mengangguk dan menunduk, entah kenapa saat Ady marah seperti ini aku selalu gak berani menatap matanya.
“Iya Dy, gue gak akan ngeladenin dia lagi, cuma gue minta lo jangan negur dia kayak gitu. Biarin aja, nantinya dia capek sendiri kok” Ucapku lemah.
“Asal lo jangan ngeladenin dia lagi, janji !!!” Aku menyilangkan kedua jariku kepadanya.
Dan semenjak saat itulah aku mencoba menjauhi Eza, tapi tampaknya itu tidak membuat Eza mundur, dia masih saja selalu mengirimkan sms-sms nya dari mulai perhatian sampai puisi-puisi indah di dalamnya.
Aku selalu berusaha untuk tidak terhanyut dan kalah oleh perasaan. Aku mencoba menguburnya dalam-dalam, aku gak mau merebut suami orang. Aku merasakan perasaan Istrinya Eza, aku membayangkan bila aku ada di posisinya, pasti bakal sakit sekali.
Untunglah ada sahabat-sahabatku yang selalu memberikan kebahagiaan yang teramat sangat sehingga aku bisa melupakan rasa sakit hatiku. Apalagi di tambah dengan hadirnya Wendy yang saat ini menjadi tempat keluh kesahku, begitupun sebaliknya aku juga menjadi tempat keluh kesahnya. Umurnya yang dewasa selalu memberikan nasihat yang tidak menggurui namun bisa membuatku tenang.
“Vio, ini buku yang lo cari kan?” Kana menghampiriku di balkon lantai atas.
“Oh iya, lo nemu dimana?” Ucapku gembira saat melihat buku novel karya N.H Dini yang berjudul ‘Namaku Hiroko’ sedang dipegangnya. Kebetulan novel itu sudah lama hilang dan aku ingin sekali membacanya satu kali lagi bahkan berkali-kali lagi.
“Bukan nemu, tapi punya gue” Tiba-tiba Ady muncul dari balik pintu.
“Lah kok ada elo? Ngapain lo ke sini?”
“Mau nengokin non Vio hehe...”Ucapnya sambil tertawa.
“Ihh, kayak gak sering ketemu gue aja. Eh kok lu punya novel itu juga?” Tanyaku.
Bukannya menjawab, Ady malah menunjukan kesombongan dirinya dengan memukul-mukul dadanya.
“Nih Vi, gue mau ke bawah dulu ya, ngambil minum buat kita” Kana memberikanku buku itu lalu langsung pergi meninggalkan kita berdua.
“Tadi kita ngadain kerja kelompok di rumah gue, pas gue ajak Kana ke perpus pribadi gue tiba-tiba dia ngambil novel itu, trus katanya lo seneng banget baca novel itu.”
“Iya Dy, gue udah baca bukunya sampe abis, tapi pas gue pengen baca lagi eh gue lupa naronya dimana” Ucapku sambil terus memandangi buku itu.
“Dasar teledor”
Suara langkah kaki terdengar mendekat sepertinya langkah kaki itu agak berlari.
“Vio.. Vioo..” Terdengar seseorang memanggilku.
“Eh kenapa lo Na, ampe buru-buru kayak gitu” Ucapku saat menyadari ternyata orang itu Kana.
“Ini ada telfon” Ucapnya tergopoh-gopoh.
“Ohh.. dasar kirain ada apa,” Aku mengambil Hp ku dari genggaman Kana, dan ada seseorang yang memanggilku namun menggunakan private number.
“Siapa yah?” Ucapku sambil memandang heran ke arah Kana dan Ady.
“Angkat aja Vi” Kata Ady.
Aku mengangkat telfon itu.
“Halo Vio !!” Suara wanita itu langsung membentakku.
“Iya, ini siapa?”
“Gue istrinya Eza. Dan gue minta lo jangan ganggu suami gue lagi !!!” Bentaknya.
“Siapa yang ganggu suami lo, gak ada sedikitpun niat buat gue ngerebut Eza dari sisi lo” Jawabku tak terima atas tuduhannya.
Tiba-tiba Ady langsung mendekat dan merebut Hp dari tanganku. Kana hanya diam dan tercengang melihatnya.
“Denger ya nyonya Eza yang terhormat.. jangan salahin Vio dalam hal ini, salahin suami brengsek lo itu. Selama ini dia yang terus ngehubungin Vio !! Anggep aja ini semua karma buat kalian yang udah nyakitin Vio !!!” Kata Ady dengan nada keras.
Kana merangkul pundakku. Aku hanya diam gak bisa berkata apa-apa.
“Ok.. dengan senang hati Vio bakal ganti nomer, dan gak akan muncul di kehidupan kalian lagi. Harus lo tau Vio udah jadi milik gue, dia tunangan gue dan gak mungkin dia ngerebut suami lo !!!” Aku agak sedikit kaget mendengar perkataan Ady.
“Itu cuma pura-pura Vi” Bisik Kana setengah tertawa.
Tampaknya Ady sudah mengakhiri percakapannya dengan istrinya Eza. Dia menatapku tajam, tatapan yang sangat tidak ku sukai.
“Gue udah bilangkan sama lo, hal ini pasti terjadi”Ucapnya sambil memberikan Hp kepadaku.
“Iya Dy, gue tau gue yang salah”
“Mau gak mau sekarang lo harus ganti nomer, supaya hidup lo tenang” Ucap Ady sambil berlalu.
“Lo mau kemana Dy?” Tanya Kana
“Gue mau balik !!” Jawabnya singkat, lalu pergi.
Beberapa detik aku dan Kana membisu.
Lalu aku memandang ke arah Kana.
“Dia bukan kesel sama lo, tapi dia cuma kesel sama istrinya Eza” Ucap Kana sambil membereskan rambutku. Aku sedikit tenang mendengarnya.
Tiba-tiba Hp ku kembali bergetar.
Kali ini Janis memanggil.
“Halo, kenapa Jan?”
“Vio lo harus ke Bogor sekarang juga, Kak Wendy kecelakaan dan sekarang kondisinya masih kritis !!”
“APAAA?????”
JJJJ